Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.13


__ADS_3

Arlene benar benar menghabiskan banyak uang untuk membeli beberapa potong dress dan sepatu, juga tas bermerek yang selama ini hanya jadi angan angannya saja. Dia tertawa bahagia, entah kesialan ataupun keberuntungan, apapun itu sudah membuat dirinya gelap mata. Benar benar tidak menyia nyiakan kesempatan yang datang tiba tiba.


Beberapa barang kebutuhannya juga dia beli, pakaian Alleyah tidak luput dari daftar belanjaannya, Arlene belanja sepuasnya dan telah menghabiskan banyak uang. Ditambah selera Zoya teramat tinggi dan Arlene hanya berusaha mengimbanginya. Dan tentu saja memakai semua itu uang pemberian Dean.


"Kakak ipar udah beli baju, tas, sepatu, baju Alleyah juga, tadinya aku mau beliin kakak ipar eh malah belanja sebanyak ini dan gak mau aku bayarin." celetuk Zoya didepan meja kasir saat Arlene membayar semua belanjaannya.


"Makasih Zoya, tapi kakak bayar sendiri saja kecuali uang kakak tidak cukup." sahutnya dengan nada bercanda, walaupun sebenarnya juga dia takut kalau uangnya benar benar tidak cukup.


Zoya tertawa, "Kakak bisa aja kalau bercanda, mana mungkin gak cukup."


Arlene pun hanya mengulas senyuman, tawa Zoya membuat hatinya meronta.


"Eh kakak ipar gak beliin baju buat kak Dean?"


Arlene tersenyum lagi, dalam hatinya berkata untuk apa membelikan Dean pakaian. Uang ini darinya ... Kenapa jadi kembali kepadanya walau hanya berbentuk barang.


"Kakakmu itu hampir setiap minggu membeli pakaian," ucapnya bohong, dengan kedua manik gelapan dan berakhir pada store Dasi. "Mungkin kali ini aku akan membelikannya Dasi." bohongnya lagi dengan menunjuk ke arah toko di depan mereka.


"Dasi?"


"Huum ..., Ayo kita ke sana." Arlene menarik tangan Zoya dan langsung memasuki toko perlengkapan.


Tentu saja hanya sandiwara agar Zoya lagi lagi tidak curiga, Arlene memilih dasi berwarna merah, kedua maniknya membola karena harga sebuah dasi hampir seharga tiga pakaian yang dia beli sewaktu dulu. Namun lagi lagi dia harus mengimbangi gaya hidup keluarga Mcdermott yang kaya.


"Kurasa ini cocok!"


"Kakak ipar yakin? Kak Dean kan gak suka warna merah." Zoya mulai heran lagi.


Mati ...!!


"Ya aku tahu ... Aku hanya mengetesmu saja!" kilah Arlene dengan mencuil hidung Zoya.


"Ih ... Bisa aja kakak ipar ini, sampai kaget lho aku, ku kira kakak ipar memang tidak tahu warna kesukaan kak Dean."


Arlene terkekeh, "Mana mungkin aku tidak tahu Zoya, aku hanya menggodamu saja."


Setelah lama memilih dan memilah dasi, akhirnya Arlene memilih dasi dengan warna hitam dengan corak gold, warna yang menurutnya paling aman dibandingkan harus menebak nebak warna dan mendapat protes lagi dari adik kesayangan Dean itu.

__ADS_1


Diam diam Arlene menelan ludah saat membayar tagihan, benar benar takut jika uang nya tidak cukup lagi. Terlihat kasir berhasil memproses kartu debit miliknya. Dan Arlene pun bisa bernafas lega.


Hampir tiga jam mereka menghabiskan waktu berbelanja, perut sudah mulai keroncongan minta di isi.


"Kakak ipar lapar. Kita makan yuk."


Arlene asal mengangguk saja, fikirannya terlalu berat memikirkan jika uang yang dia dapat itu habis, apa ayang akan di lakukannya nanti.


Dan akhirnya mereka kembali berjalan ke arah restoran yang tidak terlalu jauh itu guna mengisi perut yang terasa keroncongan sejak tadi, bahkan mereka berua tidak sempat sarapan ketika di rumah.


Zoya benar benar berselera tinggi, dia mengajak Arlene masuk kedalam restoran mahal dan makan disana tanpa memikirkan soal harga. Dia juga memiliki berbagai macam kartu debit dan sudah tentu tidak memiliki limit.


Arlene kembali dibuatnya menganga, sajian makanan yang kini terhidang di depan matanya benar benar mahal.


"Ayo kak ... sebelum kita pulang, kenyangkan dulu perut kita, kalau di mansion kita harus menunggu nenek untuk makan, kita akan lebih kelaparan nanti." ucap Zoya dengan menyuap makanannya.


"Kau benar Zoya!" Arlene terkekeh, akhirnya dia memiliki teman yang bisa merasakannya, menunggu sang nenek disaat perutnya sudah amat perih. Namun juga dia tidak bisa sekenyang biasanya seperti saat ini.


Lagi lagi makanan yang berada di piring itu hanya sedikit, dan tentu saja tidak akan membuatnya kenyang.


"Oh ya kakak ipar, kak Dean tidak akan marah kan, uangnya kita habiskan?" ujarnya menohok.


"Hm ... aku tidak tahu juga!" Arlene tertawa dengan terpaksa karena menutupi dirinya yang nasibnya tidak jelas.


Baiklah Arlene, kau harus tenang. Setelah ini kau berhenti, jangan habiskan semuanya. Atau kau akan kembali menggembel. Arlene membatin, dengan tangan merogoh ponsel dan memeriksa Mobile bangking miliknya, dan terbelalak karena sisa saldonya tinggal sedikit.


"Kenapa kak?"


"Aaah... tidak Zoya, kakak hanya memeriksa pesan dari kakakmu!" ujarnya berbohong, padahal hingga kini dia belum memiliki nomor pria yang membayarnya dengan sangat mahal.


Arlene kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya, entah kenapa selera makannya menjadi berkurang.


"Aku sudah kenyang kak! Ayo kita pulang." ajak Zoya,


Arlene kembali membuatnya membelalak, sisa dipiring Zoya masih setengahnya, begitupula miliknya yang masih ada, bahkan dipiring yang lain juga.


Astaga ... apa aku boleh membawanya pulang saja, sisa makanan ini masih banyak.

__ADS_1


Zoya sudah bangkit, dengan tangan yang sibuk membawa beberapa papar bag. Namun Arlene masih terdiam.


"Kak ayo! Kenapa malah melamun."


"Ahk  ... iya, kau duluan saja ke mobil ya Zoya, aku harus ke toilet sebentar! Perutku sakit tiba tiba."


"Serius?"


"Hm ... daripada nanti dijalan pulang dan repot, lebih baik di sini saja."


"Baiklah kalau begitu! Kakak tidak ada yang ingin di beli lagi?"


"Tidak Zoya, ini sudah banyak!" Arlene bangkit dengan memegangi perutnya.


Dan Zoya mengangguk, lantas dia keluar dan melambaikan tangan padanya, Arlene melambaikan tangan membalasnya, dan melihat Zoya berjalan semakin menjauh. Dia kembali duduk dengan menghela nafas.


"Pelayan!" Ujarnya dengan memanggil salah satu walters.


Sosok pria muda menghampirinya dan bertanya padanya,


"Apa boleh aku membungkus sisa makanan ini?"


Pria muda tersebut mengernyit, baru kali ini ada pengunjung yang meminta sisa makanannya di bawa pulang. Melihat pria muda heran, Arlene kembali berbohong.


"Aku membutuhkannya untuk makanan anjing terlantar disekitar rumahku." jelasnya lagi.


Pemuda itu lantas mengangguk, lalu dia kembali ke belakang dengan membawa piring piring tersebut.


"Tunggu sebentar nyonya, akan aku siapkan dulu." ujarnya.


"Terima kasih!"


Tak lama kemudian pria tersebut kembali dan bungkusan ditangannya, dan memberikannya pada Arlene yang masih duduk ditempatnya.


"Silahkan nyonya!"


"Terima kasih yaa!" ujarnya dengan mengepalkan sesuatu pada tangan pemuda muda itu lalu keluar. Pria itu tampak tersenyum,  dan dia melihat berapa tips yang diberikan oleh Arlene karena membantunya.

__ADS_1


"Sial ... pelit sekali nyonya itu. Ini hanya cukup untuk membeli mie instan!"


__ADS_2