Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.28


__ADS_3

"Apa maksudmu. Kau bilang apa barusan?" tanya Dean terperangah.


"Ya aku hanya menduganya saja, itu pun karena ucapan nenek padaku tadi" Sahut Arlene dengan membelakangi Dean karena pria itu terus menatapnya. "Memangnya nenek bicara, apa katanya?"


"Katanya bagaimana denganku yang melakukan kebohongan besar ini, aku kira nenek mengetahui kalau kita hanya berpura-pura saja Dean!" ujar Arlene dengan wajah yang terlihat resah.


Dean berkilah dengan penuh percaya diri. "Tidak, mana mungkin. Nenek tidak akan mungkin tahu."


"Bagaimana kau tahu, kau saja bahkan tidak menunjukkan surat-surat yang menyatakan kalau kita pernah menikah atau apapun itu entahlah, aku tidak tahu. Yang pasti aku tidak pernah tahu atau melihat sesuatu yang bisa kita jadikan bukti kuat kalau mereka kambali meragukan hal ini." tukas Arlene semakin panik, padahal jika sampai ketahuan pun dia tidak akan rugi sama sekali.


Dean melangkah menuju lemari, "Kau salah Arlene, Aku bahkan menyiapkan semuanya dengan baik dan nenek tidak mungkin tahu jika aku berbohong," tukasnya dengan membuka lemari dan mengambil sesuatu dari dalam sana.


Sebuah map berwarna merah yang dia simpan di atas ranjang dan mampu membuat Arlene penasaran.


"Kau lihat itu dan baca baik-baik. Aku bahkan menyiapkan ini dari awal dengan sangat rapi, kau pikir aku bodoh?"


Lagi lagi Arlene dibuatnya tercengang saat melihat surat-surat dari catatan sipil yang menyatakan kalau mereka tercatat didalam pernikahan. "Hah ... kapan kau melakukan hal ini?"


"Kau tidak perlu tahu itu, tidak penting juga untuk kau tahu bagaimana aku bisa mendapatkannya. Itu jadi urusanku."


"Tapi nenek mengatakan hal itu kepadaku ... Oh tidak. Ya Tuhan ... aku pusing!"


"Tidak usah kau pikirkan, yang paling penting saat ini. Kalau nenek bertanya padamu atau mengatakan hal apapun itu padamu lagi, kau jangan panik dan mengatakan kebenaran padanya, sebisa mungkin kau sanggah mereka, kalau perlu tunjukkan surat ini kepadanya." tukas Dean.


"Kenapa bukan kau saja yang melakukannya. Kenapa aku harus aku, kau tidak berani melawan mereka ... aku heran kepadamu yang hanya berani melawan dari belakang atau bicara apapun dari belakang tapi tidak pada saat berhadapan dengan mereka, khususnya dengan nenekmu." ujar Arlene dengan hanya satu tarikan nafas saja. "Kau akan diam membisu seperti seekor lalat menyebalkan saat berhadapan dengan mereka langsung." Arlene melemparkan berkas-berkas di atas kasur lalu masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.


"Kenapa aku menjadi marah tidak jelas seperti ini seolah-olah aku yang merasa dipermainkan atau Entahla, aku saja tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku. Ya Tuhan ... Gara gara masalah ini aku jadi gila. Jika ternyata aku menyukai Dean bagaimana ini, Oh ... Ya Tuhan!" gumam Arlene yang terus mengeluh di depan cermin kamar mandi.

__ADS_1


"Astaga ... kenapa dia begitu menggoda sampai membuatku terpancing untuk melakukannya dan sulit menahananya." gumam Dean yang juga sibuk bicara sendiri dengan menatap pintu kamar mandi.


Keduanya menghembuskan napasnya bersamaan ditempat berbeda. Terlebih Dean yang meraup kasar wajahnya yang tampan.


"Ini benar-benar gila," cicitnya lagi dengan kembali merebahkan tubuh di atas sofa.


Arlene keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang lebih segar dari sebelumnya, dia berdiri menatap Dean yang sudah tertidur dengan pulas diatas sofa.


"Kalau dia tidur di atas sofa, Berarti malam ini aku tidur di atas ranjang ...." ucapnya tersenyum, dia naik ke atas ranjang berukuran king. "Aaah senangnya!" ujarnya lagi dengan menghempaskan tubuh lelahnya di atas ranjang yang sangat empuk dan hangat.


Kedua mata terpejam dan siap menuju ke alam mimpi, namun tiba-tiba kembali terbuka dan memgerja menatap langit langit kamar. Kemudian dia bangkit dengan posisi terduduk, menatap Dean yang sudah merajut mimpi.


Dia sengaja tidur di sofa dan membiarkan aku tidur di ranjang, agar dia bisa pindah sewaktu waktu dan tidur bersama aku. Oh di sini ... tidak Oh my god aku bisa lebih gila lagi.


Arlene kembali turun dari ranjang, memeluk bantal dan mengguncangkan bahu Dean kembali.


Namun dia tidak bereaksi, bahkan tidak bergerak sama sekali dengan guncangan di bahunya, seolah dia tengah menjelajah alam mimpi yang sangat jauh dan tidak peduli apapun lagi.


"Dean bangunlah, kau pindah kesana dan biarkan aku tidur di sini."


Lagi-lagi dia tidak merespon, akhirnya Arlene memilih menendang sofa dan kembali ke atas ranjang dengan kesal.


"Awas saja kalau dia berani macam-macam denganku, kali ini aku tidak akan memaafkannya." gumamnya kembali dengan menyusun bantal-bantal di sekelilingnya agar menghindari hal-hal yang akan terjadi nanti.


Sementara itu Miranda terduduk di kursi di depan ranjang kamarnya, menggenggam selembar kertas hasil laporan dari asistennya yang dia suruh untuk menyelidiki Dean dan Arlene, termasuk pernikahan mereka yang aneh menurutnya.


Dengan kuat Miranda meremas selembar kertas berstempel itu dengan tangannya lalu melemparkannya begitu saja ke arah tempat sampah kecil yang berada di sudut ruangan.

__ADS_1


ucapan Alena padanya tadi bak Sembilu yang menghujam tajam jantungnya, yang diucapkan oleh orang yang tidak tahu apa-apa mengenai masa lalunya dahulu bahkan tidak tahu apa-apa mengenai keluarganya, seseorang yang datang secara tiba-tiba, membuatnya terkejut dan seringkali membuatnya marah. Namun Miranda mengakui keberanian Arlene saat berbicara di depan semua orang untuk membela Dean sekalipun Dean hanya terdiam tanpa Kata dan takut kepadanya.


Sementara Arlene tidak terlihat takut pada siapapun, dia bahkan berani melawan Debora dan juga Sorra saat mereka mengintimidasinya, wanita yang pantang menyerah dan tidak membiarkan orang lain merendahkannya.


Miranda menengadahkan kepala menatap langit-langit kamar berusaha berpikir dengan jernih namun tidak juga bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaannya. Selama ini kenapa dia melakukannya? atas dasar apa dia melakukannya.


Pertanyaan-pertanyaan itu terus berseliweran, berputar berputar berulang kali dia di dalam kepalanya hingga membuatnya sedikit pusing.


"Li?" ujarnya pada asisten Lee yang tidak juga beranjak dari tempatnya berdiri, hanya menunggu dan menjaga Miranda dengan baik.


"Ya nyonya besar!"


" Pulanglah Dan istirahat, kau pasti lelah setelah seharian menjagaku di sini."


Li menggelengkan kepalanya. "Kau duluan saja nyonya besar ... Aku tidak apa-apa justru aku senang bekerja di sini dan melayanimu dengan sepenuh hati." lirihnya "Li?" Tanyanya lagi lagi memutuskankan.


"Apa yang terjadi hari ini tolong rahasiakan dari siapapun, aku Masih Ingin memastikan sesuatu lagi Li."


"Maaf Nyonya besar, lalu apa yang harus aku lakukan," ujarnya rahu, namun terpaksa melakukannya." Bagaimana dengan rencana pernikahan Dean dan juga Selena " Biar itu aku putuskan itu nanti saja, sekarang kau pulanglah dan beristirahat." gumam Miranda tanpa melihat sedikitpun ke arah belakang di mana Li menggangguk anggukan kepalanya mengerti.


"Baik lah kalau begitu aku permisi!" ujar Li yang langsung undur diri. "Aku akan pulang dan kembali besok pagi nyonya besar." tukasnya lagi sebelum dia keluar dari kamar dan berlalu.


Li berjalan menuju ke area belakang Paviliun di mana tempatnya selama ini dia tinggal, Li memang kerap pulang ke rumahnya sendiri hanya saat sedang libur saja.


Dan memilih tinggal bersama pegawai lain yang memang tidak tinggal di tempat jauh, di area Paviliun belakang, namun langkahnya terhenti di ambang pintu masuk saat suara seseorang memanggilnya.


"Li ... Aku ingin bicara padamu,"

__ADS_1


__ADS_2