Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.59


__ADS_3

Zoya menariknya untuk segera keluar dan pergi menolong Arlene, Dean yang masih menempelkan ponsel ditelinga pun tersentaknkaget saat ponselnya di rebut, dan sambungan teleponpun terputus begitu saja,


"Hey Zoya ... Ada apa sebenarnya? Katakan padaku , kau membuatku pusing kepala." ucap Dean yang terus di tarik tarik menuju tangga.


"Kita bicara diperjalanan saja, kak Dean bilang kakak tahu dimana Kak Arlene kan?"


"Yaa tahu ... Apa yang terjadi?"


Dean kini terlihat ws was dan mulai khawatir dengan keadan Arlene , dianberjalan lebih cepat dari sebelumnya bahkan mendahului adiknya yang sejak tadi menariknya.


"Heh ... Kenapa ?" gumam Zoya saat melihat ke khawatiran Dean. "Ada apa kak?" Zoya balik bertanya.


Keduanya berjalan keluar dan segera masuk ke dalam mobil milik Dean, "Kau ingat aku menyuruh supir kita untuk menjaganya kan?"


Zoya mengangguk "Sejak tadi dia tidak membalas pesanku, aku fikir Arlene tidak sedang baik baik saja, begitu bukan?"


"Sepertinya begitu Kak, soalnya tadi pas aku telepon, dia bicara seolah sedang menunggu polisi, soalnya dia bilang pak polisi pak poliisi begitu." tukas Zoya yang memasangkan seat belt pada tubuhnya dan mengulangi perkataan Arlene sebelumnya.


Dean pun melajukan mobinya keluar dari mansion, dengan kecepatan tinggi, dia menuju apartemen miliknya yang kini di tinggali oleh Arlene, mengingat kejadian pagi hari dimana Baron mengikutinya bahkan tidak percaya jika Arlene memang sudah menikah, dan kini Zoya yang dibuatnya bingung.


"Kak, sebenarnya kenapa? Kakak tahu dimana kakak ipar bukan, apa kak Dean yang menyuruhnya ke satu tempat?"


Dean mengangguk, "Dia menempati apartemen kakak di distrik selatan, daerah itu memang super ketat, nyaris tidak ada orang yang bisa sembarangan masuk ke distrik itu, dan polisi tentu saja tidak akan mudah percaya jika sesuatu terjadi di sana, mereka selalu yakin jika distrik itu tempat paling aman karena memiliki keamanan super ketat, dan kalau kau bilang Arlene sedang menunggu telepon dari polisi, mereka jelas tidak akan datang semudah itu."


"Aneh ... Justru itu harusnya kan mereka memeriksanya, jika benar ada sesuatu yang terjadi bagaimana?"


Dean mempercepat,laju kendaraannya agar segera sampai dan tahu keadaanya, Dan pun memasang ear phone dan menghubungi supir yang di tugaskan untuk menjaga Arlene, namun tidak diangkatnya pula, lalu dia beralih menelepon nomor kontak Arlene dan sama saja.


"Bagaimana kak ...?"


"Arlene tidak mengangkatnya,"


"Biar aku coba!"


Zoya pun berusaha menghubunginya, namun hingga nada dering terputus , tidak ada satu pun panggilannya diterima.

__ADS_1


Dean semakin melajukan kendaraan roda 4 miliknya dengan cepat, dengan fikiran yang semakin was was saja, hingga hampirn35 menit akhirnya mereka pun tiba di depan apartemen.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dean melompat turun bahkan meninggalkan Zoya begitu saja, dia segera berlari menuju lobby apartemen yang tampak sepi, tidak ada orang di sana yang bisa dia temui, sampai dia memasuki lift dengan cepat.


"Cepatlah Zoya." teriaknya pada Zoya yang masih berlari kearahnya.


"Aku yakin Arlene dalam bahaya," desisnya dengan menekan tombol bernomor 7 dimana unitnya berada setelah Zoya masuk ke dalam lift.


Zoya sama khawatir dengannya, terlebih dialah yang mendengar suara Arlene yang penuh ketakutan menunggu polisi, terlihat dia meremss kedua tangannya dengan resah seraya menatap layar kecil dimana nomor unit berwarna merah berubah dengan sangat lambat rasanya.


Ting!


Pintu lift terbuka, Zoya dan Dean segera keluar dari lift dan berlari menyusuri lorong menuju unit mereka yang berada di paling ujung.


Dan betapa tersentaknya Dean maupun Zoya saat melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya,


Terlihat Baron yang terduduk dilantai tidak sadarkan diri, sementara disampingnya terlihat ceceran darah yang masih terlihat segar.


"Arlene!" Dean segera mendorong pintu kamar yang rusak dan bisa dibuka dengan mudah, dia langsung menerobos masuk kedalam.


"Kak Arlene?" Zoya ikut berteriak mencarinya di dapur, namun juga tidak ada.


"Tidak ada kak ...! Kemana dia."


Dean menyisir tempat itu namun tidak menemukanya dimana mana pun, dia juga mencarinya keluar dan hanya ada Baron saja.


Byur!


Dean menyiram wajah Baron dengan segelas air yang sengaja dia bawa, sampai Baron bangun dengan tersentak. Pria berkaca mata itu langsung merangsek kerah kemeja yang dikenakan Baron.


"Apa yang kau lakukan! Mana Arlene."


Kedua mata Baron terbelalak tajam saat menatap siapa yang berada di depannya, tak lama dia terkekeh.


"Aku saja tidak tahu Dean yang tampan dan kaya raya ... kenapa kau bertanya padaku?"

__ADS_1


"Kau!" Dean semakin merangsek kerah kemeja hingga Baron hampir tercekik. "Brengsekk!"


"Harusnya kau tahu. Bukankah kau ini suaminya Arlene?" tukas Baron dengan terus terkekeh, aroma alkohol menyeruak dari nafasnya.


"Kak ... Bagaimana ini?" Zoya keluar dan mendapati keduanya yang tengah bersitegang. "Kak ... Ayo, biarkan dia ... Kita cari kak Arlene saja!" ujarnya lagi dengan melepaskan cengkraman Dean di leher pria yang tengah mabuk itu.


Sampai Baron yang dikuasai alkohol itu terhempas begitu saja dan berdiri tidak seimbang namun masih terkekeh.


"Kau ini suami macam apa? Kau saja tidak tahu kemana istrimu itu, aku yakin kalian bukan suami istri, dia hanya berpura pura saja jadi istrimu bukan?" tukasnya meracau kemana mana.


Dean menghela nafas dengan satu tangan yang berkacak di pinggangnya, dia juga memijit pelipisnya dan berfikir keras tentang apa yang terjadi pada Arlene saat ini.


Zoya kembali masuk, dia masih tidak percaya dan ingin memastikan Arlene ada di satu tempat di unitnya itu.


"Kak ...!" teriak Zoya dari dalam kamar.


Dean pun kemvali masuk dengan panik dan menyusul.Zoya yang tengah berada di dalam kamar.


"Lihat ini+" tunjuk Zoya pada darah yang berceceran di dekat dengan ranjang.


Zoya juga menemukan ponsel milik Arlene yang tergeletak begitu saja di bawah kolong.


"Bagaimana ini kak?" tanyanya dengan menyerahkan ponsel pada Dean. "Apa kak Arlene pergi tanpa memberitahu kita, tapi bagaimana certanya, siapa orang yang tadi di depan, darah itu? Bagaimana keadaannya sekarang." ujar Zoya lagi, membuat Dean juga semakin panik.


"Aku tidak tahu Zoya, tidak mungkin dia keluar sendiri jika pintu luar rusak seperti itu pasti ada yang datang,"


"Apa polisi yang sudah kemari?"


"Entahah, aku tidak tahu, kita cari mereka ke kantor polisi," ujarnya dengan merogoh ponsel dan menghubungi seseorang yang dia kenal berada di kantor pemerintahan.


"Baik! Terima kasih!" tukas Dean pada seseorang di ujung telepon.


"Bagaimana kak?"


"Tidak ada, mereka tidak menerima laporan apa apa dari wilayah sini!"

__ADS_1


"Tapi kan, lalu kak Arlene kemana sekarang kak?"


__ADS_2