Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.42


__ADS_3

"Li ... Suruh Dean temui aku di ruang kerja!"


Miranda keluar dari ruang makan dan langsung menuju ke ruang kerja sementara Debora dan Sorra saling menatap dengan kedua mata yang membola.


"Dean, apa yang kau lakukan. Apa kau membuat masalah lagi?"


"Tidak Sorra!"


" Kenapa nenek terlihat begitu marah denganmu sampai Nenek juga tidak mau sampai istrimu makan di sini bersama-sama dengan kita


"Aku tidak tahu suara jadi Berhentilah bertanya padaku kau berisik sekali!"


Dean bangkit saat Li menghampirinya. "Tuan Dean?"


"Aku tahu itu Li, aku bahkan bisa mendengarnya dengan jelas!"


"Kau ini kenapa. Tidak biasanya kau marah-marah pada Li, ada nenek saja kau justru diam saja!" Sorra mendengus melihatnya.


"Aku tidak peduli!" Ujar Dean bangkit dari duduknya dan keluar meninggalkan Sorra dan ibunya yang terus penasaran karena Miranda memanggil nya ke ruang kerja.


"Apa Ibu tahu kenapa nenek memanggil Dean?"


"Kau saja tidak tahu apalagi ibu. Kau lihat sejak tadi nenekmu saja tidak menghiraukan Ibu sedikitpun. Ibu seperti tidak dianggap di rumah ini, hanya karena ayahmu sudah tidak ada Sorra!" lirih Debora dengan wajah sedih. "Andai saja tidak ada surat wasiat ayahmu yang mengatakan agar ibu tidak meninggalkan rumah ini, mungkin saja nenekmu sudah mengusir Ibu sejak lama." dengusnya kali ini.


"Ibu ini ... Nenek tidak mungkin sejahat itu pada Ibu, walaupun Nenek tahu kalau Ibu yang jahat!" Sorra tertawa sementara Debora mendengus kasar.


"Kau ini anak Ibu. Kenapa membela nenekmu terus!" "Tentu saja karena Nenek adalah sumber uangku Bu! Aku harus terus membela nenek daripada membela ibu yang tidak memberikan uang sepeserpun padaku."


Debora terbeliak, "Kau ini sama dengan ibu, kita satu tim, jadi kita harus bekerja sama Sorra!"

__ADS_1


"Iya iya. Baiklah aku mengerti, kalau begitu kita akan mencari tahu apa yang akan dikatakan oleh nenek." ucap Sorra, "Ayo kita kesana Bu."


"Kau ingin kita menguping diam diam?"


Sorra yang sudah lebih dulu bangkit dan melangkah ke arah pintu kembali menoleh. "Tentu saja, ayo pergi Bu."


Sementara di ruang kerja


Kini Dean duduk di depan sang Nenek, Miranda yang duduk di kursi kekuasaannya sendiri.


"Seharusnya, aku sudah memberikanmu kekuasan penuh untuk mengelola seluruh sumber penghasilan kita Dean! Tapi kau mengecewakan!" tukas Miranda dengan tatapan nanar. "Aku sudah terlalu tua dan lelah dengan semua tanggung jawab yang ada di pundakku!" sambungnya lagi.


"Aku tetap pada keputusanku Nek, aku tidak ingin menikahi Selena."


"Kau tahu Dean berapa total karyawan yang kita miliki? Berapa pengeluaran kita setiap hari?"


Percakapan keduanya tidaklah sejalan dan searah Dean dan Miranda sama-sama membicarakan hal yang tidak saling berkaitan, tapi mereka terus membicarakannya walaupun pembicaraan mereka terkesan tidak nyambung.


"Aku mohon Nek. Dengarkan aku sekali ini saja, aku selalu menuruti apa yang nenek mau, bahkan studiku saja Nenek yang pilih. Akku tahu nenek bekerja keras sampai bisa seperti ini! Tapi Nenek jangan lupa kalau aku juga memiliki hak untuk memilih apa yang aku inginkan.


Miranda mendengus, "Dengan sikapmu saja seperti ini. Apa yang akan terjadi pada semua aset yang kita punya Dean? Apa kau akan menghancurkan semuanya? Semua usaha dan kerja keras ayahmu juga? Kau satu satunya laki laki harapanku, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


Dean menggelengkan kepalanya, "Aku tahu itu Nek, aku juga tidak akan mungkin melakukan hal itu."


"Termasuk berbohong mengenai Arlene dan putrinya?" sela Miranda. "Dan satu lagi Dean, biaya pesta yang kau keluarkan cukup untuk bagi membayar gaji seluruh karyawan untuk 3 bulan kedepan. Kau tahu itu? Kau membuang-buang uang untuk sesuatu hal yang tidak berguna.


Dean tersentak, lagi-lagi Miranda tahu apa yang terjadi. Dia pun menoleh ke arah pintu di mana Li berdiri, "Ini semua pasti gara-gara kau!" Cicitnya dengan tatapan tajam.


"Jangan salahkan Li, dia hanya bekerja dan memberikan kesetiaan dirinya kepada nenek. Yang harus Kau Salahkan adalah sikapmu yang juga tidak berani mempertanggung jawabkan apa yang telah kau lakukan."

__ADS_1


"Aku tahu aku salah, tapi aku tetap tidak akan menikahi Selena apapun yang terjadi, terserah nenek, sekarang Nenek sudah tahu semuanya tentangku dan Alexa maupun pernikahan pura-pura aku dengan Arlene. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana lagi bicara pada Nenek. Aku ingin Nenek mengerti tapi ternyata tidak, Nenek sama saja, hanya karena alasan yang tertulis Nenek mengorbankan perasaanku dan satu lagi, kontrak kerjaku bersama Arlene biar aku yang putuskan kapan akan mengakhirinya. Aku sudah mengeluarkan terlalu banyak uang dalam rencana ini Nek dan apa Nenek tahu Arlene gadis yang baik, dia sederhana dan tidak neko-neko seperti Selena dia bahkan lebih baik daripada Selena. Jika aku harus memilih pun aku akan memilihnya daripada memilih Selena." Pungkas Dean, kali ini dia menceritakan semuanya, bahkan bagaimana perasaan yang selama dua bulan ini dia rasakan, Toh Miranda sudah tahu semuanya dan Dean sudah tidak lagi mampu mengelak selain berkata jujur. "Aku merasa bersalah karena menyeret Arlene, dia sudah sangat tersiksa dengan semua orang yang membencinya di rumah ini termasuk Nenek, hanya gara gara aku. Dia tidak bersalah dalam hal ini Nek. Aku minta maaf karena ini semua salahku! Aku yang bersalah karena melakukan hal ini pada Nenek dan semua orang."


Miranda yang terus menatapnya dengan tatapan yang tidak berubah kali ini bisa melihat ketulusan di mata Dean yang bicara.


"Apa Nenek terlihat jahat sampai kau bersikeras dengan semua ini, kau bisa pergi jika kau sudah tidak bisa lagi menuruti Nenek!" ucap Miranda.


"Tapi Nek?"


"Apa? Kau tidak merasa mampu! Padahal kau mengatakannya tadi kau akan menolak menikahi Selena apapun yang terjadi! Jadi sebelum berucap, fikirkanlah dengan kepalamu. Jangan anggap seolah Nenek ini orang jahat Dean!"


Dean tidak mengerti apa yang di maksud Miranda, Dean pun hanya menggelengkan kepalanya.


"Nenek benar benar mengujiku!"


Kali ini Miranda pun menggelengkan kepalanya, "Sikapmu masih terlalu lembek untuk menjadi pemimpin perusahaan kita Dean, kau juga tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Kau selalu ragu setelah mengambil langkah! Perusahaan kita butuh seseorang yang bermental kuat. Memiliki keinginan dan arah tujuan yang pasti." pungkasnya lagi.


"Jadi Nenek sekarang juga meragukanku?"


"Sekarang Nenek bertanya padamu. Siapa yang akan kau pilih jika pilihanmu adalah Selena dan Arlene?"


"Aku sudah bilang tadi Nek,"


"Jawab saja Dean!"


"Aku akan memilih Arlene!" jawab Dean.


Terlihat Miranda menganggukkan kepalanya dengan wajah yang kini lebih santai.


"Lalu kalau pilihannya Arlene dan Alexa. Siapa yang kau pilih?"

__ADS_1


__ADS_2