Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.34


__ADS_3

Arlene sontak kaget mendengar keduanya bicara.


"Apa kalian gila? Atas namaku?"


"Kau kaget Arlene? Pesta ini memang untukmu. Kau yang akan bertanggung jawab atas semuanya." Sandra tak kalah terkekeh sama halnya dengan Imelda.


"Apa maksud kalian, apa aku yang harus mengeluarkan semua biaya untuk pesta ini? Sementara aku saja tidak tahu apa-apa tentang pesta ini, kalian sendiri yang mengundangku."


"Maaf Arlene ... Tapi itulah kenyataannya. Pesta ini memang atas namamu."


"Kenapa Aku yang harus bertanggung jawab?" Arlene mulai kesal bukan main, tangannya mengepal dengan menatap keduanya dengan tajam.


"Ah Bilang saja kalau kau tidak punya uang!"


"Kau bilang apa?"


"Kau tidak punya uang kan?" timpal Sandra.


"Bukan begitu aku kan aku kan tidak persiapkannya!" Imelda menarik tangan Sandra. "Ah ... Ayolah biarkan urusan biaya itu urusan belakangan, kita mulai saja dulu pestanya." Keduanya kembali meninggalkan Arlena yang saat ini membeku ditempatnya.


Amarah Arlene tidak bisa lagi bisa dia tahan, keduanya membuatnya marah dan mengepalkan tangan.


Sialan... mereka semua mengerjaiku dengan sengaja, mereka mengundangku ke sini agar aku bisa bertanggung jawab dengan semua kesialan ini. Astaga berapa yang aku harus keluarkan untuk semua pesta ini. Batin Arlene yang tidak dapat lagi berkata kata.


Dia tampak terdiam, namun iris matanya bergerak kesana kemari menghitung perkiraan biaya yang harus dia keluarkan nanti, namun banyak orang menyapanya dengan sambutan yang hangat dan luar biasa.


Mereka tidak tahu jika saat ini Arlene tengah di landa kebingungan tiada tara. Semenjak pura pura jadi Istri, dia sudah lihat bersembunyi dalam senyuman ramah dan tampak bahagia, walaupun di dalam hatinya resah.


Terlebih saat ini, Arlene memikirkan berapa yang harus dia keluarkan, apakah uang yang baru saja dikirimkan Dean cukup untuk membayar semua biaya pesta mewah ini.


Astaga Bagaimana kalau tidak cukup. Batinnya kembali bicara.


Riuh tepuk tangan terdengar saat pesta di mulai oleh seorang MC, gelak tawa teman temannya terdengar renyah, lalu menoleh ke arah Arlene yang duduk di sebuah kursi bersama Alleyah dan seorang maid yang ditugaskan untuk menjaganya.


"Terima kasih Arlene ... Kau hebat!"


"Arlene ... Sering seringlah mengundang kami ke pesta."


Celetuk celetukkan dari teman temannya justru membuat Arlene semakin resah,


"Kau benar-benar kaya sekarang! Terima kasih telah mengundang kami."

__ADS_1


"Benar Arlene. Aku bangga mempunyai teman sepertimu. Terima kasih."


Semua ucapan-ucapan omong kosong dan basa-basi itu hanya membuat Arlene tersenyum tipis dalam kepalsuan yang terus dia jalankan dan membuatnya lelah.


Sementara dua wanita yang duduk tidak jauh dari kursi Arlene terkikik kikik melihatnya.


"Kamu tidak akan kabur kan?" Imelda tertawa ingat Arlene menoleh dengan tatapan tajam.


"Kalau kau tidak sanggup membayar semua biaya pesta ini, berarti kau hanya mengada-ngada!" cetus Sandra dengan menyenggol lengan Arlene.


"Kalian ini kenapa tidak berhenti mengusikku, ku fikir kalian sudah berubah sekarang, tapi malah semakin menjadi jadi."


Sandra dan Imelda bangkit dari duduknya, mereka berdua menghampiri meja dimana Arlene duduk lalu ikut duduk disana dengan membawa gelas wine ditangannya masing masing.


"Dengar Arlene, kami sudah berubah. Buktinya kami mengundang dan menyiapkan semua ini untukmu." Imelda tersenyum, menoleh pada Sandra, "Iya kan Sandra?"


"Hm ... Kami berharap kali ini kamu bekerja sama dengan baik, jangan membuatmu malu sendiri nantinya." tukas Sandra yang juga terkekeh setelahnya. "Buktikan semua ucapanmu, atau kau harus tahu berhadapan dengan siapa."


"Kalian fikir aku takut?" Arlene menatap keduanya bergantian dengan bengis. Sementara tangannya mengepal di bawah meja.


"Wah ... Keberanianmu luar biasa Arlene, aku semakin penasaran seberapa kaya dirimu saat ini. Atau kau hanya membual saja." tandas Imelda dengan mencecap wine miliknya. "Sebenarnya kami tidak ada waktu mengurusi hal begini, tapi ternyata ini sangat menarik!" ucapnya lagi.


"Dengar Arlene ... Aku tidak yakin kalau kau bisa membayar semua biaya pesta ini. Dari raut wajahmu, dari aaah ... Sudahlah, kau menyedihkan!" tambah Sandra.


"Ayo kita berjoget saja Sandra dan biarkan dia, dia tidak akan bisa keluar dari sini sebelum membayar semuanya." Imelda bangkit dan menarik tangan Sandra.


"Lalu bagaimana kalau aku ternyata bisa membayarnya?" Ujar Arlene yang tidak lagi mau di gertak dengan mudah.


Kedua wanita tersebut sontak menoleh ke arahnya lagi, lalu tertawa, terlihat keduanya saling menatap kemudian melihat kembali ke arah Arlene.


"Mungkin kami akan bersujud didepanmu!" tukas Imelda.


"Kau gila!" hardik Sandra dengan cepat.


"Kau tenang saja, dia tidak akan mampu membayarnya, percaya padaku! Kau lihat kan ... Bahkan dia kemari seorang diri, mungkin saja dia juga sengaja menyewa pelayan ini untuk ikut dengannya. Iya kan?"


"Maaf tapi nyonya Arlene tidak menyewaku, aku sudah lama bekerja di mansion yang kini ditinggali Nyonya Arlene dan suaminya. Juga Nona Alleyah ini." sela maid.


Imelda dan Sandra sontak tertawa lagi dengan mencibirnya. "Mansion? Mansion mana yang kau maksudkan. Di kota ini hanya ada beberapa mansion saja,"


Arlene tiba tiba ingat perkataan Dean yang tidak mau di ungkitkan dalam hal ini, terlebih soal keluarga Mcdermot yang tidak boleh dia ungkapkan. Wanita berambut panjang itu menyentuh tangan maid agar tetap diam saja. Sampai wanita paruh baya yang tidak tahu apa apa itu tertunduk dan mengangguk.

__ADS_1


Kedua wanita yang kini berdiri dengan angkuh tentu saja tertawa, merendahkan Arlene dan juga Maid yang kini bungkam kembali.


"See ... Kalian saja tidak bisa menjawabnya."


"Sudah aku katakan tadi Imelda, bersiaplah untuk bersujud padaku. Dan aku ingin mereka semua melihatnya!" Ujar Arlene yang kesal bukan main.


Dia bahkan tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Kedua wanita yang terus tertawa itu saling memandang.


"Oke Arlene ... Itu pun kalau kau mampu membayarnya! Kalau tidak, kau akan menerima konsekwensinya."


Celaka ... Bagaimana bisa aku justru menantang mereka, harusnya aku diam saja dan tidak usah meladeni mereka dari awal. Tuhan bagaimana ini.


Hingga saat yang ditakutkan oleh Arlene pun datang, seorang manager hotel yang langsung menemuinya saat kedua wanita dengan tega menjebaknya menunjuk ke arah meja di mana Arlene duduk. Pria dengan memakai dasi berjalan kearahnya.


"Nyonya Arlene?"


"Ya ...?"


"Bisakah anda ikut kami. Ada sesuatu yang harus di urus sebelum pesta ini berakhir." ujarnya dengan sopan.


Arlene tersentak, ini lebih cepat dari perkiraannya. Sementara Imelda dan Sandra tertawa melihatnya.


"Mari Nyonya Arlene." ujarnya lagi.


"Ah iya ...!"


Arlene bangkit dari duduknya dengan kedua lutut yang terasa lemas seketika, dia berjalan gontai dengan mengikuti langkah manager hotel menuju ke dalam satu ruangan.


Tidak hanya mereka berdua, Imelda dan Sandra pun terlihat menyusulnya. Tentu saja untuk melihat akhir yang membahagiakan mereka dan membuat Arlene malu.


Tanpa basa basi lagi, manager hotel itu menyerahkan semua catatan pembayaran yang harus dibayar Arlene, dengan ragu Arlene mengambilnya.


Astaga ... Ini banyak sekali. Batin Arlene saat melihat nominal uang yang harus dia keluarkan.


Dengan ragu ragu Alene memberikan kartu debit miliknya, berdoa dan berharap agar saldo di rekeningnya cukup untuk membayar semuanya. Manager mengambilnya dengan senang hati dan mulai menggesekkannya di mesin kartu. Tatapannya mulai berubah saat pria itu menoleh ke arahnya dengan raut yang sulit di artikan.


Imelda dan Sandra sudah siap bersorak jika tebakan mereka berdua benar.


Pria itu kembali berjalan ke arah Arlene, lalu menyerahkan kartu miliknya.


"Maaf, apakah anda sedang memiliki kartu lain untuk pembayaran ini?"

__ADS_1


__ADS_2