
"Dia ... Dia suamiku pak!"
Baron terperanjat, menoleh pada seorang pria yang berdiri menatap mereka. "Tidak mungkin. Kau pasti bohong Arlene!"
"Tidak, untuk apa aku bohong! Dia datang menjemputku. Ya kan sayang?" Arlene menatap pria yang beberapa jam yang lalu dia hindari dengan tatapan mengiba. Tolong aku Dean. Batinnya bicara.
Dean yang sudah 2 kali berubah fikiran itu akhirnya kembali berbalik arah dan melihat taksi yang di tumpangi Arlene keluar dari bandara.
Hingga akhirnya Dean yakin jika Arlene berada di bandara. Hampir dua jam dia mencari keberadaan Arlene di seluruh Gate pemeriksaan. Saking pintarnya Dean langsung menuju pada loket pemesanan tiket dan bertanya di sana.
"Bisa aku tahu informasi tentang kepergian seseorang. Dia ... Dia istriku, kami sedang bertengkar dan dia pergi membawa putriku. Aku sangat khawatir!" ujarnya pada seorang petugas tiket.
Wanita tinggi semampai itu menatapnya lalu mengangguk. "Siapa namanya, tanggal lahir, no ID card?"
Dean merasa lega, "Arlene ...!"
Sial ... Aku tidak tahu nama panjangnya. Batinnya.
"A.R.L.E.N.E ...?"
"Ya ... Pengejaannya betul, dia bersama seorang putri berusia 2 tahun."
__ADS_1
"Tujuan negara?"
"Aku tidak tahu kemana dia pergi. Justru itu aku kemari dan bertanya padamu!" sentak Dean mulai tidak sabar.
Resiko pekerjaan yang selalu harus bersikap ramah, membuat petugas itu kembali tersenyum. "Baik, tapi bisakah Anda menunggu?"
"Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi."
Seorang pria tinggi besar menghampiri petugas tiket dan bertanya padanya. Kemudian pria itu membawa Dean ke loket bagian informasi.
"Aku akan membantumu disini, tunggu sebentar." ucap pria tinggi besar itu padanya.
"Arleni Smith, Ailene Dorado, Arlene ..., apa nama panjangnya Pak?" tanyanya dengan mengernyitkan dahi.
Dean menghela nafas, dia baru sadar selama ini memang tidak terlalu peduli pada Arlene, nama panjangnya bahkan tidak tahu apa apa.
Dengan kecewa Dean kembali, setelah mengucapkan terima kasih akhirnya Dean kembali keluar, harapannya pupus untuk kembali menemukan Arlene.
Namun ketika saat melangkah keluar justru Dean mendengar tangisan yang mirip dengan Alleyah. Dan ternyata benar dugaannya.
Kini dia menatap keduanya, namun dengan seorang pria yang terlihat sangat kasar, sedetik kemudian Dean teringat dihari pertama mereka bertemu, Arlene yang basah kuyup dengan barang bawaan layaknya orang yang melarikan diri.
__ADS_1
Dia pasti mantan suami yang membuatnya melarikan diri malam itu walau badai sedang datang. Batin Dean. Dan alangkah terkejutnya saat Arlene mengatakan jika dia suaminya. Entah kenapa ada sesuatu yang membuat hatinya menghangat.
Dia ... Datang untuk menjemputku. Iya kan sayang?
Suara Arlene masih teringang ngiang, membuat bibirnya tersenyum tipis.
"Iya sayang ... Aku sudah mencarimu sejak tadi." ucap Dean dengan menghampiri ketiganya.
Baron menatapnya tajam, "Aku tidak percaya kalau kalian sudah menikah,"
Petugas keamanan bandara pun hanya bisa diam namun terus waspada.
"Apa aku harus membawa dokumen pernikahan kami?" ucap Dean dengan percaya diri. Sebab dokumen yang tadinya akan di lenyapkan setelah mengantarkan Arlene ke apartemen kini berada di sakunya.
Alleyah yang berada di pangkuan Baron pun terus meronta ronta ke arah Dean dan memanggil dengan papa.
"Papaa ... papaa ...!"
"Sini sayang ... Ini Papa?" Dean mengambil Alleyah dari tangan Baron.
Baron hanya terdiam, terhenyak karena ada pria yang mengaku ayah dari anaknya. Pegangannya semakin kuat, namun Dean menepiskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Dia hanya anak kecil yang tidak tahu apa apa. Jangan libatkan dia dengan masalah kedua orang tua yang rumit! Mengalahlah kalau kau benar benar menyayangi putrimu."