
"Pergilah, aku tidak ingin bicara apapun denganmu!" suara Miranda sangat datar dan tanpa perasaan, bahkan menoleh sedikit saja tidak.
Namun inilah kesempatan Arlene yang tidak akan disia siakannya begitu saja, mengingat Miranda dengan sifat dingin dan tanpa peduli itu justru menolong putrinya yang tengah demam tinggi tempo hari. Arlene yakin jika Miranda juga masih memiliki hati nurani. Namun semua itu tertutup oleh rasa ego atau entahlah apapun itu.
"Bisakah aku bicara sebentar saja nek? Tidak lama, lima menit saja," tukasnya menyakinkan. "Setelah lima menit aku janji akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi Nek,"
Miranda hanya menoleh ke arah asistennya yang berdiri dibelakangnya dengan waspada, "Lima menit lalu pergi!"
Tegas dan lugas, sepertinya hidupnya selama ini hanya ada ketegangan saja, entah bagaimna hidupnya sewaktu Miranda muda, Arlene tidak dapat membayangkannya sedikitpun.
Sang asisten yang paham langsung mundur dan pergi menjauh, sementara Arlene terdiam karena mengira Miranda bicara pada asistennya bukan pada dirinya.
"Waktumu tinggal empat menit lagi!"
Arlene mengerjapkan kedua mata, dia gelagapan dan tidak tahu harus muai bicara dari mana.
"Waktumu akan seera habis!" tukasnya lagi dengan intonasi yang sama.
"Nek ... Apa nenek dulu tidak bahagia dengan suami nenek?" tanyanya konyol, "Aku rasa nenek tidak bahagia menikah dengannya, makanya Nenek maelakukan hal ini pada Dean. Iyakan? Apa nenek juga dijodohkan dulu?" tanyanya lagi tanpa berfikir dua kali.
"Kau! Tidak tahu apa apa... Pergilah! waktumu sudah habis." ketusnya dengantatapan tajam.
Arlene masih belum puas dengan pertanyaannya yang tidak dijawabnya, "Apa nenek tidak pernah merasa bahagia, sampai nenek tidak pernah bertanya apa Dean dan Selena akan bahagia jika mereka menikah nanti? Yang sudah jelas jelas Dean tidak menerimanya karena dia tidak mencintainya. Apa nenek juga ingin Dean hidup sepertimu yang tidak pernah sedikitpun bahagia, walau hanya sedikit saja?"
"PERGI!!"
Arlene tersentak dengan suara menggelegar darinya yang sepertinya marah dan tidak ingin mendengar ucapan apapun darinya..
"Tapi nek, kumohon batalkan perbikahan mereka karena Dean tidak akan bahagia, dia akan memilih pergi dari sini jika itu terus terjadi, dia tidak akan peduli kalaupun nenek mencoret namanya dari daftar keluarga ini." tukas Arlene lagi,
Melihat majikannya yang marah dan kesal, auisten menarik lengan Arlene dan menyuruhnya untuk segera pergi, walaupun Arlene masih berusaha melepaskan diri namun dia tetap saja kalah.
"Nek ... Kau akan menyesal nanti, Dean tidak hanya akan membencimu tapi juga tidak akan menganggapmu neneknya lagi kalau kau sajatidak mau mendengarkannya!" Arlene masih terus berteriak, berharap Miranda terganggu dengan segala ucapannya dan berubah fikiran. "iihh ... Lepas, aku belum selesai bicara." tukasnya pada asisten yang terus membawanya ke belakang.
__ADS_1
"Lalu kau sendiri bagaimana?" ucap Miranda yang bangkit dari kursi lantas berjalan ke arahnya dengan tatapan yang seolah siap melahapnya habis saat itu juga. "Bagaimana denganmu Arlene? Apa kau merasa paling benar dengan kata katamu itu. Apa yang kau dapatkan dari kebohongan besar ini. Hm?"
DEG!!
"A---apa maksud nenek?" tanyanya gelagapan.
"Kau tahu dengan pasti apa yang aku maksud!" ujar Miranda yang melangkahkan kaki melewatinya, "Ayo pergi Li." ujarnya kemudian pada sang asisten.
asisten yng dipanngil Li itu melepaskan cekalan tangannya pada Arlene dan pergi menyusul Miranda yang sudah melngkah beberapa langkah didepannya, sementara Arlene terdiam tanpa kata, terpaku ditempatnya tanpa bisa mencerna ucapan Miranda padanya.
"Appa nenek sudah tahu kalau aku bukan Istri Dean, apa maksudnya itu?" gumamnay dengan terusmelihat ke arah Miranda yang masuk ke dalam ruangan mansion utama.
***
Arlene kembali masuk ke dalam kamar dengan fikiran yang semakin penuh saja, alih alih mendapat anin segar saat memutuskan jalan jaan sebentar justru kembali denga kebingungan yang mendera nya karena ucapan dari Miranda.
"Kau dari mana saja?" seru Dean yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Alleyah menangis dan mencarimu," ujarnya lagi dengan membaringkan dirinya di atas sofa.
"Tadi ... Setelah aku beri dia suebotol susu dia lagsung tidur lagi." tukas Dean dengan kaeduamata yang tertutup,
Arlene dibuatnya kembali terperangah, lagi lagi sikap Dean tidak bisa dia tebak. Denagn mudahnya pria berlesung pipi itu berubah ubah dengan cepat.
"Teriam kasih!"
"Aku melakukannya karena dia sangat berisik, lain kali jangan pergi seperti ini!" tukasnya dengan membalikkan tubuhnya ke arah lain.
Entah harus mengatakannya atau tidak pada Dean mengenai apa yang diucapkan Miranda tadi, Arlene hanya berjalan mondar mandir saja di depan ranjang dalam keadaan resah.
Sepertinya aku harus mengatakannya. Batin Arlene.
"Dean ... Bangunlah, aku ingin bicara denganmu."
Arlene menyentuh bahu Dean, namun pria itu tidak menggubrisnya, hingga dia kembali menggoyangkan bahunya lagi beberapa kali,
__ADS_1
"Dean? Kau belum tidur kan? Ada sesuatu yang harus aku katakan, ini sangat penting!" ujarnya lagi dengan terus menggoyah bahu dengan sedikit kuat dari sebelumnya,
Dean berbalik, bertepatan dengannya yang tengah di posisi mencondongkan tubuhnya tepat di depannya hingga keduanya saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, bahkan saking dekatnya, nafas keduanya saling menyerbu hangat mengenai wajah mereka.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Dean dengan terus menatap wajah cantik Arlene,
Arlene bangkit sekaligus membalikkan tubuhnya membelakangi, berusaha menetralisir fikiran serta hatinya yang mendadak tidak karuan.
"Aku ....!"
"katakan saja Arlene, aku mendengarmu." Dean bangkit dari menghampirinya.
Arlene berbalik, namun justru menabrak tubuh Dean dan membuatnya terhuyung e belakang karena dirinya yang tersentak kaget dan tidak siap dengan posisi Dean yang berada tepat di belakangnya.
Lagi lagi situasi seperti ini kembali terjadi, membuat keduanya semakin terdiam dan salah tingkah, Dean yang memegangi pinggangnya karena Arlene yang hampir terjengkang ke belakang.
"Jangan memanfaatkan situasi Dean!" cicitnya, namun gerak motoriknya justru tidak berfungsi dengan baik hingga dia saja masih terdiam tanpa berusaha melepaskan diri dari Dean.
Dean mengulas senyuman, semakin memajukan wajah ke arahnya. " Apa kau juga merasakannya Arlene?"
"Apa?"
Dean semakin maju dan menyambar lembut bibir Arlene yang terasa manis dengan aroma stobery. Ntuk sepersekian detik, mereka terbuai dengan paguttan lembut yang terjadi begitu saja tanpa rencana apa apa. Entah mereka terbawa suasana ataupun kaena hati masing masing.
Dean menghentikan aktifitasnya, dengan lembut dia menyapu ujung bibir Arlene yang semakin menggoda dengan warna kemerhan di wajahnya yang kini terlihat jelas.
"Maaf!" cicitnya dengan melepaskan tangannya pada pinggang Arlene secara tiba tiba.
Dean tersadar dengan apa yang dilakukannya, dia sendiri tengah berusaha menguasai dirinya saat situasi yang sering membuat degup jantungnya berirama lebih kencang.
Begitu juga dengan Arlene yang mengerjapkan kedua matanya setelah apa yang baru saja terjadi diantara mereka, menjadi salah tingkah dengan menggiit bibirnya sedikit.
"Dean ... Bagaimana kalau Nenek tahu kita hanya pura pura jadi suami istri Dean?"
__ADS_1