Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.90


__ADS_3

"Aku tahu, maafkan aku Arlene." ujar Robin dengan bangkit dan membenahi pakaiannya sendiri.


Begitu juga dengan Arlene yang ikut bangkit dan berjalan ke arah meja makan, mengambil segelas air lalu menenggaknya hingga tandas.


Entah apa yang dia fikirkan, otaknya selalu tidak bisa singkron dengan hatinya. Keyakinan dan keraguan yang terus berkecambuk hebat dalam dirinya mengenai langkah yang dia ambil saat ini.


"Aku ingin istiraat, bisakah kau__?"


"Aku mengerti, kalau begitu aku pulang dulu." ucap Robin yang menyambar jas dan kunci mobilnya dan berlalu keluar.


Arlene mengangguk, lebih baik Robin memang pergi saat itu juga sebelum langkah mereka semakin jauh. Dan Arlene segera menutup pintu setelah pria itu pergi.


Mereka tidak pernah tahu jika Dean sejak tadi berada di dalam mobil di ujung jalan, dia hanya diam dan memperhatikan rumah Arlenne dengan mobil Robin terparkir di sana.


"Kak ... Sampai kapan menunggu seperti ini, kita di sini sudah hampir satu jam dan tidak melihat kak Robin keluar lagi." cicit Zoya yang menguap berkali kali.


"Diamlah sebentar lagi."


"Tapi aku lelah, aku sudah ingin tidur!"


"Tidurlah, aku akan membangunkanmu nanti. Jangan beris---"


"Itu dia ... Dia keluar kak!" sela Zoya dengan cepat, mendadak kedua matanya membola dan rasa kantukpun hilang seketika setelah melihat Robin baru saja keluar.


"Si brensekk itu!!"


Zoya berdecih llau mengangguk, "Sejak awal aku kira dia mendekati kak Sorra karena menyukainya, tapi dia hanya pura pura baik saja!"


"Menunduklah, dia bisa melihat kita." ucap Dean yang menarik kepala adik bungsunya itu dan sama sama bersembunyi.

__ADS_1


Setelah melihat Robin melaju pergi. Barulah Dean keluar dari mobil. Begitu juga dengan Zoya. Namun Dean kembali mendorong Zoya untuk masuk kedalam mobil.


"Pulanglah ke apartmen lebih dulu, aku akan mengurus sesuatu!"


"Kak ... Jangan gila, mana bisa aku menyetir dalam keadaan mengantuk seperti ini, aku ikut saja denganmu!"


"Tidak bisa."


"Kak Dean harus cari alasan yang pas untuk menemui kakak ipar, aku bisa membantu."


Dean terdiam, benar apa yang dikatakan Zoya, dia harus memiliki alasan yang kuat dan memungkinkan agar Arlene mau menerimanya setelah perdebatan tadi siang.


Sampai Zoya kembali keluar dan melingkarkan tangan pada lengan Dean. "Ayo papah aku. Kak Dean bisa katakan saja aku sakit atau apalah agar kau bisa bicara dengannya. Aku mendukungmu sepenuhnya."


Dean terperangah, untuk kesekian kalinya dia berbuat seperti curang hanya karena ingin bicara pada Arlene dan meminta maaf. "Ayo!" cicitnya lagi.


Mereka berduapun berjalan masuk ke arah pekarangan rumah Arlene dan Zoya langsung mengetuk pintu dengan tidak sabar.


"Iya dan lebih cepat lebih baik!" sahutnya.


Untuk beberapa saat mereka terus menunggu sampai pintu rumah akhirnya terbuka, Arlene terlihat heran saat melihat keduanya datang.


"Zoya? Kalian?"


"Halo kakak ipar. Aku hanya ingin bilang jika kak Dean perlu bicara dengan mu." ujar Zoya yang melenggang masuk begitu saja.


Membuat Dean terperangah meliahtnya dan seketika mematung.


Sial, bukannya tadi dia bilang dia akan membantuku mencari alasan dengan mengatakan pada Arlene jika dia sakit atau apalah itu. Tapi dia justru membuat jebakan untuk kakak nya sendiri. Batin Dean.

__ADS_1


"Ada apalagi Dean. Bukankah semuanya sudah jelas, lebih baik kalian berdua pergi, ini sudah malam dan aku ingin istirahat."


"Kakak ipar, aku sudah lelah dan aku mengantuk jadi tolong ijinkan aku menginap semalam saja disini ya, aku tidak kuat lagi. Kak Dean tidak bisa mengantarku pulang karena dia ingin bicara denganmu." ucap Zoya yang langsung merebahkan dirinya di atas sofa.


Zoya benar benar kelewatan, dia membiarkan Dean kembali dongkol setengah mati dan terlihat bodoh karenai terus berdiri di depan pintu.


Arlene menghela nafas berat. "Masuklah ke kamar Alleyah."


Zoya tersenyum dia bangkit dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar seraya mengedipkan matanya ke arah Dean.


"Kau juga!" ucapnya pada Dean.


Akhirnya Dean masuk juga, dia sendiri tidak tahu kenapa tiba tiba situasi lebih mencekam sekarang.


"Apa yang ingin kau katakan lagi Dean?"


"Arlene ... Maafkan aku! Aku mungkin terlalu buruk dimatamu, aku juga mengatakan sesuatu yang buruk tentang Robin dan kau marah padaku, tapi percayalah, aku hanya tidak ingin kau terluka."


"Kau tidak ingin aku terluka agar kau bisa melukaiku Dean?"


Dean menggelengkan kepalanya"Bukan seprti itu, aku sungguh tidak dewasa menyikapi semua ini, tapi aku benar benar ingin kau dan Alleyah kembali bersamaku. Jangan menikah dengan Robin jika kau saja tidak memiliki perasaan padanya, jangan menyiksa diri karena kau pantas bahagia."


Arlene kembali menghela nafas, meskipun dirinya sedang berada di batas keraguan, namun dia juga tidak mungkin bisa percaya pada ucapan pria yang sudah berkali kali mengecewakannya


"Dean .. aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, apa kau tidak mengerti juga?'


Mendengar hal itu tidak membuat Dean ciut, namun sebaliknyaa dia justru merekatkan kedua tangannya pada sela leher Arlene dan langsung menyambar bibirnya tanpa berfikir dua kali, persetan dengan semua saat ini Dean hanya inginkan satu yang pasti, yaitu perasaan Arlene untuknya.


Pria itu memagutnya lembut, walau pada awalnya Arlene berusaha mendorong dirinya agar menjauh.

__ADS_1


"Tolong Arlene, jika kau memang tidak memiliki perasaan untukku. Maka aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau memiliki perasaan yang sama denganku. Aku ingin berjuang sekali lagi untuk memenangkan hatimu!"


__ADS_2