
"Dean please! Kita bawa Alleyah ke dokter!"
Dean yang tengah berbaring di atas ranjang itu hanya menoleh sekilas lalu kembali memejamkan mata. "Dean please?"
Pria itu menghela nafas kembali membuka mata lalu berdecak saat menatap jam yang menempel di dinding kamarnya.
"Lebih baik besok pagi saja Arlene, ini sudah terlalu larut malam!"
"Tidak Dean, kita ke rumah sakit saja, disana tidak mungkin tidak ada dokter yang berjaga malam! Terlebih ini kota besar bukan di perkampungan." sentak Arlene dengan marah, kedua mata nya tajam menatap pria bertubuh tegap namun sangat pengecut didepan keluarga nya itu.
"Besok pagi saja, aku lelah."
"Dean?
Dean memilih menutup wajahnya dengan bantal, tidak menghiraukan teriakan Arlene maupun tangisan Alleyah.
"Kau tidak perlu banyak berkilah seolah kau yang tersegalanya, aku tahu kau membayarku dengan sangat tinggi, tapi bukan berarti kau tidak memakai hati nurani Dean, apalagi pada anakku yang tidak mengerti apa apa." sentaknya lagi, membuat Dean membulatkan mata dan menoleh pada Arlene yang semakin berani itu.
"Apa perlu aku juga mengancammu disaat seperti ini Dean! Apa perlu hah ... aku tidak minta uangmu, aku hanya minta kau antarkan saja, kalau kau tidak mau aku pergi sendiri saja. Agar semua orang dirumah ini curiga padamu, agar semua orang semakin yakin kalau kita tidak ada hubungan apa apa. Perjanjian sialan!" ungkapnya lagi dengan penuh kekesalan, tangannya terus mengompres dahi Alleyah yang tidak berhenti menangis itu.
"Oke oke Arlene ... baik! Aku akan mengantarkanmu, jadi jangan terus memakai ancaman sialan itu padaku! Atau kau sendiri yang tanggung akibatnya." Dean bangkit danmelangkah menuju lemari membukanya lalu mengambil jaket miliknya, serta kembali menutup lemari itu dengan membantingnya.
"Selalu saja mengancam, aku sepertinya terlalu meremehkanmu. Dasar wanita sialan!" gumamnya dengan kesal.
Arlene tidak mau ambil pusing, dia mengabaikan Dean yang terus menggerutu padanya yang terus menggunakan ancaman balik agar dan membuat dirinya tidak bisa menolaknya.
"Tunggu saja! Dia akan lihat nanti bagaimana aku akan membuatnya menyesal karena berani mengancamku, apa dia tidak sadar berapa uang yang aku keluarkan untuknya." gerutunya terus sampai dia membuka pintu kamar. Dan berbalik, "Ayo ... tunggu apa lagi! Kau mau aku berubah fikiran."
Arlene menyambar tas perlengkapan Alleyah dan juga dompet miliknya. Namun dia tidak sadar masih mengenakan baju tidur malam saat menuruni tangga. Kedua tangannya menggendong Alleyah, dan juga tas perlengkapan yang tersampir di bahunya. Sedangkan Dean melenggang dengan tangan kosong, setelah menuruni tangga, Dean menyambar kunci mobil yang tersimpan dan juga berjejer rapi di tempat penyimpanan.
__ADS_1
Alleyah terus saja menangis, hingga suaranya terdengar parau juga semakin melemah dengan kedua mata membengkak karena terus menangis, bahkan gadis kecil berusia dua tahun itu sudah menangis tanpa air mata.
Suara Dean yang terus menggerutu dan tangisan dari Alleyah membuat Miranda terbangun, dia turun dari ranjang untuk mengetahui apa yag terjadi. Wanita itu mengambil tongkat yang selama ini digunakannya saat berjalan. Dia membuka pintu kamar dan keluar.
"Keributan apa yang terjadi di tengah malam ini?" serunya dengan suara keras, tangannya juga terulur menekan sekring lampu hingga ruangan menjadi terang benderang.
Langkah Dean serta Arlene terhenti saat mendengar suara Miranda yang membahana, keduanya menoleh kearah belakang dimana Miranda berdiri mematung.
"Dean? Apa yang terjadi?" tanyanya dengan tatapan tajam kearah Arlene yang menggendong Alleyah juga tas perlengkapannya. "Jangan bilang kalian akan meninggalkan mansion ini! Aku tidak akan mengijinkanmu pergi Dean."
"Tidak Nenek! Kami hanya akan pergi ke rumah sakit! Badan Alleyah tiba tiba panas tinggi." jawab Arlene.
"Aku tidak bertanya padamu Arlene, aku bertanya pada cucuku." bentaknya keras sampai membuat Arlene mati kutu.
Arlene menggigit bibirnya, harusnya dia tidak usah menjawab pertanyaan sederhana yang dilontarkan wanita yang kini terus bergerak perlahan ke arahnya dengan memasang matanya bak seorang musuh.
"Dean?"
"Anak zaman sekarang! Ada apa apa sedikit langsung pergi ke dokter!" cetusnya dengan ketus, kedua matanya kini menatap Alleyah yang berada di pangkuan Arlene.
Sedetik kemudian dia mengambil Alleyah dengan paksa, bahkan sedikit kasar dari gendongan ibu yang melahirkannya, sampai kedua mata Arlene terbeliak sempurna.
"Nenek Miranda!"
Miranda berbalik tanpa ingin menggubris seruan Arlene yang tampak kebingungan dengan ulahnya, dia berjalan lurus dengan cepat dan masuk kembali kedalam kamar.
"Nenek apa yang kau lakukan!" Arlene mengejar Miranda dengan mendorong pintu kamarnya dengan keras, disusul oleh Dean yang panik jika Nenek yang dia tahu tidak menyukai Arlene otomatis juga tidak menyukai anaknya itu melakukan sesuatu pada Alleyah.
"Dean ... apa yang akan nenek lakukan pada putriku!" desis Arlene sembari melangkah masuk kedalam kamar.
__ADS_1
Miranda membawa Alleyah yang kini menangis dengan keras itu ke dalam kamar mandi, lalu dia dengan sengaja mengunci pintu kamar mandi agar Arlene maupun Dean tidak bisa menyusulnya masuk.
Arlene semakin panik melihatnya, beberapa kali dia memutar handle pintu namun tidak juga terbuka.
"Nenek apa yang kau lakukan pada Alleyah. Tolong Nek ... jangan lakukan apapun pada putriku!" teriak Arlene.
Tak berhasil membuka handle pintu, kini tangannya mengepal dan menggedor gedor pintu kamar mandi dengan terus berteriak.
Dug
Dug
Dug
"Nenek! Tolong buka pintunya, tolong jangan sakiti putriku! Nenek Miranda aku mohon." teriak Arlene dengan terus menggedor pintu kamar mandi. Kedua matanya sudah merah dengan tetesan air mata yang turun begitu saja.
"Maaaamaaa!!"
Dia berbalik dan menarik lengan Dean untuk menghentikan apa yang dilakukan Miranda, mendengar suara Alleyah yang kini justru menangis dengan sesekali menjerit.
"Maaamamaaa!!"
"Dean tolong Dean, aku mohon. Hentikan nenekmu! Apa yang dia lakukan pada Alleyah, dia menyakitinya Dean."
"Tidak mungkin Nenek menyakiti anak kecil Arlene! Kau tenang lah! Nenek tidak mungkin melakukan sesuatu yang jahat pada Alleyah,"
Arlene menggelengkan kepalanya berulang kali dengan mata yang terus basah, "Tidak Dean ... kau tidak dengar Alleyah menangis kesakitan begitu! Dia pasti menyakitinya. Dean ... aku mohon Dean, kita dobrak saja pintunya, nenek tidak menyukaiku, dia juga pasti tidak menyukai putriku."
Arlene kembali menggedor pintu, namun Miranda tetap tidak bergeming dengan teriakan ibunya Alleyah, sampai Arlene membenturkan tubuhnya mendorong pintu kamar mandi yang tidak sedikitpun bergerak.
__ADS_1
Hingga tangan Dean menghalanginya karena dia tahu itu sama sekali tidak akan berhasil. Kekuatan kayu serta bangunan mansion ini sangat kuat.
"Hentikan Arlene ... kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri!"