
ucapan Arlene benar benar menohok, wajahnya serius namun dengan tatapan teduh dan tangannya terulur mengusap bahu Dean dengan lembut, dan jika diperhatikan dari jauh sikap mereka berdua sama sama manis dan juga penuh kemesraan.
Dean nyaris tidak bisa berkata kata lagi, selain cantik makin lama Arlene semakin memperlihatkan kepribadiannya yang kuat.
Pria itu itu merekatkan tangan di pinggangnya dan menariknya semakin dekat. Dia menggesekkan dagu pada bahunya dengan lembut.
"Menarik sekali Arlene, kau benar benar tidak bisa di duga. Aku fikir kerja sama ini akan semakin menguntungkan."
Arlene yang tersentak mencoba menahan dirinya dari perlakuan Dean, dia bahkan membalasnya dengan mengelus pipinya, dengan melirik seluruh wanita yang berkumpul tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Tentu Dean,"
Tak lama kemudian Paman Cress datang dan menghampiri keduanya, "Dean ... bisa kita bicara sebentar? Biarkan istrimu bergabung dengan para wanita di rumah ini, paman tunggu disana," ujarnya menunjuk sebuah kursi yang terletak dekat taman, "Ayo Arlene bergabunglah dengan yang lain." sambungnya lagi menyuruh Arlene bergabung dengan semua orang yang sudah jelas jelas membencinya.
Dean mengangguk, "Iya paman!"
Pria itu meninggalkan Arlene seorang diri, dia menyusul pamannya yang tengah duduk menunggunya. Sedangkan Arlene, dia hanya berdiri dengan salah tingkah. Dia kemudian duduk di kursi tak jauh dari ketiga wanita yang yang menatapnya dengan sengit.
"Hey Arlene, kemarilah!" seru bibi Cress, Sorra mengangkat satu sudut bibirnya ke atas, begitu juga Debora.
__ADS_1
Perlahan Arlene bangkit dari duduknya, dia menghampiri ketiganya yang duduk di sofa, situasi yang sangat tidak menguntungkan baginya karena tidak imbang, satu lawan tiga.
"Duduklah!"
"Bibi Cress kenapa menyuruhnya bergabung! Sudah jelas jelas dia berbeda jauh dengan kita, dan aku masih belum percaya jika Dean menikahi wanita sepertinya." Ucap Sorra.
"Maksudmu apa Sorra dia berbeda? Apa dia dari kalangan miskin?" timpal bibi Cress.
"Bukan itu saja! Dia pasti merayu Dean, menjebaknya dan membuatnya tidak punya pilihan selain menikahinya," Sambung Debora.
"Memalukan sekali ternyata kau Arlene?"
"Kau lihat bibi! Sikapnya saja memalukan begitu, walaupun Dean menghabiskan uang banyak untuk membelikannya barang barang mewah yang dia pakai! Tidak bisa menutupi dirinya yang sebenarnya norak, kampungan tetap saja kampungan."
"Sorra ... jaga ucapanmu!"
Miranda akhirnya mengeluarkan suaranya setelah hampir satu jam hanya mengamati. "Jangan merusak suasana dengan ucapanmu dengan mencela orang lain. Kau juga Cress." tambahnya lagi.
Hati Arlene mulai menghangat, Miranda tidak seseram fikirannya dan dia juga secara tidak langsung membelanya.
__ADS_1
"Setidaknya diam lah sampai acara selesai, jangan biarkan orang lain tahu jika dia istri Dean!"
Deg
Arlene sontak terhenyak, baru saja dia berfikir jika Miranda membelanya, namun rupanya salah. Miranda sama saja dengan Debora dan Sorra juga Bibi Cress yang tidak menerimanya dengan baik.
Wanita berambut coklat itu menggigit bibir bagian bawahnya sedikit, berusaha menguatkan dirinya agar tidak emosional apalagi bertindak gegabah. Namun rasanya dia tidak terima, jika mereka semua menginjak nginjak harga dirinya sedemikian rupa.
"Ibu benar Sorra! Jangan sampai keluarga kita yang lain tahu, itu akan menyakiti hati Selena. Dia sedang dalam perjalanan kemari." Debora menyimpan ponsel yang dia otak atik untuk membalas pesan Selena.
"Dan kau Arlene ... kau dengar apa kata Nenek? Kami semua tidak menginginkanmu ada di mansion kami! Jadi lebih baik kau tinggalkan Dean dan mansion ini!" sambungnya lagi dengan tegas.
Arlene masih memasang senyuman kecut, walau darahnya mendidih. Terlihat dia mengepal ujung dressnya dengan erat.
"Maaf Nenek, ibu, bibi dan kak Sorra ... apapun yang akan kalian ucapkan tidak akan merubah apapun. Dean sangat mencintaiku begitupun aku yang mencintainya. Kami saling mencintai, ditambah putri kecil yang melengkapi kebahagian kami sebagai keluarga kecil. Dan kalian tidak pantas untuk menyuruhku meninggalkannya, kenapa tidak kalian coba bicara pada Dean dan menyuruhnya meninggalkanku?" ujarnya menohok, dia lantas bangkit dari duduknya dan berlalu pergi tanpa mengucapkan apa apa.
Sorra mendengus kesal, begitu juga Debora yang tertohok melihat balasan darinya.
"Kalian lihat sikapnya itu? Sombong sekali."
__ADS_1