Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.24


__ADS_3

Arlene mendorong Dean dengan terus menerus menangis, dia terus menggedor gedor pintu kamar mandi dimana teriakan Alleyah semakin kencang.


"Kau fikir aku akan diam saja seperti orang bodoh saat nenekmu menyakiti putriku Dean! Kau bahkan tidak bisa menolong!"


Semua orang yang tengah tertidur lelap pun terbangun, Debora keluar dari kamar dan langsung menuju ke arah keributan, begitu juga Sorra. Hanya Zoya yang tidak ada, karena kamarnya yang terletak dilantai tiga dan pasti tidak akan terdengar apa apa.


"Apa yang kau lakukan Arlene?" tanya Debora yang berdiri di tiang pintu masuk kamar ibu mertuanya.


"Bu ... tolong bu, nenek membawa putriku didalam. Dia sedang sakit!"


Tanpa disadari, ujung bibir Debora justu terangkat licik. Saat tahu sang ibu mertua dan berharap wanita tua itu melakukan hal buruk pada Alleyah.


"Kau menuduh Nenek Arlene!" Sentak Sorra yamg juga berdiri disamping ibunya, "Kau benar benar wanita tidak tahu diri! Kau fikir Nenek sekejam itu pada cicitnya sendiri." sambungnya lagi.


Debora melipat kedua tangannya dengan penuh kesombongan, "Kecuali itu bukan cicit kandungnya, alias bukan anak Dean putraku."


Sorra yang kini mengembangkan senyuman mendengar ucapan sang ibu,


"Ibu benar Bu, kufikir juga seperti itu, dia bukan anak Dean,"


Sementara Dean berdecak karena keributan terus menerus dari ibu dan kakak perempuannya yang selalu berulah pada Arlene. Wanita berambut coklat itu menatap keduanya dengan sengit, dia tidak peduli jika saat itu semuanya terbongkar asalkan tidak ada hal buruk menimpa putrinya.


"Terserah kalian bicara apa! Aku tidak peduli, dan asal kalian tahu saja ka---"


Grep!


Ucapan Arlene terhenti karena Dean mencegahnya dengan menarik lengannya serta memeluknya.


"Tenanglah ... jangan bersikap bodoh dengan mengacaukan semuanya sekarang! Kau fikir jika mereka tahu sekarang, mereka akan melepaskan Alleyah, atau jangan jangan akan berbuat yang lebih buruk saat tahu hal yang sebenarnya! Kau harus tenang Arlene, aku akan pastikan Alleyah baik baik saja." ujarnya dengan mengelus punggungnya, berbisik lirih tepat ditelinga Arlene.

__ADS_1


"Ini semua gara gara kau Dean! Aku akan membencimu jika sesuatu terjadi pada anakku, dan akan membongkar semuanya jika seseatu terjadi pada Alleyah, dia tidak tahu apa apa Dean." lirih Arlene terus memukul dada Dean dengan keras.


Nyatanya pelikan Dean tidak membuat ibu muda itu tenang, pelukan tanpa arti apa apa selain kebohongan demi tercapainya sebuah siasat dan keberhasilan rencana dengan tujuan Dean


Arlene hanya hanya sebuah alat saja, dimana keadaannya lah yang membuatnya tidak mampu dia tolak. Begitu juga dengan Alleyah yang bahkan tidak mengerti apa apa.


Namun pelukanlah yang justru sangat diperlukan Arlene dalan keadaannya saat ini, pelukan yang mampu menenangkannya dan perkataan semua akan baik baik saja. Belaian Dean yang lembut membuat Arlene sedikit tenang, pukulannya melemah dan tanpa daya dalam pelukan hangat pria yang bahkan tidak punya keberanian melawan di depan keluarganya karena terlalu takut kehilangan semua yang dia miliki saat ini.


Sorra berdecih melihat keduanya yang berpelukan.


"Kalian berdua menjijikan, aku harap Nenek bertindak kali ini."


"Bagus ... Ibu juga berharap nenek melakukannya, hingga perempuan itu membenci Dean dan meninggalkannya tanpa kita melakukan apa apa untuk membuatnya pergi." Cicit Debora pada Sorra, kedua bibirnya mengembang menahan senyuman. Mereka masih berdiri menanti adegan selanjutnya yang dipastikan sesuai harapan mereka.


Jeritan Alleyah masih terdengar dengan suara yang semakin parau saja, begitu juga tangisannya yang semakin melemah, seiring dengan lembutnya tangisan Arlene kini masih berada di pelukan Dean.


Hingga bunyi handle pintu terdengar, Arlene buru buru membalikkan tubuhnya dan melihat pintu itu berderit pelan lalu terbuka lebar. Melihat Miranda yang menggendong Alleyah yang kini terpejam. Wanita berusia 24 thun itu menangis tersedu sedu lalu merebut Alleyah dan mengguncang guncangkan tubuh mungilnya. Gadis itu menggeliat dengan dada naik turun.


"Alleyah ... bangun nak!" Arlene memeluk tubuh gadis mungil yang kini terlelap itu dengan erat, namun suhu tubuhnya sudah tidak seperti sebelumnya, dengan pakaian Alleyah yang terbuka semua. Hanya pampers nya saja yang masih dikenakannya.


"Apa yang nenek lakukan didalam tadi?" tanya Sorra dengan masuk menghampiri neneknya, dia bahkan bisa melihat anak balita itu tidak apa apa.


Miranda tidak menjawabnya, dia mengelap kedua tangan dengan handuk kecil yang tergantung.


"Semua boleh keluar dari kamar ini! Aku ingin istirahat."


semua heran, terlebih Debora dan juga Sorra dengan apa yang di lakukan Wanita nomor satu di mansion itu. Arlene memeluk putrinya yang terlelap dengan nafas lembut dan dada naik turun teratur iru seraya menatap ke arah Miranda, entah apa yang ada difikiran wanita tua itu, kebaiikankah ataukah hanya sandiwara belaka, entahlah yang pasti Arlene tidak bisa menebaknya saat ini.


Miranda tidak mengatakan apa apa lagi selain menyuruh ksemua orang kelluar dari kamarnya, dia sendiri naik kae tempat tidur dan berbaring seolah tidak terjadi apa apa, hanya tangannya lah yang bergerak , mengibas ke arah semua orang dengan kedua mata terpejam.

__ADS_1


Debora berdecak kesal seraya meninggalkan kamar ibu mertuanya, harapannya pupus saat melihat tidak terjadi apa apa pada anak balita yang dikini didalam gendongan Ibunya. Arlene  menoleh pada Miranda yang berada di atas ranjang, perlahan tubuhnya beringsut ke arah lain saat itu juga.


"Jangan lupa tutup pintunya Dean!" ujarnya dengan menarik selimut saat semua orang bergerak keluar.


Dean mengangguk walau Miranda jelas tidak melihatnya, dia merengkuh bahu Arlene dan membawanya keluar dari kamar sang nenek.


"Sebenarnya apa yang dilakukan Nenek sampai anakmu tidur?" tanya Dean saat menutup pintu.


"Entahlah ... aku tidak tahu! Tapi badannya sekarang sudah tidak sepanas tadi." ujarnya dengan menyusut air mata.


Sorra mencekal lengan Dean, hingga langkah keduanya berhenti, "Dengar Dean ... apapun yang kau lakukan tidak akan mengubah keputusan Nenek untuk menikahkanmu dengan Selena, jadi lebih baik kau segera tinggalkan perempuan itu!"


"Ayolah Sorra! Apa kau tidak punya kesibukan lain selain mencampuri urusanku? Dan satu lagi, aku tetap tidak akan menikahi perempuan macam Selena. Kau harus tahu itu!" Sahut Dean.


"Dean ... dengar! Kau ingin Nenek menghapusmu dari daftar ahli waris? Atau kau sudah melupakannya?" sentak Sorra dengan medelik ke arah Arlene.


Sementara orang yang mendapat intimidasi dari semua penghuni mansion terlihat tidak peduli dengan apa yang dikatakan kaka beradik itu, dia memeluk putrinya serta menecup pipinya berkali kali. "Sayangnya Mama...."


Dean bergeming dengan ucapan Sorra, dia mendengus kesal lalu meninggalkan Sorra begitu saja.


"Kakakmu pasti marah?" tanya  Arlene saat mereka menaiki tangga menuju kamar.


"Bukan urusanmu Arlene, semua kekacauan ini karena kau tidak mendengarkanku!" Dean memilih berjalan lebih dulu saat mereka tiba di anak tangga paling atas.


Arlene mengerdik, lalu kembali berjalan mengikutinya ke dalam kamar dan langsung membaringkan tubuh mungil Alleyah yang kini terlelap dengan nyenyak kedalam boks bayi. Sementara Dean terlihat sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Sepertinya aku juga menyesal mengambil pekerjaan ini!"


.

__ADS_1


.


Jangan lupa dukung novel othor yang satu ini, selain yang satu dan yang lain. Lope lope badag buat kalian, makasih.


__ADS_2