Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.85


__ADS_3

Arlene segera berlari keluar kantor, di ikuti Robin beberapa langakh di belakang yang penasaran dengan apa yang terjadi. Namun pada saat Robin hendak masuk ke dalam lift bersamanya. Seseorang mencegahnya.


"Maaf pak ... Semua orang sudah menunggu di ruang rapat. Meeting dengan PT Persada akan segera di mulai."


"Sial!" ujar Robin memukul udara saat terlambat dan pintu lift sudah tertutup.


Mau tidak mau Robin harus kembali ke dalam dan menghadiri rapat bernilai jutaan dolar dan membiarkan Arlene pergi.


Dengan perasaan khawatir dan cemas kini Arlene melajukan mobilnya ke arah mall dengan logo W besar seperti petunjuk yang di berikan Alleyah, gadis cilik yang pintar dan bersekongkol dengan Dean agar ibunya segera datang.


"Ya ampun ... Aku ini berdosa sekali karena berbuat buruk pada Mama." cicit Alleyah yang menyesal dengan menyerahkan ponsel pada Dean.


"Kau masih terlalu kecil, dan malaikat tidak akan mencatat dosamu sayang, kau masih bersih dan suci."


"Tapi nanti aku tidak akan mendapatkan hadiah natal dari Sinterklas karena aku nakal!" dengusnya dengan bibir yang menukik ke bawah.


"Biar Papa yang memberi hadiah natal untukmu ya!"


"Mana bisa begitu Papa ...!"


Dean mengangguk anggukan kepalanya. "Bisa ... Aku bisa mengaturnya, aku akan suruh Sinterklas datang dan tidak bicara kenakalanmu. Hm! Bagaimana ide Papa?"


Pria itu merasa seru sekali memiliki teman bersekongkol yang tidak akan membuat Arlene marah besar seperti bayangannya. Senang rasanya memiliki anak yang pintar dan bisa di ajak bicara.


"Jadi Papa yang akan menanggung dosa dan malaikat akan mencatat dua kali lipat keburukan Papa?" tukasnya bertanya dengan melipat dada.


Terserahlah perihal catatan buruk yang akan di terimanya, yang pasti dia melakukan hal itu juga untuk Alleyah, wajah yang tadi merengut kini sudah mulai terlihat cerah lagi dengan sepiring kentang goreng dan juga hot dog.


"Papa .. kira kira Mama akan marah besar pada kita karena kita memberikan berita bohong kalau papa pingsan?"


"Mungkin ... mungkin juga tidak. Secara kau adalah putri kesayangannya." puji Dean, "Sekarang mungkin dia sedang dalam perjalanan tapi mungkin juga tidak Mama akan marah. Kita harus siap siap. Kau tidak perlu bicara biar Papa yang mengurusnya. Papa yakin Mamamu adalah orang yang yang baik hati dan tidak bisa marah." sahut Dean yang juga merasa was was jika itu benar benar terjadi, bagaimana dia bisa menghadapi Arlene jika dia marah.


Dari kejauhan terlihat seseorang tengah berlari ke arah play ground dan Dean melihatnya, tapi dia masih berpura pura tidak melihatnya sampai Arlene semakin dekat.


"Itu mama?" desis Alleyah yang kini tengah memegang es krim jumbo kesukaannya.


"Alleyah ... Dean?"

__ADS_1


Arlene berlari saat melihat dua orang yang tengah duduk menikmati es krim mereka dia juga melihat berbagai makanan ada di atas meja. Bahkan banyak sekali sampai dia heran kenapa orang pingsan bisa memakan banyak makanan seperti itu.


"Dean ... Apa yang terjadi? Kenapa kau pingsan?"


"Duduklah .. Aku sudah pesankan makan siang untukmu."


Arlene terperangah, terlebih melihat kedua orang itu kini memperlihatkan gigi mereka dengan wajah bersalahnya.


"Kalian membohongiku?"


Dengan gerakan cepat Alleyah menunjuk Dean. Begitu pula sebaliknya.


"Ini ide papa!"


Dean tersentak, anak kecil tidak bisa diajak berbohong walau sedikit saja.


"Tidak ... Idemu sayang."


"Bukan ... ini idemu papa!"


Perjanjian awal dimana Dean menyuruh Alleyah diam tentu saja tidak berhasil. Gadis kecil itu terus bicara dan menjelaskan dengan cukup jelas walaupun urutannya berantakan.


Arlene melihat ke arah keduanya secara bergantian, dengan tatapan tajam dan kekesalan yang tidak terhindari lagi. Seolah keluar asap putih dari kepalanya kini, terlebih saat kedua orang itu kini saling menunjuk dan melemparkan kesalahan mereka satu sama lain.


"Dean ... Alleyah? Katakan yang benar. Ada apa ini. Kalian bersekongkol mengerjaiku?' tukasnya dengan suara yang nyaris kencang.


Dean menariknya untuk duduk, dengan sedikit menekan kedua bahunya dengan lembut.


"Duduklah ... Aku akan menjelaskannya! Jadi begini awalnya..." ujarnya dengan kembali duduk setelah Arlene duduk.


"Awalnya aku melihat Alleyah bersedih, dia teringat padamu dan ingin bertemu, dia juga jadi tidak bersemangat bermain padahal aku sudah memberikannya banyak tiket permainan, dia juga tidak mau makan, dan itu membuatku bingung, dia terus ingin bertemu dengan mu dan merasa sedih karena kau selalu sendirian.. Jadi aku bersandiwara dengan nya agar aku bisa kemari walaupun sebenarnya kau sibuk." Terang Dean sama persis seperti keterangan yang dikatakan oleh Alleyah namun lebih rinci lagi.


Alleyah mengangguk anggukan kepalanya dengan cepat saat Arlene melayangkan pukulan keras pada bahu Dean, dia juga membantingkan tas miliknya pada punggung Dean.


"Mama ... Dont be angry!" ini bukan hanya ke salahan Papa. tapi juga salahku, aku hanya ingin bertemu Mama... Aku ..." ujar Alleyah hampir menangis saat melihat pukulan ibunya membuat pria yang dia panggil papa itu meringis.


"Kau lihat. Bahkan kau membuat putriku percaya kau Dean. Bagaimana bisa kau mengajak anak sekecil ini ikut ikutan dengan rencana konyolmu. Hah?" ujarnya dengan berang.

__ADS_1


"Mama please ... Jangan marah marah!" Alleyah menggenggam tangan sang ibu dengan tatapan sendu. "Yang dikatakan Papa benar kok, aku sedih dan tidak bersemangat bermain karena memikirkanmu, aku ingin bertemu Mama dan Papa yang membantuku agar Mama cepat datang agar aku tidak menangis."


Arlene menatapnya juga dengan nanar, gadis kecil yang selama ini memang kerap ditinggalkannya saat dia sibuk dengan pekerjaan barunya di kantor Robin. Ini kesalahannya yang selalu meninggalkan putri semata wayangnya.


"Maafkan Mama sayang! Tapi Mama memang harus bekerja agar kita bisa bertahan hidup dan tidak lagi di remehkan orang lain," ujarnya dengan sedikit menyindir Dean.


"Aku mengerti Mama... Tapi aku hatiku sakit saat melihat orang lain punya teman dan Mama sendirian."


Arlene sedikit tidak mengerti dengan maksud putri kecilnya, dia mengelus pipinya yang bulat dengan mata yang mulai menghangat.


"Mama punya kau sayang, Mama tidak sendirian, Mama bahagia kok!"


"Kau juga punya aku Arlene ... Kau tidak akan pernah merasa sendirian lagi dan Alleyah tidak akan sedih lagi. Iya kan?" celetuk Dean yang membuat Alleyah akhirnya tersenyum tipis.


Sementara Arlene mendelik ke arahnya. "Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu Dean. Tak tahu malu!'" gumamnya yang hanya terdengar oleh Dean sendiri.


Dean mengangkat kedua bahunya dan memperlihatkan gigi rapi ke arahnya. Lalu beralih pada Alleyah dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Jangan mempengaruhi putriku yang tidak tidak Dean, kau ini kenapa?"


"Mama aku lapar!" celetuk Alleyah yang membuat sang ibu yang tengah menyorot tajam Dean akhirnya mengalah.


"Kau mau makan?"


Alleyah mengangguk dengan menggosok kedua matanya. "Aku sedih sampai aku merasa sangat lapar sekali!"


Dean terkekeh. "Kau dengar Arlene, dia sedih sampai tidak mau makan. Dia hanya makan satu hot dog, kentang goreng dan es krim. Aku tidak mengajari apa apa pada ya, dia sangat pintar dan juga pandai bicara. sudahi marahmu dulu dan temani dia makan, aku juga terpaksa memanggilmu kesini karena aku tidak bisa menukar kembali tiket tiket ini dengan uang. Jadi hari ini saja kau bolos kerja dan temani Alleyah, jangan fikirkan aku. Alleyah memang merindukan waktu untuk bisa bersamamu." ujar Dean dengan menyimpan tiket tiket permainan di atas meja.


Arlene terbeliak, "Kau membeli tiket sebanyak ini? Apa kau gila ..."


"Mama .. jangan mengumpat! Itu tidak baik."


Dean mengelingkan satu mata ke arah bocah cilik yang sangat pintar itu, lalu mengulum senyuman pada Arlenee yang bahkan tidak lagi bisa berbuat apa apa karena dia sendiri yang mengajarkan Alleyah untuk berbicara sopan dan tidak sembarangan bicara apalagi pada orang lain. Wanita berambut hitam itu terlihat malu sendiri, namun dia mendelik ke arah Dean yang terus tersenyum.


Hatinya berdebar debar hanya karena melihat bibir Dean yang melengkung tipis, membuatnya ingat akan ciuman mereka saat pagi tadi, sampai Arlene menggelengkan kepalanya guna mengusir bayangan itu. Dean melihatnya dan memegang jemarinya dengan lembut, membuat Arlene tersentak seolah tersengat listrik.


"Are you oke Arlene?"

__ADS_1


.


.


__ADS_2