Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.45


__ADS_3

Pagi itu Arlene keluar dari kamar, dengan tas yang dia bawa dan Alleyah yang berada dipangkuannya, sementara koper digeretnya juga. Terlihat kesulitan sendiri namun juga tidak membiarkan Dean membantunya.


"Arlene, biar aku membantumu! Berikan koper itu padaku."


"Tidak perlu!"


"Kalau begitu bagaimana kalau Tas saja."


"Tidak usah Dean!"


Dean masih betah mengikuti langkahnya menuruni tangga, tampak Arlene lebih kesulitan karena harus menahan beban saat melangkah turun. Dean berjalan mendahuluinya dan berbalik ke arahnya.


"Arlene. Jangan egois, biarkan aku membantumu aku hanya akan membawakan barangmu atau begini saja berikan Alleyah kepadaku," Katanya dengan merentangkan tangan untuk mengambil Alleyah dari pangkuan ibunya.


"Tidak perlu Dean!"


"Arlene, biarkan aku menggendong Alleyah,"


Arlene menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Dean. "Untuk apa kau melakukannya, kau hanya akan membuat putriku semakin menangis nantinya. Menjauhlah dan tidak perlu lagi melakukannya."

__ADS_1


"Aku hanya berniat membantu!"


"Sudahlah, untuk apa lagi, semua sudah berakhir. Jadi kau tidak perlu berpura pura lagi. Alleyah tidak tahu apa apa, jadi dia hanya menganggapmu Ayah tanpa tahu apa yang terjadi, jadi tolong Dean ... Cukup!" ujar Arlene yang terus melangkahkan kakinya meninggalkan Dean yang masih mematung.


Alleyah menangis dengan kedua tangan meronta minta di gendong ke arah Dean. "Papa Papa Papa Papa Papa!"


Alleyah terus memanggilnya papa, membuat Dean mencelos namun juga tidak bisa melakukan apa apa, dia hanya bisa menatapnya dengan berkaca-kaca, tidak pula berbicara apalagi melakukan sesuatu.


Suara tawa kedua wanita penghuni mansion yang tidak menyukai Arlene kini terdengar, mereka tidak perlu bersusah payah untuk menyingkirkan Arlene, karena memilih pergi.


"Harusnya kau melakukan hal itu dari dulu saja Arlene! Wanita kampungan!" ejek Sorra.


"Terserah kalian mau bicara apa, aku tidak peduli apapun yang kalian katakan!" tukas Arlene dengan wajah datar tanpa ekspresi.


Arlene melewati keduanya yang tengah berdiri di depan pintu ruangan makan, jangankan untuk menyantap sarapan, yang ada dia hanya ingin pergi dari Mansion mewah itu.


"Arlene ... Kau harus sarapan lebih dulu!" Pungkas Dean yang lagi lagi membujuknya.


"Tidak perlu, aku bisa sarapan di tempat lain."

__ADS_1


"Tapi Arlene ...!"


"Sudahlah Dean, kenapa kau tidak juga mengerti." cicitnya tanpa ingin masuk ke dalam ruang makan, "Minggir!" imbuhnya lagi.


Dean akhirnya mengalah, membiarkan Alleyah yang sudah ingin menangis melihatnya dan terus memanggil nya Papa, sebutan yang selama ini mendekatkan mereka, karena sebutan itulah, tercetuslah rencana ini semakin menarik.


Tangisan Alleyah akhirnya pecah, saat keduanya melangkah keluar, Dean sekali lagi mengejarnya, berharap menggendong anak kecil itu walau hanya untuk terakhir kaliny.


Supir sudah siap dibelakang kemudi mobil yang siap mengantarkan Arlene ke tempat tujuan, ke sebuah apartemen yang disiapkan Dean untuk keduanya tinggal.


Namun mereka justru berpapasan dengan Miranda yang hendak masuk ke dalam, menatapnya tajam seolah tengah menelanjanginya. Sikap Arlene terlihat biasa saja, dia kini sudah tidak memiliki alasan untuk bertahan dan menahan diri lagi.


Sampai gadis itu membalas tatapannya yang tajam, tidak akan membiarkan semua orang termasuk Miranda. Tidak akan aku biarkan kalian terus menghinaku. Batinnya terus bicara.


Miranda melangkahkan kedua kakinya masuk tanpa mengalihkan pandangannya terhadap wanita yang juga menatapnya tajam itu.


"Terima kasih nyonya Miranda! Anda sudah tahu semuanya tapi tidak menceritakan apa apa pada semua orang. Kau menjaga rahasia ini, maafkan aku karena aku sudah lancang melakukan hal ini." tukasnya pada saat Miranda yang hendak melangkahkan kakinya lagi.


"Pergilah sejauh mungkin, terlebih jangan pernah menyuruh Dean menyentuh putrimuitu!"

__ADS_1


__ADS_2