Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.110


__ADS_3

Harapan bisa menghabiskan malam panjang yang indah bersama Arlene kini pupus, baru saja hendak menyusul Arlene yang telah masuk lebih dulu ke dalam kamar, namun teriakan Alleyah menghentikannya.


"Papa ... kenapa Papa ninggalin aku lagi? Aku ingin tidur bersama Papa."


Dean meraup wajahnya, menatap Alleyah lalu tersenyum, sementara Arlene menahan tawa dengan menutup mulutnya.


"Tunggu aku, aku akan kembali." tunjuknya pada Arlene.


Dean membawa kembali Alleyah masuk ke dalam kamar, ikut berbaring di ranjang bersamanya dan membacakan sebuah buku cerita hingga gadis kecil itu tertidur.


berselang satu jam, perlahan pintu kamar terbuka, Arlene masuk dengan langkah mengendap ngendap dan tersenyum saat melihat keduanya kini tertidur lelap dengan saling memeluk.


"Mereka lucu sekali...." gumamnya dengan terus menatap keduanya.


Betapa semakin terenyuhnya Arlene atas apa yang di lakukan Dean, pria itu dengan tulus menyayangi putrinya. Bahkan meratukannya dibandingkan dengan dirinya, sangat berbeda dengan ayah kandungnya sendiri maupun Robin padanya.


***


"Kau licik!" Dean berjalan ke arah dapur dimana Arlene tengah sibuk berkutat dengan segala macam sarapan dan juga bekal untuk sekolah Alleyah.


"Aku licik kenapa?" tanya Arlene,


Alih alih menjawab, Dean malah melingkarkan tangan pada pinggangnya dan menelengkupkan kepala di ceruk lehernya. Mencium aroma wangi kulit Arlene, hingga wanita itu bergelinjang geli.


"Kenapa kau tidak membangunkanku semalam. Hm?"


"Mana tega, kau tidur dengan nyenyak. Aku tidak mengganggiu waktu istirahatmu."


"Bohong, kau sengaja karena tidak mau aku ganggu kan?"


Arlene memutar tubuhnya hingga menghadap ke arahnya, menatap wajah bantal yang tetap rupawan di depannya, lalu terkekeh.


"Bukankah kau memang ingin tidur di sini kan?"


"Ya ... Tapi kan ...."


"Dan semalam kau tidur di sini bersama Alleyah, lalu apa yang salah sampai kau bilang aku ini licik?" Arlene terkekeh, mencubit pipi Dean dengan lembut. "Ayo sarapan, kau akan terlambat ke kantor nanti!"


"Aku senang bisa kembali bersama denganmu seperti ini."


"Benarkah? Kau dulu jahat, tidak peduli dan hanya memikirkan kesenangan sendiri," Wajah Arlene merengut.


"Kau juga hanya memikirkan uang saja!"

__ADS_1


Arlene tertawa, begitu juga dengannya. "Kau benar. Dulu di fikiranku hanya ada uang saja."


Keduanya saling memeluk dan tertawa bersama, kebahagiaan yang jelas terasa. Dean mengecup bibir Arlene sekilas, lalu kembali melumattnya beberapa detik saja.


Mengingat mereka harus mengantarkan Alleyah sekolah.


***


Dean pergi ke kantor setelah mengantarkan Alleyah, kebahagiaan diwajahnya tercetak dengan jelas, namun beberapa saat kemudian berubah masam saat melihat Alexa berada di depan kantornya.


"Dean, kita perlu bicara!"


"Sudah tidak ada lagi yang harus kita bicarakan Alexa. Pergilah, kau hanya membuang buang waktumu saja," Dean masuk ke dalam ruangannya begitu pun dengan Alexa yang menyusulnya ke dalam.


"Aku yakin kau masih mencintaiku Dean, dan wanita itu hanya sesaat bagimu karena kau terlanjur kecewa padaku. Aku minta maaf, kalau perlu aku akan berhenti dari dunia modeling sekarang juga,"


"Terlambat Alexa!"


Alexa menggelengkan kepalanya dengan tatapan sendu. "Aku mencintaimu Dean, sangat!"


"Aku juga Alexa ... Sangat mencintaimu. Tapi itu dulu, sekarang cintaku hanya ku berikan pada wanita yang juga mencintaiku," ucap Dean. "Dan aku tahu apa yang kau lakukan di belakangku Alexa, tapi aku sudah tidak peduli lagi ... Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan tanpa harus bersamaku!"


Alexa menggenggam tangan Dean dengan erat, dan kedua matanya telah berair. "Tidak Dean, aku sangat mencintaimu dan aku bersumpah hanya kau yang ada dihidupku. Aku janji setelah ini aku akan berhenti bekerja dan aku akan menurut padamu."


Perlahan, Dean melepaskan genggaman tangannya dengan berjalan ke arah pintu lalu membukakannya.


Alexa menggelengkan kepalanya lirih, tubuhnya merosot hingga ke lantai.


"Dean ... Aku mohon."


"Tolonglah Alexa, jangan bersikap seperti ini. Kau hanya akan menyiksa dirimu sendiri Alexa!"


"Dean, jangan tinggalkan aku. Kau tahu seberapa besar cintaku padamu Dean, aku ... Tidak bisa hidup tanpamu. Jangan tinggalkan aku Dean!" Alexa memukul dadanya yang sesak.


"Alexa...."


"Aku mohon Dean!"


Merasa tidak tega, Dean membantunya berdiri. Merengkuh dua bahunya hingga gadis itu kembali bangkit, namun Alexa justru berhambur memeluknya dan menangis tersedu sedu. Dan kini tubuh Dean hanya bisa mematung.


Super model itu terus bicara, memohon bahkan mengiba padanya. Walaupun Dean bersikap dingin.


"Alexa ... Aku mohon jangan seperti ini!"

__ADS_1


Air mata Alexa sudah membasahi pakaian Dean, tapi pria itu masih merasakan iba padanya. Entah berapa kali Alexa menggelengkan kepalanya dengan terus memeluknya.


Tak berselang lama, gadis itu menarik tengkuk Dean dan menyambar bibirnya, melumattnya secepat kilat hingga membuat Dean kaget. Dia langsung mendorongnya jauh.


"Apa yang kau lakukan Alexa!" Dean menyusut bibirnya yang basah dengan punggung tangannya. "Semakin lama kau semakin menjijikan! Pergilah, aku tidak mau melihatmu lagi!"


"Dean ....!"


"Pergi Alexa ...!"


Alexa menyusut air matanya lalu keluar dari ruangan Dean. Menutup pintu dengan keras saking kesalnya. Usahanya sia sia, Dean tidak mau mendengar apapun lagi darinya.


Dean menghempaskan tubuhnya di kursi, memijit keningnya yang berdenyut. Tidak menyangka jika Alexa akan bersikap murahan seperti itu.


Cintanya pada Alexa memang belum lama terkikis. Bohong jika Dean mengatakan sudah tidak menyayanginya lagi, tidak peduli dengannya lagi. Tapi rasa kecewa dan hatinya sendiri yang memilih untuk bersama orang lain. Dengan alasan itu kebimbangan Deanpun di uji. Dan sikap Alexa semakin lama semakin menyebalkan dan membuatnya muak. Terlebih apa yang dia ketahui baru baru ini.


Dean menghela nafas, membuka ponselnya yang kini berdering. Bibirnya tersenyum saat tahu siapa yang mengiriminya pesan.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Arlene masuk dengan tersenyum. Cantik seperti biasanya.


"Kau tidak sedang sibuk?"


Dean bangkit dan langsung memeluknya erat. "Aku akan selalu ada waktu untukmu sayang. Sekalipun aku sangat sibuk."


"Kau ini kenapa suka sekali memelukku sembarangan. Apa ada masalah?"


Dean menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Hanya saja Alexa baru saja datang menemuiku."


"Benarkah? Apa yang terjadi...?" Rasa bersalah di rasakan Arlene, sebab kehadirannya nyatanya memisahkan mereka dan memutuskan ikatan cinta yang sudah terjalin lama.


"Dia hanya iseng saja. Lupakan, aku lebih suka membahas tentang kita."


"Maaf ...!"


"Ini bukan salahmu sayang! Hatiku yang berubah haluan, kalaupun ada yang patut disalahkan ... akulah orangnya." Dean menangkup wajah Arlene, dan menatapnya dalam. Lalu mengecup keningnya sangat lama. "Hatiku memilihmu Arlene..."


Dean mengecup bibir Arlene, kecupan yang lambat laun berubah setelah Arlene menerima dan membalasnya. Cukup lama dan intens hingga keduanya berhenti saat ponsel Dean berdering.


"Astaga!"


"Kenapa Dean?"


Dean bergegas menyambar kunci mobil dan juga menggenggam tangan Arlene. Mereka berdua keluar dari ruangan itu bersama sama.

__ADS_1


"Ada apa?" ulang Arlene bingung.


"Alexa baru saja kecelakaan saat pulang dari sini!"


__ADS_2