
"Kau gila! Kenapa aku tidak boleh melakukannya? Kau fikir siapa kau ini berani mengatur hidupku. Hm?" Alexa membalikkan ucapan Robin yang sempat ditujukan untuknya tadi.
Robin terkekeh, mengangkat gelas miliknya yang sudah terisi kembali. "Sifatmu tidak berubah sama sekali, kau masih pendendam seperti dulu!"
"Berhenti membahas masalah dulu! Katakan saja alasanmu melarangku Robin. Aku yakin ada alasannya. Apa kau menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting dari ku?" ujarnya dengan mengelus lembut pipi Robin. "Aku tahu kau seperti apa Robin, kau tidak akan melalukan sesuatu tanpa tujuan yang jelas dan itu sudah pasti penting." Ucapnya lagi dengan mendongkak ke arahnya lebih dekat. "Kau masih saja licik seperti dulu." bisiknya tepat di telinga Robin.
Robin tergelak, sementara Alexa kembali menegakkan tubuhnya dengan mengerling ke arah Robin.
"Kita sama sama tahu masing masing Robin, jadi jangan menghalangiku kecuali kau katakan alasanmu."
Robin mencapit dagunya dengan lembut, membuatnya wajahnya mengengadah tepat ke arahnya. "Kau sangat pintar Alexa, tapi sayang sekali. Aku tidak punya alasan yang kau maksudkan. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan Sorra, kau tahu dia berharap banyak padaku tapi aku tidak menyukainya."
Alexa menepiskan tangannya dengan kasar. "Sudahlah ... Jangan bicara omong kosong lagi! Pergilah dan jangan ganggu aku. Aku akan mencari sendiri wanita itu!"
Robin terdiam menatap wanita yang kini menenggak gelas kedua miliknya lalu terkekeh.
"Kau tahu Robin! Aku tidak akan membiarkan orang lain merebut Dean dari ku, aku sudah berjuang selama ini demi mendapatkan dirinya, tidak ... Bukan hanya dirinya, tapi semua keluarganya. Dan wanita itu, berperan dengan baik sebagai alat saja, Dean tidak mungkin benar benar mencintainya, dia hanya ... Suasana ...ya ... Suasana belaka!" Ujarnya mulai meracau.
Aku juga tidak akan membiarkan Dean menyentuh Leyka Ku walau hanya satu jengkal saja. Terlebih saat ini saat dia sadar perasaan yang dia miliki pada Leyka ku. Batin Robin.
Pria itu terus menatap ke arah Alexa yang kini menangis dengan menelengkupkan kepalanya di atas meja. Terlihat kedua bahunya naik turun disertai suara isakan lembut.
Robin mengelus punggungnya dengan lembut kemudian menepuk nepuknya juga dengan lembut,
"Sudah ... Orang orang pasti akan mengira aku menyakitimu Alexa!"
"Kau memang menyakitiku Dean, kau membuatku berantakan, kau berselingkuh tapi aku tidak akan melepaskanmu." ujarnya dengan kembali mengangkat kepalanya.
Alexa lantas mencengkram kedua pipi Robin dengan kuat, tatapannya pun sulit d artikan, kemarahan, kekhawatiran juga kesedihan yang tampak jelas dimatanya.
__ADS_1
"Dengar Dean ... Sekalipun kau tidak lagi mencintaiku, aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu. Aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku lagi. Aku tidak akan membiarkan wanita itu memiliki apa ynag harusnya sejengkal lagi aku miliki. Bagaimana bisa ada wanita yang lebih dari ku segalanya. Tubuhku ini seksi. Body goal. Aku model dan ambasador. Aku cantik ... Benarkan? Benar begitu Robin?" ujarnya meracau kemana mana.
Robin mengangguk dengan memejamkan kedua matanya, namun terus terkekeh."Benar sekali, kau punya segalanya tapi kau masih kalah dibandingkan Leyka ku."
Dengan kasar Alexa menghempaskannya wajahnya begitu saja hingga Robi nyaris terjatuh ke belakang.
"Dasar brengsekk, kau bicara sembarangan! Apa kelebihan yang Leyka miliki yang aku tidak punya." Alexa bangkit dari duduknya, walaupun tubuhnya sedikit limbung karena pengaruh minuman keras. dia lantas membuka blazer yang menutupi tubuhnya menyisakan atasan crop yang memperlihatkan tali pusar indahnya.
"Kau lihat ini, aku bahkan lebih seksi dari wanita tu, siapa namanya tadi?"
"Arlene!" lirih Robin dengan gerakan bibirnya saja. Dia kini menatap Alexa dengan tatapan yang sulit di artikan, dia pria normal, sudah tentu kedua matanya membola saat melihat tubuh seksi meliuk liuk di depannya.
Mereka berdua sudah sama sama di pengaruhi minuman keras, sampai mereka tidak lagi sadar apa yang mereka katakan juga mereka lakukan.
Robin bangkit dengan tubuh yang tidak kalah sempoyongan, dia merengkuh bahu Alexa dan membawanya pergi.
"Aku tidak mau pergi dengan mu. Kau bau!"
"Hey ... Jangan mengatai calon suamiku ya. Dia bukan tidak bersyukur tapi dia tidak tahu diri." Alexa tergelak dengan terus berjalan mengikuti langkah Robin yang membawanya ke dalam mobil.
Robin membawanya masuk ke dalam mobil, begitu pula dengannya yang masuk di pintu kemudi, mereka tidak lagi peduli keselamatan yang pasti mereka sama sama terbawa pengaruh minuman keras.
Dan anehnya Alexa yang semakin meracau kemana mana justru menganggap pria itu Dean, namun juga ada kalanya dia sadar jika pria itu Robin.
Robin membawanya pulang ke rumahnya, rumah mewah yang dia miliki di kota xx, apa yang dilakukannya juga tanpa kesadaran penuh, dia hanya mengikuti nafsunya belaka. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sementara Alexa sudah tertidur di kursi sebelahnya.
Sampai akhirnya mereka tiba di depan rumah, Robin keluar dari mobil dan membopongya masuk.
"Apa kau membawaku pulang Dean?"
__ADS_1
"Hm .. Kau pulang ke rumahku!"
"Baguslah, aku selalu ingin tinggal di mansionmu Dean, sedari dulu bahkan, dan aku senang sekarang itu semua tercapai." ujarnya dengan melingkarkan kedua tangannya pada leher Robin.
Entah siapa yag memulainya duluan, kini mereka berdua justru saling melumatt satu sama lain, gejolak yang tiba tiba muncul dan sama sama melakukannya tanpa dasar nafssu belaka. Keduanya terus saling berpagutan sampai akhirnya Robin membawanya masuk ke dalam kamar.
Pria yang dikuasai alkohol itu menghempaskannya di atas ranjang dan dengan cepat dia mengkungkung tubuhnya.
Tanpa sadar pula keduanya saling melucuti pakaian, melemparkannya kemana mana sampai keduanya kini sama sama polos tanpa sehelai kain pun.
keduanya berada di satu gelombang yang sama sama memabukkan, seiring efek alkohol yang membuat hilangnya kewarasan, sampai pertemuan dua otot kulit tidak dapat terelakan lagi.
Sama sama hanyut dalam kobaran api yang semakin membakar, erangaan lembut dan juga geraman mulai terdengar memenuhi ruang kamar milik Robin. Desahaan panjang saling bertautan saat dua kulit tanpa tulang saling bergesekan.
"Aah ....Dean, i love you so much!"
***
Sementara di sisi lain.
Arlene tersentak kaget saat mendengar pintu rumahnya di ketuk dari luar. Wanita yang saat ini berambut hitam itu menoleh ke arah jam dan mengernyit.
"Siapa yang datang malam malam seperti ini? Apa Robin? Ngeyel sekali dia itu, aku sudah katakan untuk tidak datang kemari malam malam. Kenapa dia bersikeras." dengusnya kesal.
Sampai 15 menit berlalu, ketukan di pintu rumahnya tidak juga berhenti, rasa was was tentu saja menyelimuti fikiran Arlene, mengingat pengalamannya dalam hal serupa dimana Baron masuk secara paksa dan hampir melukainya, andai saja tidak ada Robin, entah apa yang akan terjadi malam itu.
Dengan cepat Arlene mengambil ponsel miliknya dan menghubungi Robin. Suara dering terdengar namun tidak juga pria itu mengangkatnya panggilannya.
Membuat Arlene semakin takut saja saat gedoran di pintunya terdengar lebih keras dibandingkan sebelumnya.
__ADS_1
"Robin .. Kamu dimana?"