
"Coba kau ulangi aku siapa? Kau membayarku untuk apa? Jadi istrimu bukan? Tapi ucapanmu sungguh membuatku sakit hati! Aku malas ikut denganmu, katakan saja istrimu itu tidur atau apalah terserah, aku lelah."
Dean menghela nafas, "Ayolah Arlene, jangan mempersulitku, aku sudah membayarmu dengan harga tinggi! Jadi bekerjalah dengan profesional."
Arlene mendekap kedua tangan didepan dadanya, "Say please?"
Dean menghela nafas, kali ini Arlene benar benar membuatnya kesal, namun juga dirinya tidak punya pilihan selain mengikuti wanita yang dia bayar dengan sangat tinggi untuk berpura pura jadi istrinya, terkesan sangat bodoh karena kali ini dia yang dipermainkan.
"Please Arlene?" katanya dengan pelan.
Arlene sangat puas dengan melihat kekesalan Dean namun membuatnya tidak berdaya.
"Oke! Tapi untuk pekerjaan pekerjaan lainnya, kau harus membayarku lagi! Pekerjaan ku sangat beresiko dan juga semakin berat. Karena begitu banyak orang yang membenciku dan tidak suka karena menikah diam diam denganmu. Dan me---"
Ucapannya terjeda karena Dean dengan cepat menarik tangannya dan membawanya keluar.
"Masalah uang soal mudah! Asal kau bisa menaklukan semua orang apalagi Nenek! Aku akan memberikanmu lebih banyak lagi!" gumamnya saat mereka menuruni tangga.
"Aku pegang janjimu! Kalau kau ingkar, maka aku akan membongkar semuanya." Arlene sangat senang karena begitu mudahnya mengancam Dean.
Dean mengangguk, pegangan tangannya berubah menjadi lembut saat mereka berjalan ke arah belakang dimana semua orang telah berkumpul. Dia sangat totalitas dalam berakting, bahkan membuat Arlene sendiri lama lama nyaman dengan sikapnya saat Dean benar benar memperlakukannya sebagai seorang istri dihadapan orang lain.
"Paman ... bibi Cress!" Sapa Dean saat mereka berdua sampai di paviliun belakang.
Kedua orang paruh baya itu menatap ke arah mereka bergantian, begitu juga Debora dan juga Sorra. Mereka menatap Arlene dari ujung kepala hinga ujung kaki.
"Bu ... lihat itu? Dress yang menjadi incaran ku pada katalog terbaru merek itu. Tapi dia memiikinya lebih dulu!"
"Kau bisa memesannya langsung ke italia sayang!" sahut Debora yang tahu putri pertamanya itu fashionable akut.
__ADS_1
"Hah ... what? Yang ada nanti sama dengannya. No Ibu ... Itu memalukan!"
Keduanya semakin mendelik saat paman dan bibi Cress menyambut tangannya, paman Cress menyambutnya hangat, namun tidak dengan bibi Cress, wanita paruh baya itu sudah dipengaruhi oleh Debora sebelumnya. Tak hanya dia, Nenek Miranda menatapnya datar, bahkan tanpa senyuman sedikitpun.
"Jadi ini wanita tidak jelas asal usulnya yang kau nikahi Dean?"
"Bibi Cress!"
"Benar benar memalukan, mau sebagus apapun pakaaian yang kau kenakan! Itu sangat tidak cocok untukmu, terlihat sekali kau berasal dari keluarga yang miskin." Ejek bibi Cress membuat Arlene tercengang.
Tak lama kemudian Arlene mengulas senyuman.
"Maaf bibi Cress, walau sekalipun aku tidak cocok dengan pakaiannya! Suamiku selalu mendukung dan mencintaiku! Benarkan sayang!" Kedua tangannya menyentuh wajah Dean, mengeluskan hingga Dean menarik tubuhnya lalu mendekapnya erat.
"Itu benar sayang!"
Arlene mengulum senyuman tanpa ada halangan sedikit pun, setali tiga uang, dia berhasil membungkam bibi Cress, sekaligus melumpuhkan Dean yang sempat mempermainkanya.
Dean mau tidak mau membiarkan Arlene menarik tangannya, bahkan bersikap layaknya seorang istri bahkan Terus melingkarkan tangannya di lengan Dean.
"Kau harus membayarku lebih Dean, keluargamu bertambah satu orang yang tidak suka padaku." Bisik Arlene.
"Kau tenang saja, aku tidak peduli dengan keluargaku yang lain, yang harus kau pastikan hanyalah Nenek!"
Arlene melirik ke arah Bibi Cress yang tengah mengobrol dengan Debora juga Sorra.
"Mereka sepertinya membicarakanku!" gumamnya pada Dean saat melihat ketiganya terus berbicara dengan sesekali melirik ke arahnya. Hanya Nenek Miranda yang terlihat acuh, dia hanya mengamati semua orang dengan tatapannya yang tajam.
"Abaikan saja! Karena mereka jelas tidak suka padamu!"
__ADS_1
"Ya dan semua juga gara garamu Dean! Kau yang membuatku terjebak di mansion ini dan membuat mereka membenciku!" sungutnya dengan terus berpura pura tersenyum.
"Berhentilah mengajakku berdebat! Bukankah kau sudah menerima uangku Arlene!"
Arlene tentu saja kesal, Dean terus mengungkit uang yang diberikan padanya sebagai uang bayarannya, bahkan hanya memandangnya sebagai wanita bayaran. Dia mengambil sepotong kue coklat dan memasukkannya ke dalam mulut Dean dengan kesal.
"Sayang! Kau harus mencobanya, ini enak sekali sayang!"
Dean membulatkan kedua matanya, namun dia juga lagi lagi tidak bisa menolaknya. Dengan terpaksa mengunyahnya walau sebenarnya dia tidak suka kue dan tidak suka manis.
Sorra bangkit dan menghampirinya dengan berkacak pinggang, "Heh kau! Apa kau tidak tahu, Dean tidak suka kue! Tidak suka yang manis manis, kenapa kau memaksanya makan kue itu?"
"Oh ya ... tidak suka ya? Maaf kakak ipar, tapi sekarang dia suka makan kue! Apalagi kue buatanku, iya kan sayang?" ucapnya dengan menoleh ke arah Dean.
Sial ... kenapa aku malah jadi terjebak sendiri seperti ini. Kalau aku tidak mengiyakannya, dia pasti berulah apalagi sampai menceritakannya pada semua orang. Arlene kau cari mati. Batin Dean.
Akhirnya Dean dengan terpaksa mengangguk mengiyakan, membuat Sorra kecewa dan marah, dia menuding Arlene yang memaksa Dean mengikutinya. Mempengaruhi adiknya sedemikian rupa.
"Dasar jalangg! Tidak tahu diri, aku kakaknya, jelas aku tahu seperti apa adikku! Kau hanya wanita asing yang kebetulan di nikahi! Kau fikir kau siapa hah? Kau pasti memaksa Dean kan?"
"Tidak ... kau bisa bertanya pada suamiku langsung. Dia dengan senang hati memakannya." sahut Arlene tidak ingin mengalah, masih bisa tersenyum walau sebenarnya juga takut.
"Jangan diperbesar Sorra! Aku memang menyukai kue manis sekarang. Bahkan semenjak menikah dan punya anak, mungkin aku juga sering menghabiskan kue Alleyah." Dean terkekeh, aktingnya sangat bagus. Membuat Sorra bertambah kesal, dia berdecak dengan mendelik ke arah Arlene lalu kembali duduk di tempatnya tadi.
"Kau akan menyesal Arlene!" bisik Dean tepat ditelinganya, dengan wajah penuh senyum kepura puraan.
Arlene sendiri kaget, hembusan nafas hangat dari Dean juatru membuat bulu bulu halus di tengkuknya meremang, sejurus kemudian dia sadar kembali posisinya, jangan sampai terbawa suasana apalagi terlena.
Ingat Arlene ... Ini hanya pura pura, sandiwara yang entah sampai kapan, kau harus bertahan dengan semua ini atau kau kembali ke jalan. Batin Arlene.
__ADS_1
"Benarkah? Kalau begitu sama! Aku juga akan membuatmu menyesal. Dan sebelum bicara macam macam, fikirkan saja apa yang akan aku perbuat jika kau berani licik! Aku justru menyelamatkanmu, dengan begitu mereka akan yakin bahwa petunanganmu dengan Selena tidak bisa dilanjutkan lagi, karena aku lebih baik dari pada Selena. Makanya kau menjadikanku istri bukan?"