
"Maaf, apakah anda sedang memiliki kartu lain untuk pembayaran ini?" tukas Manager Hotel dengan tatapan yang sulit diartikan.
Arlene tersentak, dia langsung bangkit dan menghampirinya. "Apa kau serius?"
"Tentu saja Nyonya, kau fikir aku bercanda?"
Imelda dan juga Sandra tergelak sekaligus bertos ria, mereka senang karena tujuannya tercapai, Arlene tidak bisa menggunakan kartunya untuk pembayaran pesta, sesuai dengan harapan mereka.
"Apa yang aku bilang, kau hanya mengada ngada soal kekayaanmu, nyatanya kau masih miskin Nyonya pembohong!" Imelda tertawa hingga girang bukan main.
Mereka bertepuk tangan dengan wajah yang tentu saja bahagia.
"Ini tidak mungkin, semua uangku ada di kartu ini." Arlene mulai panik.
"Tapi nyatanya tidak ada kan. Ayolah mengaku saja kalau kau ini miskin, sekali miskin tetap miskin!" tambah Sandra yang membuat Arlene semakin panik "Ayo kita pergi, Percuma saja ... aku tidak mau berurusan dengannya, biarkan dia yang mengurusnya sendiri." Imelda mengajak Sandra untuk pergi meninggalkan Arlene, mereka kembali berkumpul dengan membicarakan Arlene yang tidak bisa membayar biaya pesta mewah itu.
Tentu saja wajah Arlene terlihat khawatir dengan keringat yang mulai bercucuran,
"Tapi tuan itu mungkin, baru saja suamiku mengirimkan uang ke dalam kartuku ini!"
"Sudah jelas kartu anda tidak berfungsi!" Manager mulai bicara dengan nada yang ketus. " Jadi sekarang silahkan Anda hubungi suami anda untuk segera kemari dan membayar semua tagihan. Atau jangan jangan apa yang dikatakan orang tadi itu benar? Kau tidak memiliki uang tapi hanya berlaga sok kaya." pungkasnya lagi.
"Tolong periksa sekali lagi Tuan!"
"Maaf Nyonya, kami tidak punya waktu meladeni anda. Kalau anda tidak bisa segera melakukan pembayaran ini, Maaf kami akan melakukan tindakan dengan melaporkan Anda kepada polisi atas kasus penipuan."
Arlene menggelengkan kepalanya, "Tidak ... aku tidak mau dilaporkan."
"Kalau begitu Anda selesaikan pembayaran ini dan jangan membuat masalah dengan kami."
__ADS_1
Arlene berjalan mondar-mandir dengan resah. Dia tidak mungkin menghubungi Dean untuk segera datang setelah apa yang Dean katakan sebelumnya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Cicitnya dengan bingung.
Semua yang hadir mulai membicarakannya, tepuk tangan dan pujian yang tercetus beberapa jam sebelumnya kini sudah berubah.
Riuh tepuk tangan menjadi sorak sorai cemoohan, Arlene bahkan tidak berani keluar dari ruangan itu, dadanya berdegup kencang saat memdengar cacian dan hinaan yang menyakitkan.
"Si miskin yang berpura pura kaya!"
"Sok sok an mengadakan pesta semewah ini dan membuat kami malu!"
"Cih dasar tidak tahu diri! Sepertinya dia tidak punya kaca di gubuknya!"
Kasak kusuk terdengar kasar dan membuat Arlene sakit hati. Dia menggigit sedikit bibir bagian dalamnya dan hampir menangis.
"Sudah kebanyakan gaya...!"
Suara suara hinaan sudah tentu jelas ditelinganya saat ini, jangan di tanya soal tatapan semua tamu undangan padanya. Menusuk ulu hati dan membunuhnya seketika.
Imelda dan Sandra terus tertawa dan bahagia, bahkan tepuk tangannya terdengar paling kencang.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Arlene menoleh ke arah suara dibelakangnya saat melihat Dean berjalan masuk dan menghampirinya.
"Kenapa kau biarkan mereka menghinamu sayang?" Semua orang hampir tidak berkedip sekaligus bertanya tanya siapakah pria yang kini bersama Arlene.
Termasuk Imelda dan juga Sandra.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja dan tidak menghubungiku. Sudah tahu kartumu yang saat ini kau pegang hangalah untuk uang jajan Alleyah saja."
Arlene masih menganga tak percaya dengan sandirwara yang tengah di mainkan Dean, sekaligus merasa lega karena kedatangan Dean.
"Aku ....! Aku..."
"Aku sudah tahu, sekarang tenanglah!" ujar Dean dengan mengeluarkan kartu hitam miliknya.
"Manager!" serunya dengan menggelegar.
Seorang pria yang mereka sebut manager hotel pun datang menghampiri dan tersentak kaget saat melihat Dean. Siapa yang tidak mengenali pria yang berasal dari bangsawan Australia yang memilki aset kekayaan yang tidak akan pernah ada habisnya itu
"Selesaikan semuanya!" seru Dean yang langsung menyerahkan kartu miliknya. "Dan jangan lupa menghitung berapa mulut yang berani menghina istriku!" tukasnya lagi.
Manager hotel tentu saja mengangguk dengan kaget bukan kepalang, "Aku tidak suka istriku di hina dsn di rendahkan!"
Suara Dean tentu saja sangat keras, hingga terdengar ke arah ujung dimana Imelda dan Sandra berada.
"Ya ... Tuhan! Harusnya kamu hubungi aku kapan pun, terlebih saat orang orang busuk itu menghinamu."
Entah apa yang kini di rasakan oleh Arlene, kedua matanya terlihat berkaca kaca dan menatapanya sendu.
"Jangan menangis untuk hal yang sepele ini, kalau kau mau kita bisa membeli hotel ini dan kau yang mengurusnya. Hm!"
"Apa? Jadi benar Arlene itu orang kaya dan pria itu ... Pria itu adalah suaminya?" Desis Imelda yang menatap Sandra.
Namun Sandra tidak menggubrisnya, tatapan tidak percaya tertuju pada keduanya.
"Ini tidak mungkin!"
__ADS_1