
Arlene berjalan dengan tangan penuh paper bag, tak lupa dia menyembunyikan boks sisa makanan di salah satu papar bag yang penuh dan menyusul Zoya yang sudah menunggunya di basement.
Dia berjalan masuk kedalam lift, dan melihat beberapa orang yang dia kenal saat mereka berjalan keluar dari sebuah toko.
"Itu kan Sandra dan juga Imelda, teman kuliahku dulu!"
Arlene dengan cepat menahan pintu lift agar tidak tertutup, lalu dia kembali ke luar. Berjalan dengan angkuh dan sengaja melintas di depan mereka dengan berpura pura tidak melihat.
"Arlene?" seru Imelda.
Pas sekali, aku memang ingin mereka melihatku.
Arlene menoleh pada kedua wanita yang tengah berjalan itu, wajahnya sengaja dia buat kaget saat melihat teman kuliahnya itu.
"Imelda? Sandra kan?"
"Hmmm!! Wah habis belanja ya."
"Iya nih ...!" ujarnya dengan terkekeh sangat cantik dengan memperlihatkan semua barang belanjaannya.
"Wow ... makin keren deh kamu, udah jadi orang kaya sekarang? Atau jadi peliharaan ....!" ujar Imelda menohok.
Arlene tertawa, "Kalian jahat banget, kapan nih kita kumpul kumpul, biar kalian tahu apa aku ini seorsng peliharaan atau bukan!?"
Kedua wanita itu mendengus tipis saat ucapan Arlene kembali menohok mereka.
"Ah ... bagaimana kalau kita bertukar nomor kontak, agar bisa saling menghubungi?"
"Tentu ...!" Arlene mengeluarkan ponselnya dari tas miliknya, dia lalu memasukkan nomor Imelda dan juga Sandra.
Keduanya tampak mengernyit melihat ponsel Arlene yang notabene keluaran lama, sementara mereka keluaran terbaru. Wanita berambut coklat itu menyadari jika mereka tengah memperhatikan ponsel miliknya.
"Ah ... kalian heran ya dengan ponsel jelek ini! Maaf ya, ini karena aku salah ambil ponsel waktu pergi, malah ponsel pengasuh anakku yang aku bawa." terang Arlene dengan kembali terkekeh palsu.
"Ohh begitu ya!" sahut Sandra. "Jadi kau sudah punya anak?"
"Ya biasalah San," tukas Imelda yang memperlihatkan wajah tidak suka.
__ADS_1
"Hum ... Aku sudah menikah, dan punya anak. Dan ini ponsel pengasuhku yang selalu keluar masuk kedalam kamarku, ponselnya dia tinggal dimeja, makanya sepertinya aku salah ambil." terangnya lagi mulai sombong.
Keduanya mengangguk mengerti, namun terlihat tidak juga sungguh sungguh. "Baiklah ... Kami percaya. Nanti kau bawa mereka agar kami benar benar percaya kalau kau tidak mengada ngada."
"Tentu!"
Kedua wanita itu pun melambaikan tangan kepadanya saat mereka berpisah. "Pokoknya nanti kita pesta, kita juga ingin bertemu suami dan anakmu." serunya sebelum melangkah semakin menjauh.
"Tentu ... aku pasti datang!" Jawab Arlene,
"Menyebalkan!" cicit Sandra saat jarak keduanya semakin jauh, "Kamu percaya dia sudah memiliki suami?"
"Kita ajak saja ke pesta dan kita akan lihat nanti!" sahut Imelda yang memang sejak kuliah tidak suka pada Arlene.
Arlene kembali berjalan masuk kedalam lift, lalu menekan nomor satu dimana lantai basement berada.
"Makanan Anjing, lalu pengasuh bayi! My God ...Arlene aku tidak percaya kau mengatakan bualan seperti itu sekarang!" gumamnya dengan menepuk jidatnya sendiri, "Tapi melihat wajah mereka rasanya aku tidak menyesal karena telah berbohong. Mereka paling senang melihatku menderita." cicitnya lagi.
Dia melihat kembali ponsel miliknya, "Tapi aku harus membeli ponsel keluaran terbaru kalau aku bertemu dengan mereka lagi," gumamnya lagi lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
Hatinya benar benar puas, karena bertemu teman teman yang saat kuliah dulu tidak peduli padanya, karena hanya penampilan Arlene yang sederhana. Mereka hanya ingin berteman dengan orang orang yang berasal dari keluarga yang kaya, dan berpenampilan bersahaja, memiliki barang barang branded dan juga royal seperti dirinya kini.
Arlene mengetuk pintu mobil, dan terlihat Zoya menoleh dan tersenyum. Wanita berambut coklat itu berjalan memutar lalu masuk kedalam mobil.
"Kakak ipar kenapa lama sekali? Aku hampir saja tertidur!" ujar Zoya memanaskan mesin mobilnya.
"Maaf Zoya, setelah dari toilet, aku bertemu teman lamaku saat kuliah, jadi kami mengobrol sebentar tadi." ujarnya tersenyum.
"Ooh ... aku kira kakak pingsan!" Zoya tertawa sembari melajukan mobilnya.
"Kau ini ada ada saja!"
***
Zoya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota Perth yang kala itu masih cukup lenggang.
"Zoya ... kau menyetir seperti seorang pembalap!" Arlene tertawa, dia membuka kaca mobil hingga udara segar masuk kedalamnya.
__ADS_1
"Ya ampun kakak ipar, tutup kacanya kak!"
"Ini sangat menyenangkan Zoya!"
Zoya tergelak, baru pertama kali dia mengenal wanita yang dekat dengan kakaknya Dean berprilaku seperti Arlene, apa adanya dan menyenangkan, sikapnya tidak dibuat buat.
Zoya menekan satu tombol hingga kap mobil terbuka lebar, membuat Arlene menatapnya kaget, "Zoya ... kenapa kau tidak mengatakan akan membukanya, lalu untuk apa aku membuka kaca pintu ini!"
Zoya tergelak, "Kenapa juga kakak ipar membukanya!"
Keduanya tertawa, saling berteriak saking senangnya dan tentu saja Arlene sangat senang karena Zoya bersikap baik terhadapnya juga anaknya.
"Kakak Ipar betah tinggal di mansion? Kalau aku jujur tidak!" Zoya tergelak lagi, "Menyeramkan, makanya aku memilih tinggal di asrama!" ungkapnya lagi.
"Benarkah? Tapi kan mereka memperlakukanmu dengan baik, dan aku lihat mereka sangat menyayangimu."
Zoha mengerdik, "Aturan di mansion sangat ketat! Kakak ipar beruntung diterima disana dengan baik! Apalagi si Selena ... dia itu menyebalkan."
"Entahlah Zoya, mereka bahkan tidak memperdulikanku. Hanya kamu saja yang bersikap baik padaku." jawab Arlene apa adanya.
"Juga kak Dean kan?" timpal Zoya dengan kembali tertawa melepaskan tangannya pada stir kemudi.
Andai kamu tahu Zoya, kalau sebenarnya kami hanya pura pura jadi suami istri. Aku istri yang dia bayar, tujuannya mungkin menghindari perjodohannya dengan Selena. Tapi entahlah aku saja sampai saat ini tidak tahu tujuan dia itu apa. Arlene membatin, pandangannya lurus pada ruas jalan yang tengah mereka lewati.
Tak berselang lama, mereka tiba di mansion. Zoya mendekatkan wajahnya pada satu alat yang terletak di samping pagar yang menjulang tinggi, dan tak lama pagar itu terbuka secara otomatis.
"Zoya ... apa yang kamu lakukan barusan itu mengidentifikasi penghuni mansion?"
Zoya melajukan kembali mobil mewah itu kedalam, "Ya kakak ipar! Ditambah satu orang yang bisa masuk selain dari pada keluarga Mcdermott, Selena. Kalau kakak ipar paling juga nanti kak Dean yang mengurusnya! Kenapa kak? Ada rencana jalan jalan sendirian?"
Arlene menggelengkan kepalanya dengan sejuta pertanyaan yang berputar putar, Bagaimana jika suatu hari nanti aku pergi dari sini, atau Dean mendepakku? Aah ... kupikirkan nanti saja, yang paling penting saat ini aku menikmati kehidupanku saja.
Mobil akhirnya berhenti, mereka keluar dengan banyaknya barang barang yang telah mereka beli.
Arlene dan Zoya masuk kedalam rumah dengan terus tertawa. Namun seketika tawa mereka sirna saat melihat Debora yang tengah duduk di ruangan tamu.
"Ibu? Kami pulang, apa ibu tahu ... kakak ipar punya selera yang sama denganku! Kami beli banyak barang hari ini." Cerita Zoya dengan wajah ceria khasnya.
__ADS_1
"Benarkah? Punya selera yang sama atau hanya ikut ikutan saja! Perempuan rendahan macam dia hanya memanfaatkan Putraku saja!"