Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.07


__ADS_3

...Gimana ... Seru gak, seru gak ...seru dong yaa? Wkwkwk, seneng banget deh responnya positif semua sama Arlene, ucchhh lope lope badag buat kalian, yang baru baca ataupun yang udah ngikutin othor dan beberapa novel yang sebelumnya, sama yang terakhir. Semangat🄰...


.


.


"Sayang, apa uang yang kau berikan terlalu sedikit sampai dia mengatakan hal itu?"


Arlene mengulas senyuman, saat tekadnya sudah bulat dari awal untuk tidak membiarkan siapapun bersikap semena mena terhadapnya.


Dean terkesiap dengan apa yang di katakan Arlene, bahkan dia menelan ludah dengan kepura puraannya.


"Cih! Dasar pengadu, terlihat sekali kau itu kampungan, kalau Dean benar memberimu uang, kau tidak akan berpenampilan sejelek sekarang apalagi saat diajak pulang dan menemui keluarganya. Atau kau tidak tahu siapa suamimu itu. Wanita kampungan!" Cibir Selena dengan menyunggingkan satu bibirnya ke atas.


Dean berdiri dan menghadap ke arahnya, "Selena!!" Bentaknya. "Jaga ucapanmu atau___,"


Arlene ikut berdiri, "Sayang ... sayang hei, hentikan! Sudah biarkan saja." ucapnya lembut dengan menarik Dean untuk kembali duduk. "Bukankah kita kemari untuk menemui Nenek dan keluarga besarmu sayang, tidak usah hiraukan orang lain. Kita fokus saja dengan tujuan kita." Arlene membelai kedua pipi Dean. Aktingnya sangat bagus, bahkan Dean tidak berkedip sedikitpun dengan apa yang dia lakukan, nada bicaranya lembut dengan suara yang mendayu sentuhan darinya membuat Dean terpana. Wajah cantik dengan penampilan sederhana membuat Arlene semakin menarik malam ini.


"Kau benar sayang, maaf aku terpancing!" tukas Dean setelah sadar terlalu lama terpana.


Selena menghentakkan kaki dan menyimpan serbet makan dengan kasar, mendengus kearah keduanya yang sengaja menampakkan keharmonisan.


Tak berselang lama, Dean menyunggingkan senyuman dibibirnya. Meraih tangan Arlene dan mengecupnya lembut.


"Maafkan aku! Kau pasti kaget karena sikap keluargaku."

__ADS_1


Arlene mengangguk, walaupun sesungguhnya kedua lututnya tengah bergetar hebat. Begitu pun dengan bibirnya yang bergetar karena senyuman dia paksakan. "Tak apa! Mereka hanya belum mengenalku saja sayang."


Sorra menatap keduanya dengan mendelik, "Kalian menjijikan! Sampai kapanpun aku tidak akan mengakui wanita ini sebagai adik ipar ku, Selena benar. Lihat saja caranya berpakaian. Norak dan Kumal. Memalukan!"


Tak berselang lama, Kepala pelayan masuk. Pria paruh baya yang membawa nampan berisi semangkuk soup buntut kangguru.


"Nyonya akan turun sekitar lima menit lagi, semua diharapkan bersiap siap." ucap kepala maid dengan meletakkan mangkuk soup buntut kangguru itu di atas meja.


Semua orang mengangguk, namun tidak dengan Arlene, dia tidak tahu peraturan yang diterapkan di rumah itu, apalagi di meja makan. Yang ada di fikirannya saat ini hanya lah makanan, bahkan sudah sejak tadi dia menahan perutnya yang keroncongan.


Melihat soup buntut kangguru yang jarang sekali dia nikmati itu sungguh menggugah selera makannya, dia juga menatap hidangan yang datang silih bergantian. Yang paling dia inginkan sejak lama juga ada disana, daging kangguru dan Barramundi, sejenis ikan bersisik dengan bumbu khas Australia, makanan yang sangat dia temui bahkan dia makan.


Beberapa maid mulai menata piring piring mereka, mengisinya dengan berbagai hidangan dan juga mengisi gelas mereka satu persatu.


Arlene pun mengangguk saat maid mengiri piringnya dengan ikan Barramundi dan semangkuk soup.


Semua orang menatap kearahnya, lagi lagi dengan tatapan sinis dan kali ini lebih sinis, saat gelas Arlene kini kosong. Tidak peduli tatapan orang orang terhadapnya, dia hanya ingin makan dan makan mengisi perut yang menagih haknya sedari tadi.


Wanita berambut panjang bergelombang itu pun menyendok secuil Barramundi lalu memakannya, kelezatan yang sepertinya baru kali ini dia nikmati, hingga Arlene kembali menyendoknya untuk kedua kali dan melahapnya. Membuat semua orang semakin menatapnya tajam.


"Dasar wanita rendahan, kau tidak etika dan juga tidak sopan!" sentak Debora.


"Bu ... hentikan! Arlene hanya tidak tahu, dan aku lupa memberi tahunya." Dean menatap ibunya dan beralih pada Arlene.


Wanita berambut coklat itu benar benar tidak mengerti apa maksudnya, dia menoleh sebentar pada Dean, "Apa aku salah?"

__ADS_1


"Arlene ... maafkan aku! Tapi kita tidak diijinkan makan sebelum Nenek datang." terang Dean.


"Hhmmm ... Aku tidak tahu sayang!" masih berpura pura manis, padahal sesungguhnya dia malu sampai ubun ubun karena tindakannya yang terlihat jelas jika dia memang tidak beretika. "Terlalu lapar!" bisiknya lembut.


"Kita memang harus menunggu nenek terlebih dahulu sebelum mengangkat sendok dan juga minum." sela Sorra dengan ketus. "Sepertinya dugaan kita memang benar, Dean memungutmu dari jalanan untuk menjadi istrinya." Cetusnya lagi dengan mendelik tajam.


Arlene hanya menatapnya tanpa kedip, tidak ingin peduli dengan ucapan sarkasnya, dia tengah sibuk dengan fikirannya sendiri. Bagaimana bisa ada aturan seperti itu, disaat perutnya keroncongan, orang akan mati kelaparan hanya karena menunggu Nenek. Ah orang kaya ... aku selalu lupa dimana aku berada saat ini.


"Maafkan aku ... aku benar benar tidak tahu!" ujarnya dengan meletakkan kembali sendoknya.


Kebiasaannya jelas saja berbeda, kehidupan rakyat jelata yang sehari harinya sibuk memikirkan bagaimana mencari makan untuk hari ini dan tidak ada waktu lagi untuk memikirkan aturan aturan seperti yang berlaku di keluarga Mcdermott atau bahkan dikalangan orang kaya lainnya.


"It's oke Arlene!" Dean menenangkannya, dia juga lupa kalau belum mengatakan semua aturan yang berlaku di keluarganya.


Tak lama kemudian pintu kembali terbuka, kepala pelayan masuk dan tepat dibelakangnya Miranda berjalan, semua orang berdiri menyambutnya, hanya Arlene yang duduk dan menatap Miranda.


"Arlene ...!" gumam Dean menyentuh pundaknya.


Arlene pun sedikit berjingkat, dia baru sadar saat melihat semua orang berdiri. Tak lama dia pun ikut berdiri dengan tegak.


"Maaf ... aku tidak tahu Dean!" bisiknya pada Dean.


Dean memegangi pundaknya, "It's ok ... aku yang tidak memberi tahu mu!" jawabnya pelan.


Miranda duduk di meja makan, dan setelah itu, barulah semua orang duduk. Begitu pun dengan Arlene yang mengikuti mereka. Tatapannya tajam bak elang pada sosok Arlene yang duduk di tempat yang biasanya di duduki Dean.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruhmu duduk disini!"


__ADS_2