
Dean melangkah menuju kamar neneknya Miranda, entah apa yang akan dikatakan Miranda padanya, apa yang akan dibahasnya sepagi ini pun dia tidak tahu. Entah sudah berapa kali nomor ponsel milik Li dia hubungi namun tidak juga diangkatnya.
"Dean? Kau mau kemana sepagi ini?" tanya Sorra yang baru saja keluar kamar.
"Heh ... Kau bilang ini masih pagi? Pantas saja kau tidak becus mengurus perusahaan Sora jika jam segini saja kau bilang ini masih pagi. Semua orang sudah mulai bersiap siap pergi ke kantor dan bekerja, kau malah masih berantakan seperti ini." decih Dean yang langsung kembali melangkahkan kakinya menuju kamar Mirada yang terletak di lantai dasar.
Dean menuruni tangga dengan tersenyum kecut karena berhasil membuat Sorra bungkam, sementara kakak perempuannya itu kesal bukan main.
"Kurang ajar kau Dean!"
Dean hanya melambaian tangan tanpa menoleh dan terus melangkahkan kakinya menuruni tangga. Tak lama dia sampai di depan pintu kamar Miranda, terlihat Li berdiri dengan wajah yang sulit diartikan, tatapannya khawatir dengan mulut yang terkatup rapat.
"Ada apa Li ... Kenapa nomormu tidak bisa aku hubungi? Ada masalah apa Li?" tanyanya pada Li yang masih terdiam membisu.
"Lebih baik tuan masuk saja." ujar Li yang tidak ingin mengatakan apa apa padanya.
Li membuka pintu, membiarkan Dean masuk, namun pria belesung pipi itu tidak juga melangkah, dia justru mencekal lengan asisten Miranda yang juga membantunya itu. "Li?"
Li hanya mengangguk, lalu mempersilahkan Dean untuk masuk dengan mengangkat dagunya sedikit.
Dean hanya bisa menghela nafas. Mau tidak mau dia melangkah masuk ke dalam kamar yang masih bersinar dengan sinar temaram itu sebab lampu masih menyala dengan gorden jendela yang masih belum juga terbuka, pria itu mendekat ranjang dimana Miranda terduduk dengan kacamata bacanya yang masih bertengger d pangkal hidungnya, serta sebuah buku tebal di pangkal pahanya,
"Nek?"
__ADS_1
"Ada apa Dean? Kau juga ingin membantah seperti wanita tidak jelas itu. Dia sudah membuatku kesal dengan ucapannya semalam, apa sekarang kau juga akan melakukan hal yang sama?" tuduhnya.
Dean terdiam, kenapa reaksi Miranda tidak sesuai dengan bayangannya, dia bahkan seperti tidak berniat membicarakan apa apa dengannya,
"Apa. Katakan apa yang kau mau Dean? Jika yang kau bicarakan adalah pernikahanmu dengan wanita itu, aku tidak ingin memdengarnya lagi. Pergilah, kecuali kau ingin membicarakan soal pekerjaan." tukas Miranda yang bicara namun tidak juga beralih pada buku yang tengah dia baca.
Dean menatapnya heran, "Bukankah nenek yang memyuruhku kemari?"
"Aku? Untuk apa aku menyuruhmu kemari, tidak ada yang harus aku katakan padamu, keputusanku sudah bulat, bagaimana pun juga kau akan tetap menikahi Selena."
"Dengan membiarkan istri dan anakku menderita? Tidak NEk ... Aku tidak bisa melakukannya, aku mencintaI Arlene, bukan Selena."
Miranda berdecih tanpa ingin menimpal apalagi membicarakannya, dengan santai dia membuka lembaran demi lembaran buku yang dipegangnya tanpa sedikitpun ingin bicara pada Dean.
Miranda menoleh dengan tatapan dingin dan menakutkan, "Kau mencintainya? Sejak kapan?"
"Tentu saja sejak dulu, sejak aku bertemu dengannya di stasiun kereta, aku melihatnya pertama kali dan aku merasa yakin jika Arlene yang akan menjadi istriku suatu hati nanti, dan saat itu juga aku mendekatinya Nek. Bukankah itu romantis."
"Diam kau!" jawab saja pertanyaanku, dan tidak perlu berbasa basi pada hal yang tidak aku ingin tanyakan apalagi yang tidak ingin aku ketahui apapun itu, aku bhkan tidak menyuruhmu kesini ... Kau pasti datang hanya ingin membujuk dan membuatku aku berubah pikiran kan!" sentak Miranda marah. Melepaskan kaca mata yang berada di pangkal hidungnya.
Zoya ... Ini pasti ulahmu ...!
"Tapi Nek ... Aku juga tidak akan berubah pikiran, terlebih aku karena aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai." terang Dean,
__ADS_1
"Benarkah?" Miranda semakil kesal dibuatnya.
Srekk!
Pyar!
Miranda yang kesal mengambil sesuatu dari dalam laci nakas yang berada di samping ranjang miliknya lalu melemparkannya begitu saja hingga mengenai vas bunga yang terbuat dari bahan kristal dan membuatnya jatuh sampai pecah berserakan.
"Kau bilang kau mencintainya? Kau bilang tidak ada wanita yang lain yang selain wanita itu?"
Dean terbeliak, dia mengambil beberapa lembar foto yang dilemparkan Miranda dan juga satu lembar yang tidak asing baginya.
"Ini ....!"
"Inikah alasanmu Dean? Kau fikir aku yang sudah tua ini bodoh sampai kau bisa menipuku? Bahkan kau beekerja sama dengan Li dalam urusan ini. Kau fikir aku diam dan tidak tahu apa apa ...!"
Dean terpaku di depannya berdiri, bahkan kedua matanya seolah tidak bisa berkedip sedikitpun dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Kau tidak hanya menipuku, kau menipu semua orang termasuk wanita itu! Apa yang kau rencanakan Dean?"
.
.
__ADS_1
Nah nah ... Lho apa yaaa? Hihihi