Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.38


__ADS_3

Dean sedikit panik dengan apa yang di ucapakan Arlene, terlebih maid yang terlihat menoleh ke arahnya.


"Apa maksudmu? Kontrak apa? Kau ingin kembali bekerja dan melanjutkan kontrak modelmu itu. Tidak ... Aku tidak setuju sayang. Kamu tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun hanya untuk menggantinya. Bukankah itu sudah tanggung jawabku sebagai suamimu sayang?" ujar Dean yang menoleh dengan manik mata yang mengerling ke arahnya.


Arlene baru sadar ucapan Dean berubah haluan dengan melirik ke arah belakang lewat spion mobil yang berada di tengah tengah mereka.


"Terima kasih sayang!" ujarnya kemudian dengan tersenyum tipis.


"Bagaimanapun juga teman temanmu harus di beri pelajaran, aku tidak akan membiarkan mereka mengusik istri dan anakku." pungkas Dean lagi.


Arlene terkekeh. "Kau benar sayang!"


Maid tersebut hanya diam saja tidak bereaksi, entah dia mengerti atau tidak yang mereka bicarakan, jika pun mengerti, dia tidak akan intrupsi apapun, paling hanya akan kasak kusuk di belakang dan menjadi bahan pembicaraan antar pelayan mansion saja.


Tidak lama kemudian mereka tiba di mansion dan menghentikan mobil, Dean menyuruh maid keluar lebih dulu untuk membawa Alleyah yang tertidur dipangkuan Arlene dan menyuruhnya mengantarkannya ke kamar.


Sementara dia mencekal tangan Arlene yang baru saja hendak melangkah masuk. "Aku ingin bicara denganmu sebelum masuk ke dalam."


"Hm ... Ah ... Baiklah!"


"Masuklah ke dalam mobil, kita bicara di tempat lain." Dean membukakan pintu mobil untuknya, lalu dia sendiri berjalan masuk ke pintu kemudi. Tidak lama Dean pun melajukan kembali mobil dan keluar dari mansion.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah taman yang berada tidak jauh dari kawasan mansion. Dean menghentikan mobilnya tepat di pintu masuk taman tanpa niat keluar dari mobil.


"Dengar Arlene. Aku tidak ingin kembali membahas masalah ini kedepannya. Apapun yang akan terdengar di luar sana atau apapun yang kau dengar nanti. Maukah kau percaya padaku?"


Arlene menoleh ke arahnya. "Apa maksudmu? Aku benar-benar tidak mengerti."


"Aku juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padaku dan perasaanku padamu. Tapi aku benar-benar minta tolong padamu untuk percaya saja padaku. Alasanku membawamu mungkin bukan hanya ingin menghindar dari pernikahan dengan Selena saja." Dean menghela nafas sebelum meneruskan ucapannya. "Tapi aku juga me---."


Drett


Drett


Dering ponsel terdengar, Dean pun merogoh ponsel dari dalam saku celana, nomor tanpa identitas itu kembali memanggilnya. Maaf aku tidak bisa mengangkatnya sekarang.


Dean mengabaikan panggilan itu lagi, dia kembali memasukkan ponsel kedalam saku celana walaupun ponselnya masih menjerit jerit.

__ADS_1


"Kenapa tidak diangkat?"


"Tidak usah! Nanti saja."


"Padahal aku tidak keberatan kalau kau mau mengangkatnya. Aku hanya akan diam saja!"


"Ini soal pekerjaan, tidak apa apa. Aku bisa mengurusnya nanti." sahut Dean.


Arlene mengerdik, "Terserah kau saja!"


"Jadi sampai di mana tadi?"


"Dean tunggu!" seru Arlene sedikit mengagetkan.


"Aku mau es krim itu!" Arlene langsung membuka pintu mobil.


Dan dia keluar begitu saja saat tatapannya melihat kedai es krim tidak jauh dari sana, sementara Dean tetap berada di mobil dan melihat seorang yang terus tersenyum dari jauh saja.


Terlihat menyenangkan melihat Arlene ceria seperti ini. Bahkan sikapnya yang ramah pada penjual es krim itu. Dan Dean ikut tersenyum melihatnya. Tak lama Arlene kembali ke dalam mobil dengannya membawa dua es krim dengan varian yang berbeda.


"Ini untukmu!" Arlene menyerahkan satu cup kecil ke arah Dean.


"Ah aku lupa ... kau kan tidak suka manis, es krim atau cake, kau hanya berpura-pura suka di depan keluargamu saja" ujar Arlene kemudian,


Dia kembali menarik tangannya.


"Baiklah aku akan memakannya ... aku akan mencoba dulu! Berikan padaku." ujarnya dengan mengambil kembali es krim rasa vanila dari tangan Arlene.


"Eeh ... Sudah tidak apa apa! Kau tidak perlu memaksakan diri dan mencoba memakan makanan yang tidak kau suka."


"Tidak apa-apa .... tidak apa-apa, aku akan mencobanya saja sedikit." tukas Dean yang menjilatnya sedikit.


Rasa manis dan sensasi dingin juga aroma vanila yang menyeruak kini dia rasakan.


"Not bad!" cicitnya dengan terus menjilati es krim itu. "Enak juga! Tidak buruk."


Arlene terkekeh, menyodorkan es krim yang dia pegangi. "Kau mau coba rasa coklat?"

__ADS_1


Dean mengangguk, "Boleh." ujarnya dengan memajukan kepalanya dan menjilat es krim dari tangan Arlene. Hingga jarak keduanya sangatlah dekat. Degup jantung Arlene kini terus berdetak dengan cepat, terlebih saat pandangannya saat ini beradu.


Dean maju lebih dekat, mengecup bibir Arlene sekilas, dan terasa manis dan juga dingin karena sebelumnya mencecap es krim.


"Manis! Aku suka manisnya." Ujar Dean yang terlihat kikuk sendiri dengan apa yang dia lakukan.


"Terima kasih!" ujar Arlene yang sama gugupnya.


"Terima kasih untuk apa?"


"Hah?" wajah Arlene tiba tiba tersipu malu dengan semburat merah yang kini terlihat. Benar juga, kenapa aku harus berterima kasih padanya. Apa aku berterima kasih karena dia menciumku atau apa. Kau bodoh Arlene. Batin Arlene.


"Hm maksudku, terima kasih karena sudah mau mencoba makan es krim yang manis! Aku juga baru kali ini makan ea krim seenak ini." kelakar Arlene.


"Kau tidak pernah makan es krim sebelumnya?"


Arlene mengangguk, "Aku tidak punya uang untuk membeli es krim. Kalau pun punya aku lebih memilih membeli barang yang benar benar aku butuhkan. Jadi aku tidak pernah makan es krim. Apalagi yang mahal begini." cicitnya dengan terkekeh, menutupi rasa gugupnya sendiri.


Dean mengangguk anggukan kepalanya mengerti, semakin lama semakin dia mengerti jika Arlene hanyalah wanita biasa yang sederhana. Begitu jahat dirinya sampai menyeretnya dalam masalah di hidupnya. Bahkan sampai membuatnya jadi bahan kemarahan dari orang orang di mansion.


Entah kenapa hati Dean terenyuh tiba tiba, wanita baik yang tidak hanya memikirkan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Arlene! Tapi ..." jari Dean terulur menyapu bibir Arlene. "Kau makan es krim sampai berantakan." ujarnya lagi dengan mengisap ibu jarinya sendiri.


Arlene terkesiap, terlebih apa yang di lakukan Dean setelahnya. Sisa es krim dari bibir Arlene yang dia cicip dari jarinya sendiri.


"Dean ... Kau jorok sekali!"


Dean terkekeh, "Apa harusnya aku langsung membersihkannya dengan bibirku?"


Arlene memukul lengannya pelan, "Kau ini!"


Keduanya tertawa dengan sama sama menikmati es krim milik mereka. Hingga dua cup es krim itu habis barulah Dean kembali melakukan mobilnya menuju mansion.


"Dean?"


"Hm ...!"

__ADS_1


"Apa perasaanmu itu benar benar nyata?"


__ADS_2