
Li yang melangkah masuk terkaget saat namanya dipanggil dari arah belakang, dia melihat Dean yang berdiri menunggunya.
"Ya.. ya Tuan!" cicit Li.
"Ikut aku Li!" Dean melangkah ke arah kursi di taman samping Paviliun, yang berada di pinggir kolam dengan ikan koi yang besar-besar.
"Bagaimana Li?"
"Sudah tentu aman Tuan. Aku sudah memberikan semuanya pada nyonya besar." Sahut Li.
"Benarkah, kau yakin?"
"Ya Tuan. Aku yakin ... aku tidak akan mengecewakanmu."
"Bagus dan jangan biarkan siapapun tahu hal ini, Li!" ujarnya lagi.
"Ya tuan ... aku mengerti."
__ADS_1
Dean melirik ke arah sekitar, memastikan kalau tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Apa kau tahu yang dibicarakan Arlene pada nenek tadi?"
Li terdiam, sungguh dia hanya mendengarnya samar-samar, namun dia dapat memastikan jika Arlene bicara sesuatu yang membuat suara Miranda menggelegar, sesuatu tersebut sudah dipastikan membuatnya kesal, dan Li yang khawatir pun mendekat untuk berjaga jaga.
Sampai dia tahu semua yang di ucapkan oleh Arlene dan reaksi yang diperlihatkan oleh Miranda, dia juga mendengar bagaimana saat Arlene membela Dean sedemikian rupa
"Ya aku tahu Tuan."
"Katakan!"
"Marah?"
"Ya Tuan ... Nyonya marah padanya!" tukas Li.
Li dengan mudah bicara semuanya pada Dean termasuk apa yang direncanakan oleh Miranda. Li adalah pria yang di tolong oleh Dean, diberinya pekerjaan dan termasuk membuatnya sebagai pegawai rumahnya jauh sebelum di jadikan asisten pribadi Miranda. Semua orang tidak tahu hal itu karena Dean selalu tidak mau mempublikasikan kebaikan dirinya, saat Miranda memintanya untuk mencari tahu tentang pernikahannya serta Arlene, Li lah yang menyuruh Dean dan menyiapkan segala sesuatunya.
__ADS_1
"Sekarang bukan hanya kami berdua yang tahu, kau juga tahu yang sebenarnya Li ... Jadi aku mohon jaga rahasia ini ya, rahasiakan dari Nenek dan ibuku Li."
Li terdiam, dia sendiri bingung bagaimana harus bertindak, disatu sisi dia bekerja dengan kesetiaan tapi di sisi lain pada Deanlah dia berterima kasih.
Li mengangguk lirih pada akhirnya.
"Terima kasih Li ... Aku berhutang budi padamu." Dean menepuk bahunya dengan kuat. "Kau seperti pamanku sendiri Li." ungkapnya lagi.
Setelah berbicara empat mata dengan Li, Dean kembali masuk ke dalam mansion utama, kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Dean masuk secara pelan pelan, dia menatap Arlene yang tengah tertidur di atas ranjang dengan bantal yang mengelilinginya, di sampingnya juga di pqsangi bantal guling.
"Apa yang dia lakukan. Membuat benteng sendiri atau apa. Dasar aneh!" gumamnya pelan.
Namun Dean juga mengulum bibirnya tipis saat dirinya menatap wajah yang damai milik Arlene, yang benar benar polos tanpa alat make up dengan bibir tipisnya ynag menggoda.
Tidak ingin lama lama dengan menatapnya yang hanya membuatnya semakin tergoda, Dean memilih membenahi selimut yang menutupi tubuh Arlene hingga batas lehernya, Dean sontak kaget saat Arlene sedikit menggeliat dalam tidurnya.
__ADS_1
Dean mematung, dengan tangan yang kini tertindih kepala Arlene dan susah bergerak.
"Matilah aku ....!"