Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.40


__ADS_3

Suara Miranda terdengar menggelegar dan mengagetkannya sekaligus mengagetkan Selena, walaupun gadis yang bertubuh lebih tinggi sedikit dari Arlene itu langsung tersenyum saat melihat Miranda. Si penguasa mansion.


Wanita paruh baya itu berjalan pelan dengan bunyi tongkat jalan yang menghentak lantai dengan keras, tatapannya tajam dengan aura dingin yang membersamainya.


Kini alat bantu berjalan miliknya dia angkat menunjuk Arlene dari jarak dekat dengan tatapan yang tidak berubah pula.


"Kau tidak pantas melakukan hal itu padanya! Kau fikir siapa kau ini?"


Merasa kuat karena ada yang mendukungnya, Selena melangkah mendekati Miranda. "Benar Nek ... Dia sangat tidak berpendidikan dan tidak beretika!"


"Aku. Tidak berpendidikan? Lucu sekali." timpal Arlene dengan anggukan kepala.


"Kau lihat Nek. Bagaimana mungkin Dean memilih wanita macam begini untuk jadi istrinya! Dasar wanita kampungan tidak tahu diri." umpat Selena lagi.


Sementara Miranda terus menatapnya dengan tajam, sedikitpun tidak mengalihkan tatapan menghunusnya pada wanita yang sudah dia ketahui siapa sebenarnya dia.


Dean baru saja masuk dan tersenyak melihat ketiga wanita yang tengah memanas didepannya. Terlebih kehadiran Miranda di sana yang membuat Dean gugup sendiri. Namun dia juga tidak bisa membiarkan Arlene yang dia seret menerima perlakukan tidak menyenangkan ini sendirian.


"Arlene ... Ayo kita pergi saja!" Ujarnya dengan menggenggam tangannya dan membawanya pergi dari sana.


"Dean!! Kau ...!" sergahnya, lalu beralih pada Miranda, "Nek, tidakkah Nenek lihat itu? Dia bahkan tidak melihatku sekarang." ujar Selena pada Miranda yang masih mematung. "Nek ... apa nenek akan diam saja melihatnya seperti itu. Dean calon suamiku, dia akan menikahiku tapi lihatlah yang baru saja terjadi Nek." sambungnya lagi dengan terus mengguncang lengan Miranda.


"Diam dan pergilah! Kau membuatku bertambah pusing!" seru Miranda yang menghentakkan tongkat ke arahnya hingga Selena langsung diam.


Setelahnya Miranda kembali berjalan ke arah kamar dan menghilang di dalamnya.


"Iihh ... Dasar nenek sihir! Aku ingin dia segera mati saja. Membuatnya pusing katanya, yang ada dia yang membuatku pusing!" umpat Selena dengan kesal.


Arlene dan Dean baru saja masuk ke dalam kamar, dengan kesal Arlene melemparkan sepatunya begitu saja sampai hampir mengenai Dean yang masuk lebih dulu.


"Kau ini kenapa Arlene?"


"Kau tahu ... Calon istrimu itu calon bintang, dia sangat pintar berakhing khususnya di depan nenekmu." tukas Arlene dengan kesal.


"Harusnya kau diam saja saat melihat ada nenek di sana, tidak usah mencari masalah lagi!"

__ADS_1


"Hey ... siapa yang mencari masalah. Wanita jerapah itu yang mencari masalah duluan, aku hanya membela diri sampai akhirnya nenek datang dan membentak kami berdua!"


" Tidak bisakah kau diam saja?"


"Tidak bisa diam saja! Sudah aku katakan aku tidak akan diam saja kalau mereka menindasku. Bukankah aku pernah bicara soal ini padamu. Kamu mau aku mati konyol karena tidak melawan terlebih pada wanita jerapah itu?"


Dean mengernyit "Wanita jerapah?"


"Ya Selena si jerapah. Bagaimanapun juga nenek tetap tidak akan bisa menyukaiku mau aku melawan atau tidak. Itu akan sama saja, jadi lebih baik aku melawan saja daripada hanya diam saja. Toh di sini tidak ada yang menyukaiku." pungkasnya bertambah kesal.


Sebenarnya Dean memang suka sifat Arlen yang tidak mudah ditindas, tapi karena Miranda sudah tahu yang sebenarnya, Dean menjadi serba salah. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk kembali meyakinkan Miranda. Kemarahan neneknya kali ini bukan hanya soal penolakannya menikahi Selena. Tapi, karena dia membohongi nya dan semua orang yang ada di sana termasuk ibunya dan kakaknya.


"Lalu apa yang kau lakukan. Bukankah kau sudah bicara dengan nenek mengenai hal ini. Apa katanya, apa Nenek tetep bersikeras menikahkanmu dengan wanita jerapah itu." Arlene menghela nafas, berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaiannya.


Maafkan aku Arlene, sebenarnya nenek sudah tahu kalau aku berbohong soal pernikahan kita ini dan saat ini sku sedang mencari bagaimana langkah yang harus aku ambil. Nenek ingin aku meninggalkanmu juga ingin aku menikahi Selena. Dan aku tidak ingin melakukan keduanya. Arrgh ... Semua ini membuatku pusing. Batin Dean dengan terus menatap pergerakan Arlene.


"Sudahlah aku malas membahasnya lagi masalah ini, yang pasti aku tidak akan diam saja kalau mereka memperlakukanku dengan buruk!" Tukas Arlene lagi.


Dia akhirnya masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pakaian ganti ke dalamnya.


Lagi lagi Dean hanya bisa terdiam, entah langkah apa yang akan dia ambil untuk bisa keluar dari masalah ini, sementara rencananya berantakan.


'Hai Honey?'


'Dean ... Kau seperti hantu. Aku tidak suka kau menghilang seperti ini. Kalau begini terus aku ingin kita putus saja!'


'Hey ... Jangan marah. Maafkan aku sayang. Aku sedang banyak masalah di sini.'


'Kau sudah bicara pada Nenekmu. Pokoknya aku tidak mau tahu, kau harus membatalkan surat pernikahanmu dengan wanita itu!'


'Tentu saja Honey, bersabarlah!'


'Dan kau sudah berjanji untuk menungguku dan menikahiku. Jangan lupa itu Dean.'


' Iya Honey, aku tahu sabarlah sedikit lagi.'

__ADS_1


'Aku tidak ingin kau menunda nunda lagi untuk bicara dengan nenekmu dan keluarga besarmu kalau kau menolak pernikahanmu dan teruslah berkabar denganku. Jangan seperti ini, mengangkat telepon dariku saja lama sekali!'


'Iya aku mengerti!'


'Ya sudah!'


Tut


Sambungan telepon berakhir setelah di tutup secara sepihak dari ujung sana, gadis pujaan hati yang telah mengejar mimpinya menjadi seorang super model di luar negeri. Alexandra.


Gadis itulah alasan terbesarnya menolak menikahi Selena apapun caranya. Yang Alexa tidak tahu jika cara digunakannya adalah berpura puraenikahi wanita lain menyewa wanita lain dalam jangka waktu satu tahun saja.


Rencana yang dia pikir bisa mulus seperti yang dia inginkan, waktu satu tahun tidaklah lama, fikirnya. Setelah Alexa pulang, dia akan menghentikan kontrak dengan Arlene. Namun semua berantakan hanya dalam waktu dua bulan saja.


Aargghh!


Dean meraup wajahnya dengan kasar, kepalanya kini berdenyut hebat hanya karena memikirkan masalah ini, terlebih hatinya kini ragu dengan sendirinya.


"Kau kenapa?"


Dean tersentak kaget saat tiba-tiba Arlene berada di belakangnya dengan wajah yang lebih segar dan rambut setengah basahnya, wangi shampo lagi lagi menyeruak masuk ke dalam hidung.


"Tidak apa-apa, ini hanya masalah pekerjaan!" ujarnya dengan kembali masuk.


"Baiklah." cicit Arlene yang tidak juga terlalu peduli. "Ah iya ... sebentar lagi makan malam, aku tidak ingin untuk makan malam bersama. Bisakah aku makan malam di kamar saja?"


"Sepertinya tidak bisa kecuali kau sakit dan tidak bisa bangun dari tempat tidur!"


Arlene menghela nafas dengan melengos pergi mendekati ranjang kecil dimana Alleyah tertidur pulas. Tak lama kemudian pintu kamar diketuk seseorang, Dean pergi membukanya, dan terlihat seorang maid datang dengan beberapa sajian makan malam yang tersusun rapi di atas meja dorong.


"Maaf Tuan Dean, aku hanya menjalankan perintah nyonya besar. Nyonya besar tidak menginginkan ..." maid tersebut melirik ke arah Arlene sebelum melanjutkan ucapannya.


"Kenapa nyonya besar?" tanya Arlene.


"Nyonya besar tidak mau nyonya Arlene bergabung di meja makan saat makan malam nanti." ujarnya ragu ragu.

__ADS_1


Dean tersentak kaget namun tidak dengan Arlene dia hanya mengerdikan bahunya tidak peduli. Karena itulah keinginannya.


"Siapa juga yang menginginkannya. Aku tidak pernah kenyang makan bersama mereka,"


__ADS_2