Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.71


__ADS_3

Pria berlesung pipi itu tersentak mendengarnya, dia memegang kedua pundak Arlene dengan kuat.


"Itu artinya dugaanku benar, kau Arlene?"


"Tidak ... Aku hanya berandai andaai, yang aku dengar seperti itu, wanita yang kau cari saat ini ... Apa pentingnya untukmu?" Leyka masih enggan jujur jika dirinya memang Arlene.


Dean terdiam, dia hanya menatapnya begitu dalam, seolah sedang menelisik hingga kedalam sanubarinya, tatapan mereka beradu, saling menyelami satu sama lain.


terlihat rahang Dean mengeras sebab Leyka terus saja menyangkal.


"Aku tidak tahu harus berkata apalagi padamu, yang jelas aku tahu dan aku minta maaf." gumam Dean.


Dan dengan sekali gerakan saja, kini Dean langsung menyambar bibir Leyka dengan cepat dia melumattnya, menyelusupkan lidahnya ke dalam sana hingga membuat Leyka tersentak, wanita itu berusaha melepaskan diri dengan kembali mendorong tubuh Dean, namun tenaganya juga kalah dibandingkan dengan pria yang tengah di kuasai amarah dan kekesalan yaang amat sangat.


"Mmmpphh ...!"


Dean terus bertindak tanpa kendali, dia juga menghimpitnya ke arah dinding toilet, dan tidak peduli sama sekali dengan penolakan Leyka yang terus berusaha menghalau dirinya. Leyka mendorongnya sekuat tenaga, dengan wajah merah dan hampir menangis, "Lepaskan aku Dean, kau brengsekk!"


Saat melihat wajahnya yang sendu, tubuh Dean melemah dengan sendirinya, melihat dirinya yang ketakutan dengan mengggigit bibirnya agar tidak menumpahkan air mata.


Plak!


"Kau memang brengsek!"


Dean menaatapnya dengan nanar, tapi dia tidak terlihat menyesali peebuatannya.


"Aku semakin yakin jika kau itu Arlene, kau tidak bisa membohongiku, kau Arlene bukan Leyka." lirihnya.


bulir bening itu kini turun juga dengan perlahan, dia tidak mampu lagi menahan dirinya lagi.


"Aku memang Arlene ... Kau puas Dean? Apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku Arlene ....kau tidak kan bisa melakukan apa apa walau kau tahu aku Arlene kan brengsekk." ujarnya dengan mendorong bahu Dean hingga pria itu kembali mundur ke belakang.

__ADS_1


Dean terdiam, dia masih terperangah dan terus menatap wajah Arlene dengan tatapan tajam dan kekesalannya.


"Apa yang bisa kau lakukan untukku? Kau mau memberikanku janji janji palsu mu lagi?" ujar nya dengan menghapus matanya yang basah. "Apa kau bisa? Kita tidak memiliki hubungan apa apa Dean, aku juga sudah tidak punya kerja sama apa apa denganmu, lantas kau juga tidak membiarkan aku pergi dengan tenang, kau masih memepermainkan perasaanku dengan sifatmu yang berubah ubah, katakan Dean ... Apa yang harus aku lakukan?" terangnya lagi dengan jelas.


Dean masih terdiam, mulai merasa tenang dan juga lega karena kini menemukan wanita yang ia cari selama ini, tapi apa yang harus dia lakukan selanjutnya, dia pun tidak tahu.


"Dengar Arlene!"


"Arlene yang lemah dan tidak berdaya sudah mati Dean, aku Leyka dan aku sekarang tidak akan membiarkan siapapun meremahkanku termasuk kau, keluargamu dan juga pacarmu. Kau fikir siapa kau Dean, kau tidak lain hanya pria pengecut yang tidak mampu mengambil keputusan dalam hidupmu, kau juga tidak tahu apa yang kau inginkan, lantas kau masih ingin aku mendengarkanmu? Mustahil ... Dan aku tahu kenapa Nenekmu bersikap seperti itu, kau bahkan tidak bisa dia andalkan memegang kendali dalam perusaahan." ungkapnya dengan kesal lalu melangkah, "Dan satu lagi, aku tahu semua orang miskin itu bodoh dan tidak berdaya, tapi ternyata kau lebih bodoh dari mereka Dean!" ujarnya lagi lantas membuka pintu toilet dan berlalu pergi.


Kini Dean seorang diri di dalam toilet wanita itu, menatap pintu toilet dimana Arlene menghilang, dadanya bergemuruh hebat mengingat setiap kata demi kata yang di ucapkan Arlene padanya, begitu juga ucapan nenek yang sempat terucap yang meragukaan dirinya yang sulit mengambil keputusan dan menentukan pilihannya sendiri.


Sementara Arlene menlangkahkan kakinya dengan cepat, bahkan dia menghentak kan high hill nya dengan kuat dan berlalu dari pesta perusahaan milik Robin,


"Ley ... Leyka .." kau mau kemana?" Ujar Robin yang melihatnya keluar.


Pria itu mengejarnya hingga keluar dan baru bisa membuatnya berhenti tepat di depan mobil miliknya. Robin mencekal lengan Leyka dan menariknya hingga menghadap ke arahnya.


"Ada apa hm? Katakan padaku?" Robin menangkup kedua pipinya dengan lembut dan berusaha menghapus air mata yang memasahi pipinya. "Apa kau sakit? Katakan padaku Ley?" katanya lagi dengan khawatir.


Arlene menggelengkan kepalanya dengan lirih serta kepala yang tertunduk sedih.


"Maaf kan aku Robin, aku tidak bisa melakukannya dengan baik. Aku ... Aku___"


"Apa yang terjadi?"


"Aku sudah mengatakannya pada Dean yang sebenarnya, maafkan aku Robin, aku tidak bisa menahan diri saat dia melakukan hal yang sama. Maafkan aku Robin, aku tidak sekuat yang kau bayangakan." ungkapnya dengan berkali kali minta maaf.


Robin meghela nafas, menghapus jejak basah lalu lalu mengangkat kepalanya hingga menengadah ke arahnya.


"Sudah tidak apa apa!"

__ADS_1


Dia juga menariknya ke dalam pelukannya dan mendekapnya erat.


"Tidak apa apa Arlene ... its oke... Aku tidak akan marah lagi padamu karena kau tidak salah, yang harus di beri pelajaran itu Dean, pria berengek yang terus mempermainkanmu. Kau tidak salah,"


Arlene melingkarkan tangan pada Robin, pria yang selama ini menolongnya dan memberinya segala kekuatan yang saat ini dia miliki, mengajarinya bisnis bahkan orang pertama yang memberinya kepercayaan sebesar itu untuk mengelola bisnis miliknya.


Sesuai namanya, Robin. Penolong kaum miskin walau jalannya salah, Robin mengajari untuk tidak menjadi lemah, bahkan mengajarinya menjadi perempuan kuat agar bisa berdiri dan membuktikan diri pada Miranda dan orang orang yang merendahkan harga dirinya. Walaupun apanyang dilakukan Arlene itu tidaklah juga benar dengan mau di ajak kerja sama oleh Dean.


Robin menolongnya tanpa memberi harapan palsu walau dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya sendiri. Sejak awal bertemu Robin memang menyukai Arlene dan terus mencari informasi tentangnya sekalipun saat itu Dean berkali kali mengaku jika Arlene adalah istrinya. Dia tidak peduli.


Aku ingin pulang Robin."


"Aku akan mengantarkanmu, mobilmu biar aku bawa!"


Arlene menggelengkan kepalanya, melepaskan tangan Robin yang masih berada di pipinya.


"Aku ingin sendiri Robin, maafkan aku! Kau tidak boleh meninggalkan pestamu begitu saja bukan, aku baik baik saja, kau tidak perlu khawatir!" ujar Arlene yang menatapnya dengan nanar, dia langsung masuk ke dalam mobil.


Sementara Robin hanya bisa menatapnya saja, dia menghargai keputusan Arlene yang ingin sendiri. Namun tangannya mengepal dengan rahang yang mengeras. Setelah melihat mobil yang di kemudikan Arlene, Robin melangkah masuk dengan dua manik tajam mencari Dean.


Dean tengah berjalan dari arah belakang hotel, dengan sama sama menatap ke arahnya tajam.


"Sayang ... Dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi!" seloroh Alexa yang mulai berjalan sempoyongan. Entah berapa banyak dia meminum wine sejak tadi.


Dean menghentikan langkahnya, menatap Alexa yang tersenyum dengan dua mata redupnya. Tak lama dia menarik tengkuknya dan melumatt bibirnya dengan rakus.


Robin berjalan semakin dekat ke arahnya dan langsung menarik kerah kemejanya dengan gerakan yang sangat cepat.


Bugh!


"Kau memang pengecut!"

__ADS_1


__ADS_2