Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.15


__ADS_3

Zoya menoleh ke arah Arlene yang masih terpaku di tempatnya, "Kakak ipar tidak usah hiraukan perkataan Ibu  ya!"


"A--aku tidak apa apa Zoya," sahutnya dengan senyuman datar.


Dua orang pelayan menghampiri mereka, mereka hendak membantu membawakan barang barang yang begitu banyaknya. Namun Debora kembali berbalik dengan menatap tajam.


"Jangan membantu wanita yang satu itu! Atau kalian aku pecat!" serunya pada kedua pelayan, hingga mereka kembali meletakkan barang milik Arlene.


"Maafkan saya Nyonya." ujar salah satu dari mereka dan kembali berjalan dengan membawa barang milik Zoya.


"Kakak ipar?"


Arlene mengulas senyuman, lalu menatap Debora dengan datar. "Tidak masalah Zoya, ini tidak seberapa. Aku bisa membawanya sendiri."


"Maafkan perkataan Ibu ya kak!"


Arlene mengangguk, "Ya sudah aku ke kamar dulu ya ... aku merindukan Alleyah."


"Alleyah atau kak Dean?" Goda Zoya sebelum Arlene melangkahkan kaki.


"Zoya!!" Arlene mengulum senyuman, bahkan dia tidak merindukannya sama sekali.


Zoya terkekeh lantas berlalu masuk menuju kamarnya yang berada di lantai tiga, dia masuk kedalam lift yang terdapat sisi kanannya.


Arlene menghela nafas, kedua maniknya menatap pintu coklat dimana Debora masuk ke dalamnya


"Dia fikir aku tidak bisa membawanya sendiri! Ini sangat mudah, aku bahkan bisa mengangkat tubuhnya dan melemparkannya ke danau jika aku mau!" gumamnya dengan mengambil semua paper bag ditangannya tanpa satupun terlewat.


"Masa bodoh denganmu Bu! Aku sedang senang dan ucapanmu tidak akan merusak moodku yang bagus ini."


Arlene melenggang pergi menuju ke kamarnya, melewati lorong panjang dengan kedua tangan memegang paper bag. Lalu berdecak pelan saat seorang wanita tengah berjalan ke arahnya.


"Wah ... Wah, hari ini kau menjadi ratu!"

__ADS_1


"Bukan hanya hari ini saja Selena, setiap hari aku menjadi ratu di hati Dean." Arlene kembali melenggang pergi dengan acuh.


Selena menghentakkan kakinya kesal, "Aku tidak akan membiarkan hal itu begitu saja!"


Arlene tidak ingin mendengar perkataannya, terlebih hari ini dia tidak ingin peduli siapapun termasuk para penganggu di mansion. Namun selalu saja masalah yang dia hadapi. Wanita berambut coklat itu masuk ke kamar, dimana hanya di kamarlah dia bisa bebas berekspresi.


Dean baru saja keluar dari kamar mandi saat wanita berambut coklat itu masuk, dan kali ini dia yang tertegun melihat tubuh Dean yang hanya memakai boxer pendek, hingga tonjolan benda tajam miliknya tercetak sangat jelas.


"Kau baru kembali setelah pergi seharian?" tanyanya dengan tangan sibuk menggosok  rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil. "Dan aku kelelahan mengasuh anakmu!"


"Ya ... Zoya mengajakku berkeliling mall, kami membeli sedikit barang." ujarnya dengan meletakkan beberapa paperbag di atas sofa dan juga meja.


"Sedikit?"


"Ya hanya beberapa helai baju dan juga sepatu."


Dean sebenarnya tidak juga peduli dengan apa yamg Arlene lakukan, apa yang dia beli bahkan apa yang di fikirkan. Namun matanya tertuju pada semua paper bag yang tergeletak memenuhi sofa dan juga meja.


"Kau menghabiskan uang yang aku berikan hanya untuk membeli semua sampah ini?" Pria itu dengan santainya membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan bertelanjang dada.


"Sampah? Kau bilang sampah? Keterlaluan sekali mulutmu itu!"


"Memang benar, semua yang kau beli hanya akan menjadi sampah nantinya, kenapa tidak kau membeli barang yang berguna suatu saat nanti?"


"Seperti apa?" tanya Arlene marah dengan berkacak pinggang, barang itu jelas bukan sampah, barang yang dia inginkan sejak lama,


"Kenapa kau marah? Aku bicara fakta, walaupun aku tidak peduli sama sekali dengan apa yang kau beli Arlene." Dengus Dean menyambar ponsel miliknya diatas meja.


"Ya sudah ... untuk apa kau mengatakannya?" Arlene memilih berjalan ke arah lain, dan melihat putrinya yang ternyata sudah tertidur di dalam bok bayi. "Kau kan sudah berikan uang itu padaku, jadi aku bebas menggunakannya untuk apapun."


"Tentu saja Arlene, tapi tidak untuk membuatku repot karena menjaga Alleyah seperti ini, dan juga kabur dari sini." ancamnya tanpa ingin melihat wajah Arlene sedikitpun.


Arlene mengerdik tidak peduli, siapa yang akan kabur dan melepaskan semua kemewahan ini, terlebih bisa bebas dari kejaran Baron. Fikirnya.

__ADS_1


"Kau sudah membeli boks bayi ini?" tanyanya dengan membuka tirai yang menutupi putrinya yang tengah tertidur itu.


"Hm!"


"Apa kau juga membeli sampah ini?"


"Yang aku beli bukan sampah Arlene, tapi sesuatu yang berguna, bukankah anakmu akan nyaman tidur di kasurnya sendiri dari pada berdesak desakan dengan kita?" Ujarnya penuh percaya diri.


"Oh terima kasih kalau begitu! Tapi ini tidak akan lama, aku akan tidur di sofa, dan kau dikasurmu, jadi kita tidak akan berdesak desakan."


Dean memilih membelakanginya dengan merubah posisinya tidak peduli dengan kembali mengancamnya. "Terserah kau saja, asal tetap berada di kamar ini dan jangan berani kabur!"


Arlene hanya mendengus kesal saat Dean mengancamnya dengan hal yang sama, lagi lagi dia mengatakan hal yang sama pula.


"Uangmu sudah akan habis karena membeli sampah sampah itu kan? Jadi kau pasti akan membutuhkan aku lagi nanti." imbuhnya lagi membuat Arlene tertohok.


Tentu saja itu benar, terlebih aku sudah janji pada Imelda dan Sandra untuk ikut ke pesta, bagaimana kalau mereka tahu jika aku hanya membual saja. Arlene membatin, teringat kebodohan ucapannya saat bertemu mereka tadi.


"Oh ya, aku membeli sesuatu untuk mu sebagai ucapan terima kasih ku." Arlene kembali membuka salah satu paper bag dan mengeluarkan isinya, dia kembali berbalik, namun ternyata Dean sudah berdiri dibalakangnya, hingga wanita itu tidak sengaja menabrak dadanya.


Tanpa sengaja tangannya pun menyentuh tubuh tegap dengan perut berotot milik Dean yang berada tepat didepannya. Membuat jantungnya berdegup kencang.


"Maaf ... aku tidak melihatmu!"


Dean berdecak lembut, namun terus menatap Arlene.


"Aku sebesar ini dan kau tidak melihatku? Kau sengaja kan?"


"Tidak!"


"Kau hanya mencari alasan Arlene," Dean terus menatap kedua manik Coklat milik Arlene, yang berbinar lalu menunduk seketika.


"See ... Kau salah tingkah!"

__ADS_1


Arlene mendorong kedua bahu Dean hingga pria itu terhuyung ke belakang.


"Kau terlalu percaya diri! Aku tidak salah tingkah!"


__ADS_2