
Robin lantas mengambil Allyah dan menggendongnya, dia tidak akan memberikn kesempatan sedikit pun pada Dean yang terlihat menarik perhatian dari Alleyah.
Gadis kecil itu hanya menatap wajahnya saja, seolah ia sedang memindai wajah pria yang kini melihat ke arahnya, anak kecil itu terdiam beberapa saat, mungkin dia sedang berusaha mencari memori yang terlupakan beberapa bulan lalu.
"Kau bukan ayahnya, kau hanya pura pura berperan sebagai seorang ayah hanya dalam waktu beberapa bulan saja, jadi berhenti bersikap seolah olah kau peduli pada putriku Dean, dan jangan libatkan dia dalam urusanmu." Arlene yang tetap waspada pada Dean sekali dirinya kini tengah menguasai hati dan fikirannya karena melihat sosok yang sebenarnya dia rindukan. "Lebih baik kita pergi Robin." ujarnya lagi menarik tangan Robin yang menggendong Alleyah.
Rasanya seperti terhantam ombak yang sangat besar ketika dirinya tengah berada di sisi pantai yang di fikir aman, nyatanya ombak menggulungnya dan membawanya ke tengah lautan, membuat hatinya sesak karena ucapan Arlene menyadarkannya.
"Kau sudah memilih Dean, jadi tetaplah pada pilihanmu."
"Kau yakin pada keputusanmu Dean, fikirkan baik baik."
Ucapan Arene dan juga nenek Miranda kini berputar putar di kepalanya, menghantamnya lagi dan membuatnya tersadar kembali. Apa ysng dilakukannya saat ini, kau sudah memilih Alexa dan melepaskan Arlene, lantas apa yang kau lakukan di sini bodoh!! Rutuknya pada diri sendiri.
Kini pria itu hanya bisa menatap punggung wanita yang tidak dia pilih, wanita yang dia abaikan perasannya lantas apa yang dilakukannya sekarang adalah hal yang sangat bodoh.
"Kau bodoh sekali, apa yang kau lakukan di sini, kau sedang mengemis padanya Dean, kau memang bodoh!" gumamnya dengan terus merutuki diri.
Sementara Arlene dan Robin kini sudah masuk ke dalam mobil milik Robin, dengan Alleyah yang berada di pangkuannya.
__ADS_1
"You ok?" tanya Robin.
"Yaa .. Im oke Robin, tapi sepertinya di kota ini pun aku merasa tidak aman, kenapa orang orang selalu saja mengusik hidupku, kenapa tidak pernah membiarkan aku tenang." ujarnya lagi dengan merengut, mengambil Alleyah dari tangan Robin.
Mungkin Alleyah saja sudah lupa jika dia pernah sekali dua kali mensukseskan rencana Dean dengan memanggilnya papa ada waktu yang sangatlah tepat. Namun berbeda dengan kali ini, dia hanya menatapnya saja dan tidak berbicara apa apa. Atau mungkin anak balita itu pun mengerti situasi yang tengah d hadapi ibunya, bahkan dia mengerti siapa yang benar benar tulus atau tidak.
"Tidak usah kau fikirkan Arlene, itu hanya akan menambah bebanmu saja, kau juga tidak perlu meladeni pria plin plan itu, nyatanya dia benar benar tidak tahu apa yang dia sendiri inginkan." terang Robin saat bijaksana.
Arlene menghela nafas panjang, ucapan Robin benar. Untuk apa memikirkan pria yang bahkan tidak tahu apa yang dia inginkan,
"Robin ... Apa tawaran mu masih berlaku?" cicit Arlene dengan memeluk Alleyah.
Robin yang baru saja meenginjak pedal gas menoleh, "Tawaran?"
Seketika Robin menghentikan laju kendaraannya dengan menginjak pedal rem secara mendadak hingga terdengar cekitan kanvas rem.
Ckittt!
Pria itu langsung menoleh pada Arlene dengan tatapan yang sulit di ungkapkan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
Arlene menggigit bibir bawahnya sedikit, mungkin jalan ini adalah jalan terbaik untuknya, Dean tidak akan mengganggu nya lagi, bahkan siapapun tidak bisa mengganggunya lagi jika dia menerima tawaran Robin untuk mereka menikah saja.
"Maksudmu kau ingin menerima lamaranku? Untuk kit menikah Ley?"
Arlene mengangguk kecil, dengan wajah tertunduk, bukan rasa malu saja melainkan dia merasa bersalah, dia juga tidak ingin terus begini. Dean yang seenak jidatnya datang dan pergi mencarinya namun juga tidak memikirkan perasaannya bahkan saat dia mengejarnya .
Robin menghela nafas dengan berat, "Apakah kau menerimaku hanya karena Dean datang dan mengganggu mu kembali."
Arlene menundukkan kepalanya, dia memang bukan wanita yang bisa berubah dengan tiba tiba, bahkan jika dia sendiri berpura pura jahat, itu tidak sesuai dengan isi hatinya, sekalipun dia mencoba untuk kuat, namun nyatanya Arlene hanyalah seorang wanita yang rapuh.
"Maafkan aku Robin."
Robin menghela nafas, "Kau tidak seharusnya minta maaf padaku Ley, kau tidak perlu bersalah begitu, aku cukup tahu diri, kau mencintai Dean bukan? Tapi kau juga kecewa karena Dean tidak memilih mu. Dengar Ley, kau tidak perlu memikirkan aku, ini tidak ada hubungannya dengan perasaanku, tapi perasaanmu. Kau harus tanya hatimu sendiri apakah aku pantas diperlakukan seperti itu. Aku ... Aku menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu, dan aku selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu, tapi jika kau hanya menerimaku karena itu tadi, apa boeh buat Ley, aku sudah jatuh ita padamu!"
"Robin..."
"Aku tidak apa apa Ley, kau mau melakukan apapun dengan cinta dan diriku ini, lakukan!" Robin mengusap pipinya lembut. "Sekalipun kau memanfaatkan ku untuk membalas dendam, pakailah aku Ley." ujar Robin dengan sungguh sungguh. "Muangkin setelah menikah, perasaanmu akan muncul, atau mungkin perasaan itu sudah muncul tanpa kau sadari, yang pasti aku bisa lebih baik dari Baron mantan suamimu. Aku juga tidak akan menyia nyiakanmu seperti apa yang dilakukan Dean padamu... Tidak akan Ley." ujarnya lembut dengan mencapit dagu lancip kemerahan milik Arlene.
__ADS_1
Perlahan namun pasti, Robin mengecupnya lembut, benda lembut nan basah itu menempel tepat di ujung bibir Arlene, membuatnya tersentak dan nyaris menbeku.
"Robin! Aku ....!"