
Keduanya keluar dengan saling ribut satu sama lain. Mempeributkan kejadian semalam yang terjadi antara mereka. Walaupun keduanya melakukannya tanpa sadar tapi tidak ada rasa menyesal dari wajah Robin maupun Alexa.
"Ingat Alexa ... Kau hanya perlu tutup mulut dan tidak perlu bicara apa apa dan jangan pernah membahasnya lagi. Mengerti. Kita akan sama sama menikah dan lupakan kejadian semalam!"
Alexa mendengus dengan kasar, "Lagi pula siapa yang mau membahasnya. Besok malam aku akan kembali terang, masa ijinku sudah habis. "
Mobil yang dikendarai Robin melaju dengan kecepatan tinggi, menuju hotel dimana Alexa tinggal selama ini.
Jalanan pun sedikit macet, bunyi klakson terdengar di mana mana karena pada saat itu jam kerja, semua orang pergi keluar untuk bekerja.
Sementara di ruas jalan lain, Alleyah yang berada di mobil bersama Dean tengah bersenandung riang dengan mulut penuh makanan. Arlene khawatir Dean tidak akan memperhatikan putrinya dengan baik. Dia membekalinya roti dan juga susu, termasuk camilan lainnya agar Alleyah tidak kelaparan.
Dean terus tersenyum melihat tingkah polah gadis berusia 3 tahun itu, pipi bulat dengan kedua manik coklat mirip sang ibu. Begitu juga dengan rambut ikal yang berwarna pirang.
"Alle .. Kau ingin kita ke taman dulu atau ke play ground?" tanya Dean. "Atau kita berenang saja bagaimana?" tanyanya lagi
"No ... aku tidak mau berenang. Mama tidak ijinkan aku berenang saat cuaca extrem."
"Astaga ... Kau sudah seperti anak yang sudah besar, kau tahu dari mana hal hal seperti itu?" tanya Dean lagi.
"Waching tv. Atau suster membacakan buku padaku, aku belum bisa membaca soalnya." Ujarnya dengan mengerdikkan bahunya. "Kapan aku bisa membaca? " tanya nya balik pada Dean. "Aku hanya tahu beberapa huruf dan juga angka saja, rasi bintang, pohon, jalan raya, mobil hitam ..." ujarnya lagi dengan menyebutkan benda benda yang dia lihat sekelilingnya.
Alleyah anak yang cerdas karena sudah mampu mengobservasi lingkungan sekitar yang pertama kali dia lihat.
"Look at that, aku melihat mobil milik uncle?" ujarnya dengan menunjuk sebuah mobil berwarna hitam di arah depan, sementara Dean saja tidak mengenalinya sama sekali, itu karena merek yang di pakai Robin sama dengannya.
" Uncle ... Who uncle?"
"Uncle Robin!!" gumamnya dengan terus memperhatikan mobil di depannya.
"Mobil sejenis seperti itu banyak sekali Allleyah, mobil ku juga sama, so i'm not sure kalau itu mobil Robin?" tukas Dean.
"NO i'm sure. 745 STRIP 547. Aku ingat nomornya."
"Benarkah?"
"Yess Papa ... Of course!"
"Kau pintar sekali Alle ... Kau yakin itu mobil uncle Robin."
"Look ... Itu boneka milikku yang aku tempel d kaca mobil uncle " tunjuknya pada boneka kecil yang dia tempelkan di mobil Robin . "That my lion!!" ujarnya lagi dengan tersenyum karena dia bisa mengenalinya dengan mudah.
Dean mendengus dengan terus menatap mobil milik Robin yang kini melaju lebih cepat.
__ADS_1
"Aku tidak akan menyapanya. Do you?" tanya Dean tanpa menoleh ke arah Alleyah.
"Why? Do You angry? Kau ingat rahasia ku Papa. Mama akan menikahinya. jadi itu sebabnya kau marah dan tidak mau menyapanya?"
"No .. Aku tidak akan membiarkan ibumu menikahinya. Aku akan mencegahnya!"
"Hey ... Itu salah, sangat berdosa, Mama akan marah besar seperti tadi!"
"Kau mendengarnya juga?"
"Tentu saja ... Aku mendengarnya dengan jelas, aku juga tahu rahasia kalian!"
Dean menggelengkan kepalanya, dia merasa berbicara dengan seorang teman, bedanya hanya artikulasinya saja yang masih kurang jelas. Dengan huruf R dan L yang sering terbulak balik.
"Ya ... Papa yang akan menikahi Mamamu Alle ...!"
"Realy? Tapi aku tidak tahu apa itu menikah?" kedua matanya membola seketika saat mendengar ucapan Dean yang ternyata dia tidak tahu artinya.
Pria itu menggeleng gelengkan kepala dengan terus menatap ke arah bocah kecil itu.
"Menikah itu sama halnya dengan kau melihat seseorang setiap hari!"
"Jadi aku dan Mama menikah? Juga Sus ... Kami bertemu setiap hari bukan?" tukasnya.
Dean menggaruk telinganya, dia bingung harus mencari jawaban yang pas pada anak itu.
"Tapi Mama tidak setiap hari bertemu Papa, apa kalian belum menikah?"
Sekali lagi Dean hanya mampu menggaruk kepalanya saja, pemilihan kata kata yang tepat untuk anak anak memang sulit.
Terlihat mobil yang dikendarai Robin masih mengarah ke arah lain, membuat Dean juga sedikit bertanya tanya.
Kantor Robin berada di sana , satu arah dengan kantorku ada urusan ada dia ke sana sepagi ini. batinnya akhirnya penasaran juga. Sebab di distrik itu tidak ada perkantoran, di sana di penuhi oleh mall dan juga hotel hotel berbintang lima.
Entah kenapa, semua serba kebetulan, Dean yang mengajak ke sebuah mall dengan arah yang sama hingga dia kembali melihat mobil milik Robin, namun tidak peduli dengan apa yang akan di lakukan Robin.
mobil Robin menepi di sebuah hotel berbintang lima, Sementara mobil yang di kendarai Dean terus melaju lurus. Hanya Alleyah yang menatap mobil itu sampai memutarkan kepalanya 80 derajat.
Gadis kecil itu mengernyit saat seorang wanita keluar dari mobil Robin, dan langsung masuk ke dalam hotel, tak lama kemudian mobil Robin kembali melaju.
"Papa ..?"
"Hm .."
__ADS_1
"Apa yang papa dan mama lakukan di kamar tadi, sampai harus mengunci pintu? Apa agar aku tidak bisa masuk?"
Dean tersedak salivanya sendiri, pertanyaan tadi saja belum mampu dia jawab dengan tepat, namun Alleyah sudah memberinya satu pertanyaan yang juga sulit di jawab.
"Jangan bertanya seperti itu Alle ... Itu namanya tidak sopan. Terkadang orang dewasa harus bicara berdua tanpa ada yang terlibat termasuk keluarganya yang lain."
"Maaf Papa ... Tapi aku hanya ingin tahu, apa yang dilakukan orang dewasa yang hanya berdua, apa kalian membicarakan soal rahasia juga? Seperti yang aku lakukan saat pura pura tidur padahal aku tidak tidur, mereka suka bicara malam malam setelah aku tidur. Kau juga!"
Dean tertawa. "Ya ... Mungkin semacam rahasia besar!"
Alleyah kembali menoleh ke arah belakang, dimana mobil Robin masih terlihat, dan hotel yang dia lewati juga seorang perempuan yang keluar dari mobil Robin.
"Apa kau sering mengantarkan temanmu pulang Papa?" tanyanya lagi dengan terus melihat ke arah belakang dimana kali ini mobil Robin tidak lagi terlihat.
"Teman?"
"Ya ... Aku tidak pernah melihat Mama di antar pulang oleh temannya kecuali uncle Robin." cicitnya lagi menghempaskan punggung kecilnya pada sandaran kursi jok.
Entah apa ynag kini berada di dalam fikiran Alleyah, yang pasti dia sedang penasaran dengan wanita yang diantarkan oleh Robin.
"Sering terjadi juga, apalagi jika kita memiliki banyak teman, bukankah harus saling tolong menolong sesama teman?"
"Apa kau juga sering menolong teman wanita?"
Dean mengernyit, tiga tahun adalah usia anak yang jarang sekali bisa tahu perbedaan mendetail antara pria dan wanita, terlebih soal teman. umumnya mereka hanya mengenal secara dasar saja, ayah maupun ibu, teman teman seusianya atau hanya sanak keluarganya.
Tapi Alleyah sudah mampu membedakan bahkan terlalu cerdas di usianya yang masih 3 tahun itu.
Dean kini menepikan mobil tepat di depan mall tujuan mereka, dan dia menoleh pada Alleyah.
"Ada yang mengganggu fikiranku Papa ... Dan membuat hatiku sakit!" ujarnya dengan memegang dadanya sendiri.
Ingin sekali Dean tertawa melihat tingkah menggemaskan nya. "What wrong honey? Kau tidak mau ke mall ini? Apa kita ke mall ynag lain saja."
"Bukan hal itu Papa ... tapi ada hal lain, bukannya aku bilang aku tidak pernah melihat Mama diantar temannya? Dia hanya di antarkan uncle Robin saja, tapi aku lihat seorang teman uncle tadi."
"Temab uncle?"
"Ya ... Rambutnya hitam panjang dan turun di sana. gedung tinggi dengan banyak lampu." ujarnya lagi.
Dean mengernyit, menoleh pada spion mobil yang berada di sisi kanan luar, namun dia tidak melihat lagi mobil Robin dan tidak juga peduli urusan dia.
"Ya .. Mungkin uncle Robin memang mengantarkan temannya saja." tukasnya dengan membelai pipi gembil milik Alleyah,
__ADS_1
Dengan hati yang sedikit was was sebab Dean tahu bagaimana tingkah Robin.
"Maybe ... Aku juga tidak tahu, tapi aku sedih. Kenapa Uncle tidak datang ke rumah dan mengantar Mama saja!"