Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.48


__ADS_3

"Astaga. Apalagi? Apa perkataanku kurang jelas Dean?" saking kesalnya Arlene menghempaskan koper kecil yang dia geret ke arah kaki Dean. "Harus pakai cara apa lagi aku bisa bicara denganmu agar kau bisa mengerti. Hah?"


"Aku---,"


"Taksi!" Teriak Arlene pada sebuah mobil taksi yang tengah melaju hingga akhirnya taksi itu berhenti.


Arlene mengambil kembali koper yang dia hempaskan, bergegas berjalan ke arah taksi dan langsung masuk ke dalamnya.


"Jalan Pak!" ujarnya pada sang sopir Taksi dan mengejarnya. Namun, dia harus tertinggal karena taksi melaju lebih dulu dengan kecepatan tinggi.


"Aah ... sial!" umpatnya dengan memukul udara,


Dean masih tidak tinggal diam, dia berlari menuju mobilnya dan segera masuk.


"Kita ikuti taksi itu!" serunya pada supir.

__ADS_1


Aksi kejar kejaran cukup membingungkan, layaknya suami istri yang tengah bertengkar saja. Dean maakh belum sadar apa yang dilakukannya hanya akan menambah Arlene bingung, sampai dia terdiam sendiri saat jalanan mulai macet, suara deru kendaraan masih terus menyala diselingi bunyi klakson dari kendaraan lain di belakangnya.


Kenapa aku melakukan hal sampai sejauh ini, pada dasarnya Arlene memang harus pergi juga. Cepat atau lambat. Aku menyukainya namun yang aku cintai hanyalah Alexa. Batin Dean dengan termenung walau dalam keadaan ramai.


Seolah tidak mau melepaskan Arlene begitu saja, tidak rela jika dia tidak lagi bisa melihat Alleyah.


Dean memukul seat depan dengan sangat keras, membuat supir tersentak kaget.


"Apa aku sudah gila! Kita kembali ke mension saja!" titahnya pada supir yang hanya bisa mengangguk saja tanpa protes.


Mobil Taksi yang ditumpangi Arlene tiba di bandara, dia yang tidak memiliki tujuan pun hanya asal masuk saja. Biarlah apapun yang terjadi nanti, Arlene tidak peduli.


Sebelum membeli tiket pesawat yang bahkan belum tahu kemana, Arlene masuk ke area food corner, guna mengisi perutnya dan perut Alleyah.


Dia juga selalu melihat ke arah belakang dan memastikan jika Dean tidak mengikutinya. Alleyah tetap menangis mencari pria yang kerap dia panggil papa, dengan kedua mata yang terkantuk kantuk karena terlalu lama menangis, Arlene masih menyuapinya dengan sereal yang dia campurkan susu formula miliknya.

__ADS_1


Hingga waktu terus berputar, tanpa terasa Alleyah tertidur selama 2 jam di pangkuannya. Menyedihkan memang, dengan arah hidup yang tidak karuan tanpa tujuan yang pasti, satu koper dan satu tas besar teronggok di sampingnya.


Namun Arlene sudah terbiasa dengan berlari, kerap berpindah pindah dan tidak pernah menetap lama di suatu tempat karena takut pada mantan suami yang masih terus mencarinya. Dan kini, semua kembali terulang, dia kini hendak pergi lagi.


Arlene mengecek mobile banking miliknya, dan masih terperangah dengan melihat saldo di rekeningnya.


"Dengan ini aku bisa pergi sangat jauh, bahkan kalau perlu ke negara lain yang jauh sekali, sampai tidak ada orang yang akan membuat hidupku semakin berantakan!" gumamnya.


Entah keberapa kalinya panggilan pada penumpang bergaung, namun Arlene masih tetap duduk dengan tenang, dia masih belum beranjak dari duduknya bahkan belum berniat membeli tiket pesawat. Sementara aanak balita 2 tahun itu masih tertidur dengan pulas di pelukannya.


"Arlene?"


Arlene menoleh ke arah suara, dan tersentak saat melihat sosok tinggi di depannya.


"Kau mau pergi kemana?"

__ADS_1


__ADS_2