
Baron menghempaskan tangan Dean dengan kasar perkataan darinya membuat hatinya teriris, tanpa dia sadari perbuatananya selama ini memang sudah keterlakuan. Dean terlihat menyayangi Alleyah putrinya, dan itu membuatnya kesal.
"Itu bukan urusanmu. Apa hakmu disini, bagaimanapun juga dia adalah putriku bukan putrimu!"
"Ya tapi aku lah yang merawatnya, akulah yang dia panggil Papa bukan kau!" timpal Dean dengan penuh percaya diri, terlebih saat Alleyah akhirnya berada di pangkuannya.
Gadis balita itu bahkan langsung memeluk dirinya dengan erat, dengan menelengkupkan kepalanya pada leher Dean, dan tangisannya pun berhenti saat itu juga. "Kau lihat ini. Dia bahkan tidak memperdulikanmu. Apakah kau tidak lihat ikatan yang sudah terjalin pada kami berdua walaupun aku sadar aku bukanlah Ayah kandungnya," terang Dean membanggakan diri, entah kenapa hatinya begitu bangga saat mengatakan hal itu pada orang lain.
"Aku mencintai ibunya secara otomatis aku menerima putrinya juga!"
Arlene mengulas senyuman walau senyuman palsu yang dia pasang seindah mungkin saat mendengar perkataan yang indah keluar dari bibir Dean.
Kau pandai sekali bersandiwara Dean, tapi aku beruntung kali ini karena kedatanganmu. Astaga ini membuatku semakin rumit, posisi lain aku ingin menghindarinya kenapa malah bertemu dengan Baron dan saat ini aku justru membutuhkan Dean. Ini membuatku gila, bagaimana aku bisa pergi jauh! Aku tidak percaya ini terjadi. Tuhan apa yang harus aku lakukan, batin Arlene.
Baron masih tidak terima penjelasan Dean, dia menatap Arlene yang pura-pura tidak melihatnya.
"Apa ini benar atau ini hanya bualanmu saja agar kau bisa lari selamanya dari ku? Kau merekayasa semua ini hanya untuk menghindariku kan Arlene!" tukasnya lagi dengan mencekal lengannya kasar.
"Lepaskan dia! Kau ingin aku laporkan pada pihak berwajib karena telah mengganggu Rumah tangga orang lain dan menyakiti istriku?" tukas Dean yang langsung menarik Arlene kearah sampingnya.
Namun Baron tidak mengindahkan perkataannya, dia terus mendesak Arlene.
"Katakan Arlene?"
"Tidak, untuk apa aku merekayasa semua ini. Dia memang suamiku, kami sudah menikah beberapa waktu lalu! Iya kan sayang, dan Maaf tidak mengundangmu Baron." tukas Arlene dengan melingkarkan tangan pada Dean dengan terpaksa.
Dean mengulas senyuman tipis saat melihat Arlene yang memegangi lengannya. "Betul sayang, dan kurasa dia juga tidak terlalu penting untuk tahu soal pernikahan kita!"
__ADS_1
"Lancang sekali anda ini, aku ini suaminya!" tegas Baron.
"Maaf, kau apa? Lebih tepatnya kau mantan suamiku Baron, kita sudah lama bercerai. Ingat itu!" terang Arlene.
"Sudahlah ... Kenapa kau masih belum terima juga jika mantan istrimu sudah memiliki keluarga baru yang lebih bahagia, kau sudah memiliki kehidupanmu yang baru. Jadi berhenti mengusiknya!" tambah Dean. "Ayo sayang, kita pulang ... Kasian Alleyah."
Dulu aku memang tidak seberani sekarang karena aku lemah dan tidak berdaya dan hanya bisa diam saat Baron mengancamku, setidaknya sekarang aku kuat dan aku memiliki uang aku bisa pergi kemanapun agar aku bisa menghindar darinya. Batin Arlene, Tapi ternyata aku juga butuh seseorang yang bisa melindungiku dari semua ancaman Baron. Dan aku senang saat kau datang Dean. Batinnya lagi.
"Tunggu!"
Baron mencekal lengan Arlene hingga dia kembali tertarik ke arah belakang,
"Kau bisa pergi dengan suami barumu itu tapi berikan Alleyah padaku!"
"Hah ... untuk apa aku memberikan putriku padamu? Kau bahkan tidak mengakuinya, jangankan memberikannya apa yang dia butuhkan, kau bahkan tidak memberikan kasih sayangmu kepadanya." tukas Arlene yang emosinya langsung terpancing saat itu juga,
"Aku tidak akan mengijinkanmu, kau mau memberikan semua yang dia butuhkan pun sudah percuma sekarang Baron!" sentak Arlene.
"Aku sudah mendapat pekerjaan dan aku pasti bisa menjaga Alleyah, dan kau bisa pergi dengan damai bersamanya!" tunjuknya pada Dean. "Aku sudah memiliki pekerjaan di luar negeri dan aku akan membawanya pergi bersamaku, jadi kau bisa bahagia dengan suami barumu tanpa gangguan, kau bisa membuat anak dengannya nanti."
Menjijikan, perkataan Baron memang selalu keluar tanpa filter. Dia tidak pernah berfikir apa perkataannya baik maupun tidak bisa di terima orang lain.
"Aku tidak akan melakukannya, sekarang lebih baik kau pergi dan tidak usah mencariku maupun Alleyah yang hanya kau jadikan alasan saja! Aku sudah bahagia dengan keluargaku saat ini, begitu juga dengan Alleyah." tukas Arlene lagi yang mengajak Dean untuk kembali berjalan, "Ayo sayang, jangan hiraukan dia, bagi Alleyah kau lah ayahnya. Bukan dia yang sama sekali tidak berperasaaan!"
"Arlene!" sentaknya marah.
Dean kembali menoleh ke arah belakang, dia sendiri tidak terima jika ada orang lain yang membentak Arlene, dengan cepat dia berikan Alleyah pada ibunya. Dan langsung berjalan ke arahnya.
__ADS_1
Bugh!
Dean memukul rahang Baron hingga pria itu meringis kesakitan.
"Jangan membentak istriku atau aku akan terus menghajarmu dan aku tidak akan melepaskanmu! Untuk apa lagi kau bicara dengan istriku! Apa masih belum cukup?"
Baron menyapu ujung bibirnya dengan menggunakan Ibu jarinya, lalu tertawa dan berdecih. "Kau tidak berhak atas putriku! Aku akan melaporkan tindakan ini pada polisi dan tindakan penganiayaan terhadapku ini!"
"Benarkah? Apa kau bisa mengurusnya? Kalau begitu sampai jumpa di kantor polisi ataupun pengadilan, aku menunggunya!" sahut Dean dengan gagah. Itu bukan masalah besar baginya, "Ayo sayang, kita pergi!" dan mengulurkan tangan kearah Arlene dan kembali mengambil alih Alleyah darinya.
Arlene tampak ragu, dia menatap tangan kekar Dean yang terulur ke arahnya, lalu menatap wajahnya dan sedikit menganggukan kepalanya, seolah meyakinkan jika saat ini dia hanya ingin menolongnya saja.
"Ya ... ayo sayang kita pergi!" Mau tidak mau akhirnya Arlene meraih tangan Dean itu dan dia membawanya pergi, wanita berambut panjang itu bahkan sama sekali tidak menoleh lagi ke arah Baron yang kali ini kesal bukan main melihat keharmonisan keduanya.
"Aku tidak menyangka kau menikah secepat ini padahal Baru beberapa bulan saja kau pergi, tapi aku merasa kau berbohong hanya untuk membuatku cemburu saja!" desisnya dengan penuh percaya diri dan terus menatap punggung kedua orang yang masih saling menggenggam tangan.
Sementara keduanya sampai di pintu keluar Bandara Arlene melepaskan genggaman tangan dan mengambil Alleyah dari tangannya.
"Terima kasih karena kau sudah membantuku, mungkin kali ini aku bisa bilang kita impas dan aku tidak mau lagi kita berhubungan. Terima kasih, selamat tinggal Dean."
"Tunggu Arlene! Kau tidak bisa pergi dalam kondisi seperti ini, Baron sudah pasti akan kembali mencarimu, dia akan kembali dan tahu kalau kita tidak benar benar menikah. Lebih baik kau ikut dulu bersamaku agar kau dan Alleyah aman."
.
.
Sabar sabar yaa ... Nungguin Duo yang terus pura pura ini, othor sedang mengriweh di Rl dan bekum bisa up teratur. Semoga semuanya lancar dan othor bisa kembali rutin. Makasih semua yang udah setia nunggu dengan sabaaaaaaaaaarr syekali.. Lope lope badag buat kalian.
__ADS_1