
Baiklah, maafkan aku Arlene, aku tidak bisa menguasai diriku sendiri karena kau! Sampai aku tidak melihat ada putri kecil kita yang sangat cantik." ujarnya dengan menghampiri Alleyah yang berwajah masam.
"Kau punya satu dosa besar uncle Robin."
Robin terkekeh, "Oh ya .. Apa itu sayang? Apa uncle melewatkan sesuatu dan bersalah padamu. Maafkan aku, mungkin aku punya salah padamu, tapi uncle benar benar lupa apa itu?" ujar Robin yang memang tidak tahu apa salahnya.
Alleyah ingat betul kejadian tadi pagi dimana dia melihat mobil Robin tengah menepi di sebuah gedung tinggi, dan wanita yang di sebut teman berambut panjang dari mobil masuk kedalam gedung tinggi dengan penuh jendela bertirai putih. Ingatannya sangat tajam, sampai hal hal kecil yang tidak mungkin terlewatkan olehnya.
"Sayang, ayo cuci kakimu dan bersiap untuk tidur!" ucap Arlene karena memang sudah waktunya untuk tidur.
"Mam ... Aku masih belum mengantuk, jangan menyuruhku tidur terus saat kalian ingin membicarakan sebuah rahasia. Iya kan uncle?" ujarnya dengan mendelik ke arah Robin.
"Alleyah?" sentak Arlene yang merasa Alleyah berlaku tidak sopan.
"It' s oke Ley. Tidak apa apa, putri kita belum sekolah jadi tidak apa apa terlambat tidur malam ini, benarkah Ley?" Robin berjongkok dan mengelus rambut Alleyah.
Alleyah mendengus, lantas dia turun dan berjalan ke arah kamar tidur ibunya.
"Alleyah?" Arlene sampai berteriak karena putri semata wayangnya pergi begitu saja.
"Sudah biarkan saja, dia hanya anak anak Ley."
"Tapi tidak seperti itu Robin. Walaupun dia anak anak, aku tidak mengajarkannya seperti itu. Dia harus diajarkan sopan sejak dini, bukannya malah langsung pergi ketika d nasehati."
Robin merengkuh bahunya dengan lembut. "Tidak apa apa sayan, dia masih anak anak dan itu wajar." ujarnya lagi, "Oh ya ... Kau tadi kemana saja setelah pergi dari kantor, maaf aku tidak menemanimu karena aku harus meeting dengan beberapa rekan bisnis,"
"Tidak apa apa Robin, aku hanya menemani Alleyah bermain, hari ini dia mendadak rewel." ujarnya bohong. Dia tidak mungkin menceritakan jika seharian tadi mereka bersama dengan Dan dan menghabiskan waktu dengan bermain.
Robin mengangguk."Baiklah, sepertinya sangat seru sampai kau mengabaikan chat dan panggilanku."
"Maaf kan aku Robin. Aku lupa jika ponselku kehabisan daya."
"Tidak apa apa." ujarnya dengan mencapit dagu Arlene dan kembali menyambar bibirnya yang manis, namun Arlene langsung memalingkan wajah ke arah lain dan bibir Robin mendarat di pipi kanannya.
__ADS_1
"Kau tidak mau aku cium ya?"
"Maaf Robin tapi aku harus menidurkan Alleyah lebih dulu." ucap Arlene dengan berjalan masuk ke kamar.
Terlihat Alleyah sudah tertidur dengan memeluk guling, wajahnya yang masih berantakan dengan sisa krim di ujung bibirnya.
"Kamu bahkan tidak mau membersihkan wajahmu sebelum tidur sayang!" gumam Arlene.
Berbeda sekali pada saat bertemu Dean, gadis kecilnya itu tampak lebih bahagia dan terus tertawa. Dia bahkan berceloteh segala pada Dean. Namun sikapnya tidak seperti itu pada Robin. Dan semua itu membuat Arlene takut.
"Bagaimana ini, yang aku nikahi nanti adalah Robin tapi aku tidak bisa hanya memikirkan diriku sendiri sementara putriku tersiksa.
Pokoknya kakak ipar harus hati hati,
Robin itu tidak sebaik yang kau fikirkan Arlene, dan aku tidak akan membiarkan kau menikah dengannya. Jangan Arlene ... Jangan lakukan.
Ucapan Zoya dan juga Dean kini mengganggu fikirannya, entah apa yang mereka maksudkan. Namun akhir akhir ini Arlene memang merasa risih saat Robin selalu berusaha mendekatinya dan menyentuhnya, semua itu tidak membuat hatinya bergetar namun justru selalu berusaha menghindar.
Dengan Robin yang masih memakai celemek di depan dadanya.
"Taraa! Makan malam siap Nyonya."
"Astaga ... Robin?"
"Kemari lah sayang, ini makan malam pertama kita sebagai pasangan, aku tadinya ingin mengajakmu malam malam di luar. Tapi kita tidak mungkin hanya pergi berdua saja dan membiarkan Alleyah sendirian. Jadi aku menyiapkan semua ini." ucapnya dengan menghampiri Arlene dan menariknya untuk duduk di meja makan. "Maaf karena aku telah mengacak ngacak isi lemari esmu."
"Robin ... Terima kasih!"
"Makanlah, aku membuat steak daging kesukaanmu. Tanpa lada hitam dan sedikit pedas kan?" Ucapnya dengan menarik kursi dan menyuruh Arlene duduk di sana. "Aku akan mencuci tanganku dulu!" ujarnya lagi dengan membuka apron yang terpasang di tubuhnya.
Secepat kilat Arlene mengangkat bokongnya dari kursi dan langsung memeluk tubuh Robin dari arah belakang hingga langkah pria itu terhenti.
"Arlene?" lirihnya.
__ADS_1
"Robin ... Maafkan aku! Maafkan Alleyah juga."
Robin membalikkan tubuhnya hingga menghadap ke arahnya. "Apa yang terjadi Arlene. Hm?"
Arlene menggelengkan kepalanya dengan lirih. "Aku hanya ...."
"Hanya apa?"
Masih dengan gelengan kepalanya saja karena Arlene tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya bahwa dia sempat meragukan Robin. Dan hampir percaya lagi pada Dean.
"Kau merindukan aku?"
Arlene akhirnya mengangguk, tidak ada pilihan lain lagi. Robinlah yang selalu ada untuknya dan tidak pernah mengecewakannya. Bahkan dialah yang menolongnya sampai saat ini.
Mungkin tidak ada cinta di dalam hatinya untuk pria satu ini, namun bukankah Cinta akan datang karena terbiasa. Walaupun sampai saat ini sulit sekali Arlene membuka hatinya untuk orang baru termasuk Robin.
Robin menengadahkan wajah Arlene hingga dia dapat melihat wajahnya dengan jelas. Dua manik sayu nan teduh yang berbinar, hidung mancung bak perosotan dan bibir tipisnya yang seharus stobery.
"Bolehkah aku menciummu Arlene?"
Arlene terdiam, dia hanya mengangguk kecil saja lalu memejamkan kedua matanya. Berusaha dengan keras menerima kehadiran Robin di hatinya. Di dalam hidupnya dan hidup Alleyah.
Lamat lamat Robin pun mengecup bibir seharum stobery itu, pelan bahkan sangat pelan mendaratkan bibirnya, dan perlahan lahan mencecapnya dengan lembut.
Arlene mengalungkan kedua tangannya pada leher Robin dan mencoba menerima dengan membiarkan lidah Robin menyelusup masuk ke dalam rongga mulutnya.
Ciumaan lembut yang semakin lama semakin membuainya, tidak seharusnya dirinya ragu setelah memutuskan menerima Robin. Dan jalan satu satunya agar Dean tidak lagi mengejar ngejar dirinya.
Semakin lama ciuman itu semakin dalam, saling membelit satu sama lain walau sudah di pastikan jika Arlene sangatlah kaku.
Pria itu menggiringnya ke arah sofa, hingga akhirnya Arlene terbaring di bawah kungkungannya tanpa mereka sadari. Dan paguttan keduanya semakin larut. Namun sejurus kemudian Arlene tersadar, saat tangan Robin mulai menyelusup masuk ke dalam pakaiannya, membuka kancingnya satu persatu dengan nafas yang kian memburu. Membuat darahnya mendesir hebat dan Alrene belum siap melakukan hal yang lebih lagi.
"Maaf Robin. Aku tidak bisa melakukannya.
__ADS_1