Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.41


__ADS_3

Dean menatap Arlene yang terlihat tidak peduli walaupun Miranda neneknya menolak kehadirannya di meja makan, wanita itu justru terlihat santai.


"Oh ayolah Dean, aku tidak apa apa!" tukasnya saat beradu pandang dengan pria yang terus menatap dirinya dengan sedikit iba.


"Sungguh?"


"Tentu saja, aku senang bisa makan di kamar! Karena sudah pasti aku akan kenyang." Ucap Arlene tertawa.


Kini Dean mengangguk kecil, dia beralih menatap Maid yang masih berdiri tidak jauh dari sana.


"Baiklah kalau begitu. Aku juga akan makan di kamar saja!" ujar hujan Dean pada maid.


Namun maid tersebut menggelengkan kepala lalu tertunduk, "Maaf tuan, tapi anda sudah ditunggu di bawah. Hanya Nyonya Arlene saja yang ...."


Rasanya maid tersebut tidak berani mengatakannya lagi, dia hanya menatap Arlene yang kini menarik meja dengan piring yang penuh dengan makanan.


"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan!" maid itu pun menutup pintu.


Arlene mendudukkan bokongnya diatas sofa, dan mulai mencicipi satu persatu menu makan malamnya yang sangat banyak.


"Nenekmu benar-benar membenciku. Bahkan dia tidak mau melihatku sama sekali. Lucu bukan?"


Dean pun hanya menghela nafas, Miranda secara terang-terangan terlihat membentengi diri dan tidak tidak ingin terlibat dengan Arlene karena dia sudah tahu yang sebenarnya tentang wanita yang dia bayar jadi istri pura pura.


"Tapi kau tidak perlu khawatir Dean, aku justru senang tenang kalau begini, aku tidak perlu bertemu dengan semua orang yang jelas jelas membenciku. kau juga ikuti saja apa yang nenekmu mau. Aku juga tidak nyaman sebenarnya untuk makan bersama mereka! Sudah makanannya sedikit, semua orang makan seperti zombie. Kaku semua." kelakar Arlene yang kini bisa menyuap lauk sebanyak mungkin. "Nah kalau di kamar kenapa justru porsinya lebih banyak." sambungnya lagi dengan terkekeh.


Dean hanya diam menatap Arlene, sorot matanya mengikuti pergerakan tangan dan sendok juga mulut yang mengunyah.


"Baru kali ini aku merasa melihatmu bahagia Arlene?"

__ADS_1


"Ya ... Tentu saja aku bahagia, karena bisa makan sepuasnya." Tukasnya lagi dengan tertawa. "Sudah sana pergi jangan membuat semua orang menunggumu, aku baik-baik saja!" Sambungnya lagi dengan mengibas ngibaskan tangan menyuruh Dean pergi.


Akhirnya mau tidak mau keluar, dia melangkah menuju tangga dan langsung berjalan ke arah ruang makan. Semua orang sudah hadir tanpa kecuali Miranda. Wanita paruh baya itu sudah lebih dulu duduk ditempatnya.


"Dean. Tumben kau sendiri, apa istri kampungan mu tidak ikut turun?" Tanya Sorra


Dean hanya mendengus saja lalu menarik kursi dan langsung duduk di tempat yang biasa Arlene duduki. "Kau ini kenapa. Aneh sekali ... Apa istrimu sakit?" tanya Debora.


"Ibu tidak usah berbasa-basi seperti itu Bu. Itu hanya akan melelahkan Ibu saja!" sambung Sorra.


"Kau benar. Ibu hanya ingin tahu saja apa yang terjadi pada wanita itu."


"Sudahlah kalian makan saja dan tidak usah bicara lagi!" seru Miranda yang membuat kedua wanita itu langsung terdiam.


Diam-diam Dean melirik ke arah Miranda namun Miranda tidak bereaksi sampai Dean terus menyuap lalu melirik menyuap kembali lalu melirik lagi ke arahnya.


"Dean ... makan yang benar, aku tidak pernah mengajarkanmu untuk tidak sopan seperti itu!" tukas Miranda.


Sampai acara makan malam selesai dan seperti biasa akan dilanjutkan dengan acara minum teh bersama, kali ini Dean lebih sering melirik jam di tangannya, dia juga menatap pintu ruang makan dengan resah.


"Dean. Ku dengar kau bertemu Robin?" ujar Sorra.


Dean tersentak kaget, "Dari mana kau tahu?"


"Kau lupa. Aku dan Robin satu grup chat. Dia yang bilang sendiri pada ku."


"Apa yang dia katakan lagi?"


Sorra mengedik " Itu saja, tidak ada yang lain. Memangnya ada yang lain yang aku tidak tahu?"

__ADS_1


"Kau yakin?"


"Tentu saja aku yakin, kau ini kenapa? Mencurigakan sekali." selidik Sorra dengan memicingkan kedua matanya. "Dia hanya dia mengatakan bertemu denganmu di pesta yang diadakan di hotel miliknya tadi siang."


Dean semakin terbeliak,


"Kata Robin ada seorang wanita yang mengadakan pesta mewah tapi dia tidak mampu membayarnya!" "Benarkah?"


"Aku heran. Kenapa banyak sekali orang-orang yang mengaku punya uang zaman sekarang! Kalau nggak sok menjadi orang kaya. Untuk apa, mereka hanya berpura-pura saja." tukas Sorra "Yang melakukannya pasti hanya orang-orang yang tidak mampu, kampungan, sangat norak!" sambungnya lagi.


Dean terdiam, dia harus berhati hati terhadap Robin, bisa saja Robin mengatakan sesuatu pada Sorra, tapi Sorra sepertinya benar benar tidak tahu jika Arlene lah wanita itu.


"Robin juga bilang padaku sesuatu!" ungkap Sorra dengan mencecap teh herbal miliknya. "Seorang pria sudah membayar semua pengeluaran si wanita yang mengaku-ngaku tersebut! Kau tahu, Berapa harga pesta yang diadakannya? Mataku sampai sakit melihat jumlah uangnya, dan ingat Dean, aku tidak ingin kau melakukan hal seperti itu pada istri kampunganmu itu. "Aku tidak melakukannya!" Dean berdecak, sepertinya Robin mulai mencari masalah dengan mengorek ngorek tentang nya dan juga Arlene.


"Aku kan tidak tahu. Mungkin saja kalau kamu melakukannya suatu hari nanti pada istrimu yang kampungan itu!"


"Oh ... Ayolah Sorra, kenapa kau harus membawa dia terus menerus!"


"Dia tidak suka pesta sepertimu, dia juga tidak suka berbelanja sepertimu!" ucap Dean menohok.


"Dengar Dean, cepat atau lambat kau memang harus mendepakmu dari sini dan kau akan menikahi Selena. Jadi untuk apa kau membuang-buang waktu membelanya seperti ini."


"Sampai kapanpun aku tidak akan menikahi Selena!" "Benarkah ... apa Nenek setuju?" Sindir Sorra yang langsung menatap ke arah Miranda yang sejak tadi terdiam.


"Ayolah Sorra. Kenapa kok selalu bertengkar dengan adikmu, biarkan Nenek yang mengurus ya kan Bu?" Debora hanya ingin terlihat baik saja di depannibu mertuanya. "Aku juga yakin pada Ibu yang tidak akan membiarkan pewaris keluarga kita menikahi gadis dengan sembarangan sepertinya. Kita juga tidak tahu bahwa anak itu anak Dean atau bukan. Apa sebaiknya kita melakukan test DNA dengan cepat Bu?"


Miranda masih terdiam, dia hanya mencecap teh yang berada di dalam cangkir yang dia pegang, sesekali dia menatap Dean.


"Kau lihat. Nenek saja menginginkan kau segera meninggalkan wanita itu terlebih tidak ingin melihatnya lagi walau hanya untuk makan malam saja. iya kan Nek?"

__ADS_1


Miranda bangkit tanpa mengatakan sesuatu, tak lupa dia meletakkan cangkir berisi teh herbal miliknya di atas meja. Sementara Dean berada di kursi hadapanya, Miranda hanya melewatinya begitu saja tanpa peduli.


"Li ... Suruh Dean temui aku di ruang kerja!"


__ADS_2