
Arlene tetap terdiam dengan kedua mata yang mengerjap ngerjap menatap manik hitam Dean yang terus meyakinkanya.
Jujur ini sangat berat, mengingat dia baru saja menerima lamaran Robin, ditambah Robin sudah terlalu baik padanya juga pada putrinya.
"Besok aku akan menghadiri peresmian di kota xx. Bisakah kau ikut aku kesana?" ajak Dean dengan mengelus pipinya lembut.
"Tapi Dean!?"
"Aku ingin kau ikut dengan ku Arlene."
"Tapi ...."
"Please ...?" ujarnya dengan memohon. "Please jangan menolakku, aku ingin aku dan Alleyah ikut dengan ku ke sana?"
"Lalu bagaimana jika Alexa tahu?"
"Malam ini dia kembali ke negara xx masa cutinya sudah berakhir."
"Aku terlihat sebagai orang ketiga dalam hubunganmu dengan Alexa Dean? Aku merasa buruk sekali."
Dean mnggelengkan kepalanya. " ... Jangan pernah berfikir kau buruk, aku tidak bersalah dalam hal ini, tidak ada yang patut di salahkan. Kita tidak mungkin bisa mengendalikan perasaan kita Arlene. Terlepas bagaimana caranya." terangnya dengan memegang kedua bahunya lembut.
__ADS_1
"Tapi kita bisa mengendalikannya, jujur aku ...."
"Sekarang aku tanya padamu. Bisakah kau mengendalikan perasaanmu padaku? Bisa..? Apa bisa Arlene? Apa kau bisa menahan dirimu untuk tidak menerima saat aku menciummu tadi? Apakah bisa, tolong Arlene, kita sudah membahas hal ii ratusan kalinya. Jadi please, tidak usah menahannya lagi. Soal Alexa daan juga Robin, kita akan sama sama bicara pada mereka nanti ya!"
Arlene akhirnya mengangguk, tak lama kemudian, menabrakkan dirinya pada tubuh Dean dan memeluknya dengan erat, begitu juga dengan Dean yang membalas pelukannya tidak jauh lebih erat.
***
Keesokan pagi, Dean dan Arlene juga Alleyah pergi ke kota xx, tidak lupa juga Zoya yang merengek ingin ikut mereka, Arlene tentu saja senang karena Zoya ikut, tapi tidak dengan Dean yang tidak mau di ganggu oleh Zoya yang akan membuatnya repot nanti.
"Aku bisa menjaga Alleyah, iya kan sayang. Jadi kalian bisa berduaan tanpa rasa khawatir." zoya terkekeh di susul olrh Alleyah yang juga ikut terkekeh walau bocah itu tidaklah mengerti apa yang dia maksudkan.
Semetara Dean mnggelengkan kepalanya dengan menatap Zoya yang duduk di belakang bersama Alleyah.
"Ya ... Terserah kau saja! Ujung ujung nya kau akan memaksa ikut walau aku melarangnya."
"Iya dong, sudah jelas, demi keamanan negara, aku juga akan menutup mulutku dan tidak akan memberitahukan hal ini pada siapa pun terlebih pada Nenek." ujarnya dengan terkekeh.
Dean berdecak. Itu ancaman yang luar biasa, mengingat nenek Miranda yang tidak akan suka jika tahu dia kembali menjalin hubungan bersama Arlene. Terlebih kali ini hubungan mereka nyata, walaupun mereka berdua juga masih terikat dengan Alexa dan juga Robin.
"Kau ini, paling bisa membuat orang tidak terkutik."
__ADS_1
ujarnya lagi, sementara Arlene hanya tersenyum getir saat Zoya menyebutkan nama nenek Miranda.
Hingga akhirnya semuanya tiba di sebuah resort di mana tempat itu baru saja akan di resmikan. Dean memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah di sediakan dan semuanya keluar dari mobil.
Suasana cukup ramai, mengingat pemilik resort itu mengundang banyak tamu.
Dan Alleyah tampak terperangah melihat ke arah boneka lion yang dia kenali. Padahal jaraknya lumayan jauh.
"Lion aku! Berarti itu mobil uncle Robin deh!" celetuknya polos.
Dean dan Arlene menoleh, menatap ke arah telunjuk Alleyah dan terlihat mobil dengan merek yang sama yang di pakai Robin.
"Uncle Robin?" Zoya pun ikut memicingkan kedua mata menatap ke arahnya.
Namun Arlene menggelengkan kepalanya, "Sepertinya bukan. Robin sedang mengurus satu pekerjaan dan dia tidak mungkin kesini. Dia tidak mengatakan apa apa!"
"Mungkin karena Kak Robin tidak mau Kak Arlene tahu, bisa saja dia tidak mengatakannya pada Kakak! Iya kan?" sahut Zoya merasa yakin jika Alleyah benar soal mobil itu.
Tak lama Zoya berjalan lebih dulu, tidak lupa melepaskan pegangan Alleyah.
"Aku akan memeriksanya lebih dulu!"
__ADS_1