Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.91


__ADS_3

Arlene terdiam, dia hanya menatap wajah Dean yang begitu dekat di depannya, maniknya yang teduh dengan sedikit bulu mata yang lebat. Dean mengganghukan sedikit kepalanya seolah berusaha meyakinkannya.


"Kau tahu apa yang kau lakukan itu tidaklah mungkin Dean, aku sudah menerima lamaran Robin. Kami akan segera menikah."


"Please Arlene, aku hanya ingin memastikan semuanya saja sekarang, jika kau memang tidak memiliki perasaan apa apa atau kau membenciku aku akan pergi dari hidupmu dan membiarkan kau bersama Robin." ujarnya dengan kembali menyambar bibir Arlene yang sedikit basah.


Dean kembali melumattnya lembut, dengan kedua mata nya yang terpejam. Meresapi perasaan yang semakin berkecambuk, deru nafasnya beriringan dengan detak jantungnya yang kian berirama.


Lamat lambat tubuh Arlene yang tegang kini melemah, tidak mampu menguasai dirinya sendiri, bahkan untuk kesekian kalinya otaknya tidak mampu berfikir jernih saat perasaannya berbalaskan. Bahkan dia kembali terbuai dengan detak jantung yang sama yang di rasakan pria yang terus mengucapkan kata sayang disela ciumannya.


"Aku menyayangimu Alene."


Keduanya kini larut dalam ciuuman yang semakin dalam, penuh perasaan dan sama sama terlena. Nafas keduanya juga terengah engah dengan dada yang turun naik.


"Dean?"


"Ya sayang ...!"

__ADS_1


Kini Dean melepaskan pagutannya, merekatkan kedua tangannya pada wajah Arlene dan mengecup pipi, hidung serta keningnya berulang kali.


"Kau juga merasakannya bukan?" tanyanya dengan suara sedikit serak. "AKu tahu kau merasakannya Arlene sayang." ujarnya dengan mengelus kedua pipinya dan kembali memagutt bibirnya.


Tak sampai situ paguttan keduanya semakin dasyat, Dean mendorong lembut tubuh Arlene hingga berada di depan meja makan dan tidak bisa mundur lagi. Tubuh keduanya saling menghimpit satu sama lain.


Ikatan di hati keduanya terjalin tanpa kata namun tampak jelas hanya dari saling menyerah.


Ya ... Arlene menyerahkan hatinya bahkan sejak dulu. Sekecewa apa dirinya pada pria itu namun tidak juga menghapus rasa cinta untuknya. Sekalipu dia mencoba menerima orang baru tapi itu tidaklah berhasil.


Begitu juga dengan Dean, ribuan kali menyangkal perasaannya namun sangat tersiksa saat menyadarinya.


"Dean?"


Dean menggendong tubuh Arlene, mendudukkannya di atas meja hingga dia lebih leluasa saat memeluknya. Gelanyar gelanyar aneh yang semakin membakar keduanya, desiran memabukkan disertai bulu bulu yang meremang. Entah berapa kali Arlene memanggil namanya, begitu juga dengan Dean. Sampai akhirnya mereka menghentikan aktifitas menyenangkan itu dengan menempelkan dahinya masing masing.


Mereka terdiam satu sama lain, hanya tatapan mata syahdu yang saling berbisik cinta.

__ADS_1


"Hubungan kita tidak akan berhasil Dean, sekalipun aku memiliki perasaan yang sama dan aku akui itu!" ucap Arlene pada akhirnya.


"Aku sudah bilang aku akan memperjuangkanmu."


"Entahlah Dean.. Mungkin kau benar jika aku akan terus terluka kalau tidak tahu bagaimana perasaanku, tapi aku tidak tahu apa itu boleh atau tidak."


"Kita pasti bisa!"


"Aku begitu tersiksa selama ini tapi aku harus terus menahan diri."


"Mulai saat ini kau tidak boleh menahan diri lagi. Hm?"


"Tapi bagaimana dengan Robin dn Alexa. Aku tidak mau menyakiti mereka berdua."


"Aku bisa bicara pada Alexa. Begitu juga denganmu yang akan membicarkan hal ini pada Robin!"


Dengan tatapan sendu dari dua manik coklatnya, Arlene mencoba mengingatkan "Kita berdua bisa m mengecewakan Alexa dan harapan Nenek Miranda padamu." terang Arlene dengan lirih.

__ADS_1


"Aku tahu aku sangat terlambat Arlene, tapi aku tegaskan juga jika aku tidak akan membiarkan Robin memilikimu jika aku kini tahu perasaanmu padaku." ujarnya dengan merengkuhnya lalu memelukmu.


"Aku akan bicara pada mereka berdua!"


__ADS_2