
Dean menutup pintu walau Zoya terus bicara tentang ketidak miripan antara Alleyah dan dirinya. Dia bahkan menguncinya agar adiknya yang cerewet itu tidak lagi berusaha masuk. Bertepatan dengan Arlene yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Dean terperangah, melihat wanita yang baru sehari dia kenal itu tanpa berkedip. Bahkan nyari tidak percaya jika wanita itu adalah Arlene.
Ternyata dia cantik juga kalau berdandan.
Arlene mengernyit, menatap Dean yang juga menatapnya, "Apa?"
Dean menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu kembali menyambar ponselnya di atas meja.
"Tidak ... tidak apa-apa, aku hanya__" Kali ini dia berjalan memutar hingga kembali duduk di sofa dan berpura-pura sibuk dengan mengotak ngatik benda pipih itu di tangannya.
Arlene mengerdikkan bahu, dia kembali memandang pantulan dirinya di didalam cermin, "Aku akan membawa Alleyah!"
"Bawa saja aku tidak peduli juga!"
"Eeh bener juga kita hanya suami istri bohongan untuk apa aku bilang padamu, menyebalkan." gumam Arlene, yang memperbaiki sedikit riasannya.
Arlene membawa Alleyah yang masih tertidur, dia keluar dari kamar dan mendapati Zoya tengah menunggunya di ruang tamu.
"Kakak ipar mau bawa Alleyah?" tanyanya heran karena Alleyah masih tertidur pulas. "Kasian dia kak."
Arlene mengangguk, "Tidak apa apa."
"Kita akan sarapan disana, jadi kasian nanti Alleyah kalau harus nunggu lama." Zoya bangkit dari duduknya lalu menghampirinya, "Kak Dean kan sedang libur, suruh dia mengasuhnya, dia kan tidak punya pekerjaan!"
"Tidak apa apa Zoya ... lebih baik aku membawanya saja!" Arlene tidak percaya Dean bisa mengasuh putrinya.
"Nanti dia akan kesal dan nangis karena kita shoping, pasti dia bosan!" ujar Zoya dengan mengambil Alleyah dari pangkuan ibunya, dan kembali masuk ke dalam kamar.
"Kak ... kakak kan tidak mau ikut? Jadi Alleyah, kakak saja yang urus! Ya." ujarnya dengan meletakkan Alleyah di pangkuan Dean, "Aku dan Kakak ipar kan mau we time, jadi hari ini kau asuh putrimu ya." ujarnya lagi lalu segera keluar sebelum Dean sempat berkata kata.
Dean berdecak, dia tidak ada pengalaman mengurus bayi selama ini, bagaimana jika Alleyah menangis saat ibunya tidak ada.
"Zo ... Zoya!!" Dean keluar dari kamar, "Arlene!"
Arlene menolehkan kepalanya, dia sebenarnya tidak mau meninggalkannya tapi sesuatu menggelitiknya untuk mengerjai Dean.
"Zoya ... Tunggu sebentar!"
__ADS_1
Dean menatap keduanya yang berjalan keluar mansion, namun Arlene tiba tiba kembali berjalan ke arahnya.
"Dengar ya, aku membayarmu untuk berpura pura jadi istri dirumah ini. Bukan melakukan hal ini dan itu apalagi menyuruhku mengasuh Alleyah!"
"Justru itu, dengan begini semua orang akan yakin kalau kau memang papa nya. Jadi tolong urus putriku dengan baik kalau tidak, mereka tidak akan percaya kalau kau sudah menikah dan punya anak Dean." pungkasnya menohok.
"Kau!!"
Arlene terkekeh, merasa situasi ini mulai menyenangkan baginya. Zoya melambaikan tangan ke arahnya menyuruhnya untuk segera, sementara Dean hanya menatapnya.
"Aku pergi ya," gumamnya dengan menepuk pipi Dean.
"Sial ... bagaimana ini!" Dean hanya menghela nafas saat melihat keduanya keluar dari mansion, sementara Alleyah mulai menggeliat di dalam gendongannya.
"Apa yang kau lakukan, kau membiarkan istrimu pergi shoping sementara kau mengasuh anak." decih Sorra yang entah kapan berdiri di dekatnya. " Memalukan kau ini!"
"Memangnya kenapa? Dia putriku dan sudah kewajibanku menjaganya, Istriku perlu menyegarkan fikirannya karena orang orang di rumah ini." sahutnya menohok, berlagak menjadi seorang suami pengertian.
Namun juga membuatnya tersenyum dengan sandiwara yang dibuatnya sendiri. Membuat Sorra mendengus, lalu melengos begitu saja ke kamar ibunya.
Sementara Arlene masuk kedalam mobil berwarna putih yang dikemudikan Zoya, gadis remaja berumur 16 tahun itu sudah mahir mengemudi bahkan lebih lihai di bandingkan dirinya. Yang lebih menarik perhatiannya adalah semua yang dikenakannya adalah produk dari desainer ternama. Membuat Arlene yang sedari tadi memperhatikannya terus tersenyum.
Arlene mengalihkan pandangannya setelah Zoya menyadari jika dia memperhatian dirinya, "Tidak ... aku hanya suka gaya pakaian mu."
"Masa sih ... kakak juga bisa beli kalau cuma merek ini! Murah kok. Dan ngomong ngomong ya kayaknya ukuran baju kita tidak terlalu jauh deh!"
"Aaah ... iya, hanya saja___"
Tidak Arlene, jangan bodoh! Kau mau katakan hal yang sebenarnya sekarang pada Zoya?
Zoya mengernyit, "Mungkin kakak ipar terlalu sibuk mengurus bayi sampai tidak punya waktu mengecek katalog terbaru dari merek ini iya kan?"
"Hm ... begitu lah Zoya!!"
"Memang iya, prioritas wanita setelah menikah itu adalah suami dan anak, dan sisanya untuk dirinya sendiri." Tukas gadis remaja yang justru bicara begitu menohok.
"Hem ... kau ini bicara seolah kau sudah menikah saja!"
Arlene tertawa, begitu juga Zoya hingga dia merasa bahwa keputusannya untuk tetap mengambil tawaran Dean dan tidak pergi karena melihat reaksi keluarga Dean yang lain tidaklah salah.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka tiba di mall, Zoya mengajaknya masuk ke outlet outlet dengan merek kenamaan yang selama ini hanya jadi khayalannya saja, tanpa ragu, Arlene masuk mengikuti langkah Zoya.
Apakah aku bermimpi? Dress dan tas ini hanya bisa aku lihat di buku katalog di pusat kota, tapi hari ini aku ada didalam sini. batin Arlene dengan memegang dress impiannya yang halus.
"Selamat siang nona Zoya." sapa seorang penjaga outlet disana.
"Siang!' jawab Zoya dengan tersenyum penuh.
Bahkan pelayan disini saja mengenalnya, aku tidak tahu sekaya apa keluarga Mcdermott, tapi yang pasti sangat kaya. batin Arlene saat tahu semua pelayan disana menyapa Zoya, dan tersenyum padanya.
"Sepertinya ini sangat cocok untuk kakak ipar!" ujar Zoya memberikan satu dress berwarna merah muda sebatas lutut.
"Benarkah??"
"Hem ... Kakak ipar coba saja!"
"Itu keluar paling terbaru di outlet kami nona Zoya, bahkan hanya dipasarkan sebanyak sepuluh buah." ucap pelayan yang sedari tadi terus mengikuti Zoya dan memberikannya beberapa pilihan bagus.
Arlene mengambilnya dari tangan Zoya, dia juga memilih dua lalu dia membawanya masuk kedalam fitting room.
"Nona Zoya ... apakah wanita itu benar kakak iparmu? Yang berarti istri dari Tuan Dean?" tanya pelayan toko itu dengan sedikit berbisik.
"Benar sekali ... cantik kan?" sahut Zoya dengan melangkahkan kakinya.
Pelayan itu mendengus pelan, dia juga melirik arah fiting room dimana Arlene tengah mencoba dress.
"Beruntung sekali dia ya Nona, tapi terlihat bukan dari kalangan yang sama dengan kalian!" sarkasnya.
"Apa maksudmu?"
"Aah tidak non ... permisi." pelayan itu buru buru melangkah pergi, setelah melihat Zoya bersikap sinis padanya.
Tak lama Arlene keluar dari ruangan fitting room, dengan dress berwarna merah yang ternyata limited edition.
"Zoya?" tanyanya dengan kedua tangan merentang. "Bagaimana menurutmu?"
Zoya hampir tidak percaya, dia berdecak kagum, saat tubuh ramping Arlene kini terbalut dress pilihannya.
"Perfekto!"
__ADS_1