Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.79


__ADS_3

Gedoran di pintu rumah semakin keras, sementara Arlene tidak berani keluar dari kamar karena takut. Dia terus menghubungi Robin namun tidak ada tanggapan dari pria yang bisa dikatakan calon suaminya itu karena Arlene memutuskan akhirnya untuk menerima lamarannya.


Tok


Tok


"Arlene ... Bukan pintunya, ini aku. Dean!" lirih Dean dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


Dean berulang kali mengetuk pintu hingga sekian lama menunggu tapi Arlene tidak juga membukanya.


"Arlene ...ini aku! Buka pintunya, aku ingin bicara denganmu." ujarya lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


Arlene tersentak kaaget saat mendengar siapa yang berada di luar pintu dan mengetuk hampir setengah jam itu.


Suara petir mulai terdengar dengan kilatan kilatan di langit yang sudah terlihat gelap, sementara waktu sudah mennjukan jam dini hari dimana semua orang harusnya sudah terlelap dengan nyenyak .


Arlene perlahan lahan keluar dari kamar dan melihat keiar pintu, dia mengintip dari celah jendela dengan gorden yang dia sibakkan sedikit.


Dan benar saja, sosok Dean yang tengah berdiri dengan pakaian yang sudah tidak karuan lagi, belum lagi rambutnya yang acak acakan dan wajah nya yang kusut.


"Arlene .. Aku tidak akan pergi sampai kau membuka pintu dan mendengarkan aku bicara."


"Dean?" lirihnya pelan, dia langsung menutup kembali gorden yng dia sibakkan sedikit.


Dengan penuh kekesalan yang bercampur rasa kasihan melihat kondisinya yang tidak karuan itu, akhirnya Arlene membuka pintu rumah.


"Mau apa lagi Dean. Apa kau tidak tahu ini jam berapa? Kau gila karena menganggu kenyamanan orang lain di rumah ini, ini sudah malam dan untuk apa kau kemari?"


"Maaf kan aku Arlene, maafkan aku, aku tidak berniat mengganggumu, tapi ada satu hal yang harus aku katakan padamu sebelum aku pergi!" ujarnya dengan kedua kaki yang sempoyongan.


"Kau mabuk Dean!?"

__ADS_1


Tapi Dean seolah tidak menggubrisnya, dia tetap berdiri walau rasanya tubuhnya semakin berat hingga berkali kali hampir tersungkur.


"Arlene .... Aku ..." ujarnya dengan suara yang bergetar.


Angin kencang terasa sangat dingin, di sertai petir yang kian menyambar. Dean menatap ke arah langit yang hitam lalu kembali menatap ke arah Arlene.


"Masuklah, sepertinya akan ada badai." cicit Arlene, yang tidak mungkin membiarkan Dean terus berada di luar rumah saat ada badai.


Dean mengangguk lirih dan melangkah masuk dengan kedua kaki yang dia seret karena efek alkohol yang masih tersisa dengan bau yang menyeruak menusuk hidung.


Arlene berdecak kecil, namun juga merasa kasian melihatnya terutama karena kondisinya saat ini yang menyedihkan, tapi Arlene tidak ingin kembali terlena dengannya.


"Kau mabuk Dean, harusnya kau tahu diri, pulang ke tempatmu sendiri dan urus dirimu, bukan seperti ini. Kau datang dan mengganggu orang lain!" ujarnya dengan tegas dan sedikit membentak.


Sungguh Arlene berusaha membentengi dirinya sendiri agar tidak jatuh lagi di lubang yang sama, walaupun hatinya kini diliputi kegelisahan yang mencekam.


Namun Dean tiba tiba tertawa, tak lama dia menundukkan kepalanya. "Kau ingat badai pertama di malam itu? Saat itu kita saling berebut taksi?"


"Aku mengingatnya dengan jelas, bahkan warna flat shoes yang kau pakai. Aku mengingatnya Arlene!"


"Sudahlah ... Kau ini mabuk! Minum ini dan segeralah pulang!" ucapnya tidak ingin membahas masa lalu yang hanya mengingatkannya pada kebodohannya saja.


Arlene buru buru masuk ke dalam dapur, dan mengambil sesuatu dari kotak penyimpanan obat obatan, setelah menemukannya dia kembali menghampiri Dean.


"Ini aspirin, untuk meredakan efek alkohol." ujarnya lagi dengan menyimpan obat itu di atas meja beserta segelas air putih.


Dean menengadahkan kepalanya dan menatapnya, kedua matanya kini merah, entah karena sedih atau hanya dia mabuk saja. Namun berhasil membuat Arlene terhenyak.


"Aku minta maaf Arlene. Aku tahu aku punya banyak kesalahan padamu, tapi aku benar benar ingin memperbaikinya." ujarnya dengan suara bergetar.


Arlene yang hanya berdiri dengan kedua tangan yang melipat di dadanya itu hanya diam tanpa ingin membantu ataupun melakukan apa apa saat Dean berusaha menggapai obat aspirin di atas meja. "Bolehkah aku duduk? Kepalaku sedikit sakit!"

__ADS_1


Arlene lagi lagi hanya diam dan menatap pria yang terus mempermainkan hatinya itu dan dengan susah payah akhirnya Dean bisa duduk disofa. Dan mengambil obat yang diberikan untuknya lalu menenggak obat yang di berikan Arlene dengan segelas air putih.


"Terima kasih! Kau memang baik sekalipun aku tidak bisa meminta maaf dengan cara yang benar. Tolong maafkan aku Arlene!"


"Sudahlah ... Tidak usah banyak bicara! Setelah diam sebentar lebih baik kau pulang, aku tidak ingin terlibat urusan dengan calon istrimu!"


"Aku sudah putus dengannya, aku fikir selama ini pilihanku benar, aku memilih Alexa karena tujuan utamaku hanyalah dia. Tapi apa kau tahu Arlene ... Selama itu jugalah aku sadar jika di hatiku mulai ada dirimu. Aku merasa menjadi orang paling bodoh karena pilihanku sendiri!" terangnya panjang lebar.


Arlene masih terdiam, mulutnya teratup walaupun di otaknya kini muncul beragam pertanyaan, bahkan cacian dan makian yang sudah siap meluncur menyerang Dean, namun tidak terealisasikann karena lidahnya seolah kelu. Terlebih saat mendengar jika hubungan Dean dan model internasional itu telah kandas.


"Arlene ... Aku harus berbuat apa agar kau memaafkanku? Apa aku harus bersujud di depanmu atau kau ingin aku melakukan apa." ujarnya lagi dengan bangkit lalu bersujud dengan kedua lutut yag dia tumpu di lantai.


"Aku selalu berharap jika aku bisa mengatakannya langsung padamu, namun aku ternyata masih saja pengecut karena mengataannya di saat mabuk!" ujarnya Dean yang tidak mungkin dia lewatkan lagi.


"Lalu aku harus berbuat apa saat tahu kau da Alexa berakhir. Apa kau harus tertawa puas, atau aku harus berteriak agar kau tidak berbuat bodoh seperti ini. Bangunlah jangan membuat seolah aku ini jahat karena tidak memaafkanmu." pungkas Arene yang membuat Dean semakin menundukan kepalanya seraya bersujud di hadapan, baginya semua sudah melakukan tugasnya masing masing. Lagi pula dari mana kau tahu aku ada di sini!


"Aku ...!'


Bruk!


Tubuh Dean kini tersungkur ke depan, membuat Arlene semakin takut saja, rasanya konyol melihat Dean melakukan hal itu dan menurunkan harga diri didepan orang tua.


"Dean ... Astaga ... Kau ini merepotkan saja!" gumam Arlene yang membantu Dean dengan menarik kedua bahunya. Dan 30 menit berlalu degan Dean kini saat menyentuh tanganya Dean yang yag panas.


"Astaga .... Tubuhmu panas sekali!"


Dean yang kini tidak sadarkan diri itu membuatnya heran, namun Arlene tidak ingin tertipu lagi, dia juga bersikap tegas. Dengan Dean yang tinggi. Dan Arlene membawanya ke atas sofa dengan susah payah.


Arlene tetap terdiam kembali.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan Dean?"

__ADS_1


__ADS_2