Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.39


__ADS_3

Dean melirik sebentar ke arahnya namun kembali menghadap lurus ke depan, jujur pertanyaan Arlene sulit dia jawab. Saat hatinya mengatakan iya, otaknya menolak dengan perintah tidak. Membuat lidahnya kelu dan terkatup.


"Tidak perlu kau jawab Dean, aku hanya iseng." Arlene terkekeh, merasa pertanyaan itu hanya memperlihatkan kebodohan dirinya saja.


Dean mengangguk kecil, cukup mengangguk saja dan tanpa suara. Laju mobilpun seolah melambat, seiring lambatnya otak Dean yang berfikir apa dirinya benar benar memiliki perasaan pada Arlene atau tidak.


"Ah iya Dean, bagaimana nanti kalau kehadiranmu di hotel tadi jadi ramai? Bukankah tadi kau bilang hotel itu milik Robin?" saking gugupnya Arlene bertanya hal yang sama, seolah kembali pada awal tadi. "Aah ... maaf ... Aku bertanya lagi."


Karena kehabisan bahan pembicaraan, akhirnya Arlene memilih diam dengan menatap ke luar jendela dimana pohon pohon jacaranda tumbuh subur, dengan bunga jacaranda yang tengah bermekaran tampak indah.


"Kau tahu Dean, beberapa tahun lalu pemerintah menebang pohon keramat di daerah sini, pohon keramat suku Aborigin, perwalikan senat dari suku aborigin mengecam hal itu." ujar Arlene dengan terus menatap pohon pohon yang berada di pinggir pinggir jalan.


"Aku tidak tahu!"


Arlene menoleh, "Benarkah? Kenapa kau tidak tahu. saat itu sangat ramai dan demo di mana mana termasuk di depan kantor pemerintahan."


"Ya aku tidak tahu, saat itu mungkin aku sedang belajar di luar negeri." sahut Dean yang terus menatap ruas jalan tanpa ingin menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Pohon yang dianggap keramat karena konon setiap wanita australia yang melahirkan akan mengubur plasenta di bawah pohon itu!"


"Entahlah aku tidak tahu." Dean mengerdik.


"Tapi pemerintah punya alasan kuat untuk menebangnya. Mereka beralasan di jalan itu sering kecelakaan dan menyebabkan kematian."


"Mungkin ada hantu yang tinggal di pohon itu?" tanya Dean tidak masuk akal.


Arlene berdecak, "Kau ini sangat meremehkan kebudayaan negara mu sendiri Dean!"


"Apa aku terlihat begitu? Aku lebih percaya pada pemerintah saat itu. Yaitu menebang pohon pohon besar yang menghambat jalan, bisa kapan saja tumbang jika ada badai. Iya kan? Lagi pula yang kau ceritakan hanyalah mitos. Apa kau juga mengubur plasenta Alleyah di sini?"


Deg


Arlene terdiam, dia langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dan tidak ingin menjawab hal itu.

__ADS_1


"Ayahku mantan pejabat pemerintahan ditahun tahun itu, mengerahkan seluruh tenaga dan fikiran demi pengabdiannya pada masyarakat berdasarkan otoritas pemerintahan, memang benar. Sering terjadi benturan benturan dengan masyarakat yang menjadi suku asli Australia. Mereka bahkan menempatkan perwakilan dari mereka di pemerintahan. Tapi alangkah baiknya jika kita tidak membicarakannya!"


Arlene yang tengah menyimak dengan serius pun akhirnya mengernyit. "Kenapa?"


"Ya karena untuk apa? Yang ada hanya akan jadi perdebatan saja, kita bukan mahasiswa, kita juga tidak sedang kuliah kepemerintahan. Jadi untuk apa?"


"Ih kau ini tidak menyenangkan, setiap hal yang aku bahas denganmu selalu berakhir begitu saja. Kau ini tidak seperti Zoya. Adikmu itu sangat menyenangkan!"


"Lalu kenapa kau sendiri menyukaiku?" tanyanya tiba tiba.


Membuat Arlene kembali terdiam,


Kali ini Dean menoleh, menatap wajah Arlene yang kembali tersipu dengan semburat kemerahan di wajahnya. "Kau juga tidak bisa menjawabnya kan Arlene, aku tahu karena aku pun begitu. Kita berdua masih ragu ragu dengan perasaan kita sendiri."


Yang dikatakan Dean memang benar, aku juga merasa ragu dengan apa yang aku rasakan, tapi setiap dia menciumku. Aku tidak bisa menolaknya! Terlebih sikap Dean saja masih berubah ubah dan membuatku bingung. Terutama soal keluarganya yang tidak menyukaiku. Astaga ... Aku bisa gila kalau begini terus. Batin Arlene.


"Selama kerja sama kontrak kita masih berjalan, tidak perlu memikirkan apa apa. Kau hanya perlu percaya padaku, apa yang aku ucapkan dan apa yang aku lakukan!"


Sampai ponsel miliknya kembali berdering tanpa henti.


"Apa sebaiknya kau angkat saja? Siapa tahu itu sangat penting?"


Dean menggelengkan kepalanya. "Nanti saja."


Sampai akhirnya mobil tiba di mansion, seperti biasa Dean akan membuka kaca jendela mobilnya untuk memindai kornea di pintu gerbang, setelah itu pintu baru terbuka, dan mobil yang dikemudikannya kembali melaju masuk.


"Apa aku bisa mendapatkan akses masuk seperti itu?"


"Mungkin tidak!"


"Kenapa?"


"Untuk meminimalisir kejadian yang sama seperti tadi, bukankah kau juga tidak berniat pergi hanya untuk memamerkan siapa dirimu sekarang?"

__ADS_1


Ucapan Dean ada benarnya, tapi bagi Arlene itu sedikit menyinggung,


Memamerkan siapa dirimu sekarang, kenapa memangnya denganku? Apa karena aku ingin terlihat seperti orang kaya sungguhan. Ucapanmu jahat sekali Dean. Toh aku ingin menikmati hidupku yang sekarang, walaupun aku terlalu bodoh juga saat percaya pada Imelda dan Sandra. Sepertinya aku memang tidak cocok jadi orang kaya. Arlene kembali membatin.


"Ya baiklah aku mengerti, aku juga tidak akan keluar mansion hanya untuk memamerkan siapa diriku. Aku akan terus bersembunyi di dalam mansion sampai kontrak kita berakhir atau keluargamu mengusirku secara paksa!" tukasnya dengan mencebikkan bibir.


Dean mengulas senyum, selalu menggemaskan membuat Arlene kesal seperti ini. Namun juga merasa kasihan karena semua ini tidak adil baginya.


"Mungkin sekali sekali aku bisa menemanimu keluar dengan catatan tempat tujuannya aku yang menentukan! Bagaimana Deal?"


Mobil akhirnya berhenti di pintu masuk mansion, wanita berusia 24 tahun itu langsung membuka pintu dan keluar tanpa menunggu aba aba.


"Tidak terima kasih. Aku tidak ingin membuat masalah baru!" ujarnya langsung masuk ke dalam mansion.


Sementara Dean menghela nafas dengan terus menatap punggung wanita yang telah dia bayar hanya untuk berpura pura jadi istrinya. Rambut coklat bergelombang besar itu teromang ambing ke kiri dan ke kanan.


"Dari mana saja kau? Sok berlaga jadi nyonya besar di rumah ini."


Arlene mendengus saat melihat Selena yang berdiri menghadangnya dengan kedua tangan yang melipat di depan dada.


"Kenapa. Kau ingin tahu? Tidak lihat pakaianku ini?" tukas Arlene dengan menarik ujung dress yang dikenakannya.


Selena berdecih, "Apapun yang kau kenakan itu tetaplah tidak pantas untukmu. Wanita kampungan!"


Arlene tersenyum, dia sebenarnya juga tidak pernah peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang orang yang ada di mansion, dia maju ke arah Selena hingga jarak mereka tidak kurang dari dua langkah.


"Lalu mau mu apa?" ujarnya dengan kesal. "Belum tahu bagaimana wanita kampungan itu marah?"


"Apa yang kau lakukan? Kau membuatku takut!" cicit Selena yang mundur dua langkah ke belakang.


"Kenapa kau takut? Aku akan memukulmu dengan cara wanita kampungan memukul kayu bakar!" gertak Arlene dengan tangan yang sudah berada di udara.


"Hentikan Arlene!"

__ADS_1


__ADS_2