Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.06


__ADS_3

Arlene masuk kedalam kamar mandi untuk bersih bersih dan berganti pakaian, dia tidak mungkin mengganti pakaian seperti yang dilakukan oleh Dean, jadi dia membawa pakaian ganti ke kamar mandi yang tak kalah mewah itu, bathtube yang terbuat dari batu marmer yang mengkilap, dipastikan harganya selangit dengan ukiran ukiran yang indah dan terkesan klasik itu.


Dia bahkan bisa duduk dengan nyaman walaupun di tepi bathtube, seolah tempat itu memang didesain khusus untuk bersantai menikmati setiap detik ritual mandi dan lainnya.


"Kamar mandi dengan rasa nyaman melebihi kamar di apartemenku." ucapnya sambil melihat lihat seluruh isi kamar mandi, menyentuh ukiran di tembok juga benda benda yang terlalu asing di matanya.


Arlene menanggalkan semua pakaiannya, kemudian dia masuk kedalam bathtube yang sudah dipenuhi air juga tetesan aroma terapi dengan wangi lavender, bahkan bunga lavender yang masih segar terdapat disana.


"Jadi begini rasanya jadi orang kaya? Bahkan mandipun terasa di surga." gumamnya menaburkan bunga lavender itu ke dalam air.


Dia juga menenggelamkan tubuh di dalamnya, hanya tersisa kepalanya saja, membaluri kulitnya dengan sabun cair, bahkan dia bermain air yang penuh dengan bunga dan gelembung gelembung sabun.


Nyaman, bahkan sangat nyaman, tubuhnya terasa menjadi ringan juga rileks. Rasanya semua hal bisa dia lupakan dalam sekejap saja, termasuk kebodohannya yang menerima begitu saja tawaran dari Dean.


"Ini mungkin kesempatanmu Arlene, nikmatilah hidupmu saat ini, menjadi orang kaya dan tinggal di mansion mewah ini, walaupun harus berpura pura menjadi istri Dean." gumamnya dengan menatap langit langit. "Tapi jangan biarkan mereka bersikap semena mena padamu!" ucapnya lagi dengan memejamkan kedua mata.


Setelah beberapa lama, dia akhirnya keluar dengan menggunakan mini dress floral berwarna merah, sangat kontras dengan kulit putihnya walaupun dress itu cukup sederhana, rambut panjang bergelombang berwarna coklat miliknya terombang ambing, menutupi sebagian bahu yang terekspose akibat dress berbentuk Sabrina.


Riasan diwajahnya juga tampak sederhana, dia memang jarang sekali berias diri, selain keterbatasan uang yang dimilikinya, dia juga tidak punya waktu. Selama ini dirinya sibuk melarikan diri dari mantan suami yang kejam, juga sibuk mencari sesuap nasi dengan bekerja di sebuah kafe. Polesan tipis berwarna peach di bibirnya yang tipis tampak membuatnya semakin segar dengan pancaran kecantikan yang natural.


Kruuuucuuukk


Perutnya tiba tiba berbunyi, dia memegangi perutnya yang sudah lapar itu, menatap jam dinding besar yang menempel ditembok.


"Jam berapa orang kaya makan malam, perutku sudah lapar sekali!" gumamnya tanpa suara.


Dean terduduk di ranjang, menatap dirinya dengan wangi sabun yang menyeruak menusuk hidungnya. Dengan ekor mata yang terus mengikuti gerak Arlene yang kini mendudukkan bokongnya di sofa memegangi perutnya.

__ADS_1


"Kau sudah lapar?" ujarnya dengan turun dari ranjang,


"Ti__,tidak!" Jawab Arlene berbohong.


Dean mengulas senyuman kemudian terduduk disampingnya.


"Kau bisa menahannya sebentar lagi?"


Arlene hanya mengangguk pelan, seiring dengan terdengarnya ketukan di pintu kamar, Dean berjalan mendekat dan membuka pintu, seorang maid berdiri dan memberitahunya agar segera pergi ke ruang makan.


"Apa kalian selalu makan tepat waktu?" tanya Arlene saat maid itu berlalu pergi.


"Itu aturan pertama di rumah ini! Dan kau harus terbiasa, tapi jika kau lapar, kau bisa menyiapkan beberapa camilan untuk kau bawa ke kamar nanti!" ujarnya dengan terkekeh.


Tentu saja itu akan Arlene lakukan setelah tekadnya bulat untuk menikmati semua kehidupan barunya itu, dia akan melakukan apa saja dan tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang datang. Namun dia tidak ingin menjawab perkataan Dean, Wanita itu hanya tersenyum, meninggalkan Dean sementara dia menuju ke ranjang. Memastikan Alleyah tidur dengan aman, dengan meletakkan beberapa bantal di kedua sisinya.


Melihat kekhawatiran Arlene, Dean menghela nafas, dia pun keluar dan memanggil maid.


"Bawakan beberapa bantal baru dan bawa kemari!" ujarnya.


Maid yang diperintahkan oleh Dean mengambil beberapa bantal yang masih terbungkus rapih di tempat penyimpanan barang, dan membawanya ke kamar Dean. Mereka sengaja menumpukkan beberapa bantal disekitar Alleyah, membuat penghalang yang akan mencegah Alleyah terjatuh nantinya. Tidak lupa DeanĀ  menyuruh satu maid untuk berjaga-jaga pintu kamar.


Arlene sebenarnya tersentuh dengan sikap Dean yang begitu peduli pada putrinya, sikap yang tidak pernah ditunjukkan oleh ayahnya sekalipun. Baron. Sang mantan suami.


Keduanya keluar dan mengayunkan kaki menuju ke ruang makan, mereka juga melewati lorong panjang untuk sampai ke sana. Ruangan besar dengan meja panjang yang dipenuhi aneka makanan. Kedua manik coklat membulat sempurna. Pupil coklat itu membola menatap hidangan yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Dan jelas makanan itu jelas hanya dimiliki oleh orang kaya.


Debora sudah duduk di tempatnya begitupun dengan Sorra yang duduk di sampingnya, dan di samping kanan ada Selena yang duduk berhadapan dengan sang ayah. Saling bercengkrama satu sama lain sementara Maid hilir mudik mempersiapkan segala sesuatunya.

__ADS_1


Dean dan Arlene masuk, membuat ke empat orang tersebut melihat ke arah pintu dan lamgsung terdiam dengan sorot mata menajam.


"Mereka melihatku seperti melihat mangsa yang siap diterkam!" gumam Arlene pada Dean.


"Abaikan saja ... aktingmu harus semakin meyakinkan di sini! Kau harus mengambil hati Nenek agar beliau merestui kita. Dan membatalkan pertunangan ku." Dean menggenggam tangan Arlene dan berjalan mendekati mereka.


Dean bicara seolah olah kita tengah berjuang mendapatkan restu keluarga, ucapannya bahkan membuat hatiku menghangat. Aktingnya sungguh luar biasa. Dan Jika aku bertemu dengannya dengan cara berbeda, mungkin dia akan membuatku jatuh cinta saat itu juga. batin Arlene yang tangannya tiba tiba menghangat dalam genggaman Dean.


Keduanya duduk, Arlene duduk dihadapan Debora, tempat paling dekat dengan Miranda, tempat yang biasa diduduki oleh Dean setelah ayahnya meninggal.


"Dean, kenapa kau menukar kursimu, apa kau tidak ingat peraturan di meja makan di rumah ini?" Suara Sorra memecah gelombang keheningan di ruangan itu.


"Dia istriku Sorra, menantu di keluarga ini, sama dengan Ibu! Benarkan Bu?" Sentak Dean pada kakak perempuannya, dan beralih menatap Ibunya.


"Dean ... Ibu belum percaya kalau kau sudah menikah bahkan punya anak!" Sorra kembali menyelanya, "Iya kan Bu?"


"Ayolah Sorra! Kau hanya iri padaku, harusnya kau juga menikah dan punya anak agar tidak selalu usil padaku. dan kita bisa berhenti berdebat! Bisa hilang rasa hormatku padamu nanti."


Sorra membentak adiknya, bahkan tatapannya semakin tajam diarahkan pada Arlene. "Kau yang seharusnya belajar menghormati keluargamu Dean, dengan tidak tiba tiba menikah dan membawa orang asing seperti ini!"


"Kenapa kalian jadi ribut begini hanya karena wanita tidak jelas seperti dia! Sorra ... Dean, berhenti berdebat!" ujar Debora marah. "Dan Kau ... lihatlah, kau yang membuat kekacauan di rumah ini, kau datang kemari dan mengaku sebagai istri Dean." tunjuknya pada Arlene.


Selena berdecih, "Kami tetap tidak percaya jika Dean menikahi wanita tidak berkelas seperti mu, lihat saja dengan pakaiannya, apa Dean tidak memberimu uang atau Dean menemukanmu di pinggir jalan dan membawamu pulang kemari?"


Arlene terkekeh kecil, dia menoleh pada Dean dengan menatapnya nanar.


"Sayang, apa uang yang kau berikan terlalu sedikit sampai dia mengatakan hal itu?"

__ADS_1


__ADS_2