
Arlene tersentak, suara tegas dan disertai ketus dengan wajah datar, tidak lupa kedua mata tajam menatap dirinya.
"Aku Nek," Jawab Dean singkat, "Dia istriku dan bukankah ini memang tempat yang paling cocok untuk menantu di rumah ini." pungkasnya lagi dengan memegang tangan Arlene.
Sungguh, kali ini Arlene merasa sedang tidak bersandiwara, perasaannya campur aduk terhadap semua sikap yang diperlihatkan oleh semua keluarga Dean terhadapnya, atau karena dia terlalu menjiwai perannya.
"Siapa yang menyetujui pernikahan kalian?" suara Miranda lebih menggelegar lagi tatkala mengatakannya, "Dean?!"
Tersudutkan, bak seorang tersangka yang tertangkap basah, tatapan Miranda bagai pedang yang siap menghujamnya sampai mati. Walau Dean sudah menjawabnya namun sepertinya Miranda tidaklah puas, terlihat senyum cibiran dari Sorra dan Selena yang saling menatap dengan jijik dan puas karena Nenek berada di kubu mereka. Tidak ada orang yang mendukungnya.
"Kenyataannya memang aku sudah menikah dengannya Nek, jadi aku harap Nenek mengerti, Nenek paham begitu juga dengan semua orang." ucap Dean dengan tegas. "Aku mencintai Arlene, dialah Istriku!"
"Dean!" desis Debora, yang mengingatkan putranya agar tidak terus bicara dan akan membuat Miranda semakin marah.
Miranda masih terdiam, raut wajahnya bahkan tidak berubah sedikitpun, bergitu juga dengan Arlene yang terus ditatapnya.
"Mati, bisa bisa aku mati berdiri jika semua orang melawan kita Dean. Ini berat!" Desisnya yang hanya bisa didengar oleh Dean seorang.
"Kau menyerah? Jika ya ... Siap siap saja kembalikan uang yang aku berikan bersama denda 10 kali lipat!"
Arlene menoleh pada pria yang tersenyum manis dengan kedua alis yang naik turun.
"Kau gila!" gumamnya tanpa suara. "Mana mungkin aku harus mengembalikan uang serta denda?"
"Kalau begitu tetaplah pada rencana yamg sudah ku buat, kau hanya perlu bersandiwara dengan baik." Bisik Dean dengan merekatkan tangnnya pada tangan Arlene.
"Siapa namamu?"
Arlene tersentak dengan pertanyaan sederhana keduaa yang dilontarkan oleh Miranda dengan nada datar dan juga suara tegas namun membuat lututnya semakin lemas.
"Arlene ... Arlene Khesya."
Miranda tidak bereaksi saat mendengarnya, dia bahkan tidak melihat kearah Arlene, sementara Debora dan juga Sorra menarik bibirnya ke atas karena sang pemilik kekayaan tidak peduli pada wanita yang baru saja datang ke keluarga mereka.
"Lain kali kau perhatikan semua aturan yang sudah kami terapkan dalam keluarga ini yang sudah diterapkan jauh sebelum kau datang Arlene!" ketus Miranda, membuat kedua wanita yang berada disamping kanannya bersorak, sementara Arlene menelan saliva dengan susah payah. Dean menyentuh lengannya, dia menoleh kearah pria yang menyewanya dengan mahal lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kau boleh menyerah sekarang dengan segala resiko atau kau ambil hati Nenek dengan baik ... Buat dia menyukaimu." gumam nya pada Arlene yang semakin terlihat resah.
Arlene mengangguk pelan, namun dia tidak bisa pungkiri lagi jika dia tidak yakin untuk mengambil hati Miranda, dia tidak peduli pada semua orang disana, sebab Deanpun tidak memeperdulikannya, Pria itu hanya fokus pada restu sang Nenek karena jika Miranda sudah setuju, dipastikan semua orang akan menerima semua keputusannya.
Bagaimana ini, semua orang di rumah ini menganggapku musuh mereka, dan mereka semua tidak ada yang mendukungku, aku tidak ingin peduli, tapi ini akan semakin sulit karena Nenek. Tapi aku juga tidak bisa kembalikan uang yang sudah masuk kedalam dompetku, ditambah Denda. Ya tuhan, kau bodoh sekali Arlene. Batin Arlene bicara.
"Makan!" seru Miranda, dia benar benar tidak peduli saat Arlene menyebutkan namanya.
Semua orang mulai bergerak, menyuap makanan yang sejak tadi mereka tunggu, namun tidak dengan Arlene, dia terus memperhatikan tangan Miranda yang menyuap dengan perlahan, dia baru mulai ikut menyendok mengikuti pergerakan sang penguasa mansion dari pada salah lagi.
Hening
Semua menyantap makanan yang berada di piringnya masing-masing, tidak ada satupun yang mengobrol apalagi berbisik bisik. Aturan pertama yang Arlene perhatian dan selalu akan dia ingat.
"Nenek!!!"
Seru seorang gadis berlari masuk, semua orang menoleh kearah pintu yang kini terbuka.
"Aku pulang! Ada yang merindukanku?"
"Nenek kau tidak merindukanku? Aky rindu Nenek, rindu ibu, rindu kakak, semua aku rindu, rindu rumah ini, dan tentu saja rindu masakan pak Eddi." selorohnya dengan menggerak gerakan tubuhnya hingga tubuh sang nenek ikut bergerak.
"Zoya hentikan!! Kau membuat nenek pusing!" Seru Miranda.
"NenekĀ ... Nenek tidak tahu seberapa merindukanmu aku ini!" ucapnya dengan terus bergerak, kali ini dia memeluk sang ibu, dan juga melakukan hal yang sama.
"Ibu .....!"
Debora menepis tangan Zoya, kepalanya ikut berputar karena ulah anak bungsunya yang terlalu aktif. "Zoya hentikan ... kenapa kamu pulang sebelum waktunya Hem??"
"Apa ibu lupa? Liburan semester ini lebih panjang, bukankah pihak asrama sudah memberi tahukan sebelumnya pada ibu?" Zoya tersungut dengan terus bergerak.
Sorra menghela nafas, "Sudahlah Bu ... dia memang begitu kan! Akan pulang dan pergi sesuka hatinya. sama seperti kakak kesayangannnya!" Deliknya pada Dean.
"Hanya kak Sorra yang tidak pernah senang kalau aku pulang kerumah ini!" ucap Zoya yang tidak peduli pada kehadiran Selena yang tersenyum melihatnya.
__ADS_1
"Zoya ... senang melihatmu lagi!" sapanya basa basi.
"Tapi aku tidak senang melihatmu Selena!"
Selena mendengus kasar, lalu mengepalkan tangan dibawah meja. Zoya kemudian berjalan menghampiri Dean, memeluknya erat, kakak kedua dan pria satu satunya di rumah ini yang sangat peduli dibandingkan yang lain.
"Kak Dean...!"
"Zoya ... kelinci Manisku!!" ujar Dean tertawa.
"Iih ... selaluk deh menyebutkan nama itu! Aku sudah besar sekarang! Tinggiku saja sudah akan menyusulmu." Zoya mencubit lengan Dean. Hingga Dean meringis,
Lalu kedua matanya tertuju langsung pada Arlene yang berdiri disamping Dean.
Keduanya saling menatap, Zoya mengernyit dengan orang yang baru dia lihat disamping sang kakak.
"Ini Arlene ... istriku!" ujar Dean menaik turunkan kedua alisnya.
"Hah ... benarkah? Cantik sekali kakak ipar," Zoya menggosok tangannya pada celana yang dikenakannya, lalu mengulurkan tangannya ke arah Arlene. "Zoya Raveena ... panggil saja Zoya, adik kesayangannya kak Dean! Benarkan?" ujarnya pada Dean.
"Sure!! Ayo duduklah ... kau tidak ingin melihat semua orang marah kan Zo!!"
"Iihhh ... panggil aku Zoya ... bukan Zo!!" Zoya menaikkan volume suaranya satu oktav.
Membuat semua orang bergeleng kepala atas kelakuan gadis berumur 18 tahun yang selalu berteriak.
"Zoya. Duduk ...!" seru Miranda, "Apa aku harus ikut berteriak saat melihat tingkahmu itu?" katanya lagi.
"Iya Nek ... aku akan duduk!"
Kali ini Zoya merengut, dia kembali berjalan memutar dan menarik kursi disebelah Sorra, dan tepat berhadapan dengan Dean.
Ruang makan dengan ornamen serba gold dipadukan warna silver menjadi hening kembali, mereka benar benar menikmati setiap kunyahan dari piringnya masing masing, hingga beberapa maid datang hanya untuk membereskan meja karena jam makan malam telah usai. Hanya Arlene yang masih terlihat memegang sendok dan garpu ditangannya. Ingin sekali dia menambah makan malamnya, porsi sedikit tidak membuatnya kenyang.
"Arlene ...!" Dean menunjuk sendok dan garpu dengan lirikan matanya saja. Menyuruhnya meletakkannya segera karena maid akan mengambilnya.
__ADS_1
"Aku masih lapar Dean."