
"Sepertinya aku tidak salah lagi, aku pernah melihatmu!" desis Rayi saat terus menatap ke arah Leyka yang berdiri mempesona di depannya.
Tak ayal lagi jika Rayi terus mengingat dimana dia melihat Leyka, kedua keningnya bahkan terlihat saling bertautan saking kerasnya dia mencoba berfikir.
Leyka terus bicara, sesekali menebar senyuman pada semua orang yang hadir di ruang meeting itu, terutama pada Rayi yang tidak berkedip sedikitpun.
"Baik ... Sepertinya presentasiku cukup sampai di sini, mungkin ada yang belum faham atau kah ada yang ingin menambahkan?" ujarnya dengan terus mengumbar senyuman, lalu berakhir menatap Rayi. "Pak?" ujarnya lagi.
Semua orang menatap Rayi, sementara yang di tatap tidak sedikitpun mengerjapkan kedua matanya. Sampai sang asisten menyenggol lengannya.
"Pak ... Sudah melamunnya?"
Seketika Rayi mengerjapkan kedua matanya, tentu saja akan banyak pertanyaan yang brseliweran di dalam kepalanya, tapi bukan tentang presentasi yang dibawakan Leyka melainkan sosok di depannya itu.
"Cukup ...!"desisnya saat itu, seolah ingin segera mengakhiri meeting dengan cepat agar dia bisa fokus.
Leyka menyibakkan rambutnya, lalu mengangguk kecil dan langsung duduk di kursinya kembali. Kursi yang berada persis di hadapan Rayi.
__ADS_1
Deg!
Rayi merasa aneh dia ingat foto yang dia lihat sebelumnya yang di jadikan wallpaper di laptop milik DEan, Tidak salah lagi. Dia lah wanita yang menggendong anak kecil, senyumnya, bahkan cara dia duduk yang sama persis. Batin Rayi.
Leyka mengernyit menatapnya yang terlihat kaget.
"Apa kau masih berfikir kita pernah bertemu?" ujarnya saat meeting berakhir dan hampir semua orang sudah keluar dari ruangan itu, yang tersisa hanya Rayi dan juga Leyka saja.
"Ya ... Dan aku rasa aku tidak salah lagi kali ini, aku pernah melihatmu dan aku yakin."
Leyka berdecak, " Kenapa kau seyakin itu ? Aku rasa aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, aku juga baru di kota ini. Mungkin kau salah atau mungkin wajah ku ini terlalu pasaran. Kenapa kau bersikeras sekali?"
"Miss Leyka... Kita harus segera pergi!" tukas seorang pria yang membuka pintu ruangan.
"Maaf ... Sepertinya kau harus pergi!" Leyka bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu keluar.
"Tunggu ..."
__ADS_1
Suara Rayi tentu saja tidak bisa menghentikan langkah Leyka yang terus berjalan keluar dari gedung perusahaan milik Mcdermott itu. Dan Rayi yang hanya bisa menghela nafas dengan berat saat melihat mobil yang di tumpangi Leyka melesat pergi.
"Apa Dean tahu? Apa hubungannya dengan Dean, apadia istruinya? Ahhh ... Semua ini membuatku pusing." gumamnya dengan kembali masuk ke dalam ruangannya.
Hampir dua jam Rayi menunggu Dean dengan resah, dia sudah tidak sabar ingin mengatakannya pada Dean apa yang terjadi, sampai Dean kembali dan dia langsung memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
"Siapa wanita yang kau jadikan wallpaper di laptopmu?Apa dia istrimu ... Kekasihmu, dan anak kecil itu, apa dia anakmu, atau siapa ... Katakan Dean!?"
Dean menatapnya dengan mengernyitkan kedua dahi, dia langsung melengos masuk ke dalam ruangannya dan duduk di singgasananya. Tidak ada jawaban yang ingin dia berikan pada Rayi perilah foto Arlene dn juga Alleyaah yang masih dia simpan dengan baik bahkan dia jadikan sebagai waalpaper laptopnya.
Pria itu hanya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi dan menyalakan komputer. Tidak peduli dengan seorang pria dengan rasa keingin tahuan yang besar tengah berdiri di depannya dengan gelisah karena menunggu jawaban Dean.
"Aku terlalu banyak salah padanya!" Desis Dean.
"Wanita ini baru saja pergi dari sini, kau tahu hal itu tidak?"
Dean mengerjapkan kedua matanya.
__ADS_1
"Apa ... Kau yakin itu dia?"
"Sangat yakin!"