
"Aku tahu waktunya tidak tepat, tapi aku juga tidak mau membuatmu bingung, aku juga tidak mau Dean kembali datang dan membuatmu lemah lagi, jadi mari kita menikah. Aku ... Aku akan mengurusmu dan Alleyah dengan baik!"
Arlene terdiam dengan menatap ke arah Robin tak percaya, pria itu terlalu baik, tidak seperti Dean yang hanya pandai bicara dan memberi harapan palsu tapi, Arlene tidak memiliki perasaan apa apa padanya, hati nya tidak berdebar saat bersama dengannya, atau detak jantung bertalu talu saat berdua dengannya.
jika hatinya bisa di ajak kompromi mungkin tidak akan berfikir dua kali untuk menerima Robin, tapi kegagalan pernikahannya dulu menjadi satu trauma yang masih membekas sampai sekarang.
"Maaf Robin!" lirihnya.
Robin tertawa kecil, dia langsung menyalakan mobilnya kembali dan langsung melaju.
"Tidak apa apa Ley, aku mengerti, harusnya aku tidak mengatakan hal ini sekarang, bodohnya aku ... Ini bukan waktu yang tepat bukan. Jangan terlalu di fikirkan oke." ujar Robin dengan bibir yag terkatup.
Arlene mengangguk kecil lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak mungkin menerima Robin hanya karena kasihan belaka.
"Kau pria baik Robin, kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari ku." cicitnya pelan.
"Kau sungguh naif Leyka ...! Tapi kau tenang saja, aku mengerti."
Keduanyaa tiba di sebuah taman anak anak, lepas dari semua pekerjaanya, Arlene tidak pernah sekalipun kehilangan waktu bersama Alleyah, anak balita yang sejak bayi sudah merasakan perihnya kehidupan, hidup berpindah pindah dan bersembunyi dari seseorang yang seharusnya bisa menjadi pelindung baginya. Dan saat kesempatan datang, justru mereka masuk kedalam kandang buaya yang sama sama berbahayanya.
Namun kini Arlene bisa sedikit bernafas lega dan itu semua karena bantuan dari Robin.
"Berikan Alleyah padaku, kita cari tempat untuk duduk, lalu kau pergi siapkan cemilan dan minuman untuk kita, benarkan Ley?" ujar Robin yang mengambil Alleyah dari pangkuan Ibunya.
"Kau ini! Kenapa bukan kau saja yang mencari makanan, aku dan Alleyah menunggumu di sini." ujarnya dengan mendengus kesal. "Lagipula kau ini membuatku bingung, kau memanggil namaku dan nama Alleyah sama sam Ley. Terdengar sangat aneh."
"Pertama. Kalau aku melakukannya aku terlihat seperti seorang suami yang mengajak istri dan anaknya bertamasya, kau kan baru saja menolakku dan aku masih merasa patah hati." ujar Robin yang menaik turunkan kedua alisnya. "Kedua ... Panggilan Ley pada kalian berdua adalah panggilan sayangku. Sekalipun kau menolakku dan aku masih patah hati. Tapi tidak membuat perasaanku berubah. Aku hanya akan menunggu waktunya saja! Mengerti Leyka?" ujarnya lagi dengan mengulas senyuman tipis.
"Isshh ... Kau ini ada ada saja!! Baiklah, aku akan segera kembali, jangan pergi apalagi kabur membawa Alleyah. Kau tidak akan aku maafkan. Camkan itu!" ujar Arlene yang segera melangkah ke arah mini market yang tidak jauh dari sana.
__ADS_1
Sementara di tempat lain, sepasang bola mata hitam tengah menatap kebersamaan mereka, rahangnya tegas bertanda dia tengah menahan kesalan. Dan saat tahu jika Arlene masuk ke dalam mini market, dia langsung melangkah menyusulnya.
"Arlene ... Kita perlu bicara!"
Arlene tersentak kaget melihat pria yang selama ini dia hindari, walau dia sendiri sakit saat memutuskan pergi, namun itu lebih baik dari pada harus terus menerima harapan harapan palsu darinya.
"Kau!! Sedang apa di sini, bukankah kau seharusnya menemani calon istrimu itu?"
"Maafkan aku Arlene ..."
Arlene berjalan ke arah rak yag di penuhi camilan, satu persatu dia memasukkan camilan yang dia inginkan. "Sudahlah, untuk apa kau minta maaf, apa kau merasa kau bersalah sampai kau harus minta maaf padaku? Kita memang tidak seharusnya terlibat perasaan konyol, ah ... Tidak tidak ... Bukan kau, tapi aku. Harusnya aku tidak mudah percaya pada ucapanmu itu. Aku bodoh kan? Tapi tidak apa, itu sudah lama. Dan aku sekarang bahagia."
"Kau bahagia bersama Robin?"
"Tentu saja, dia pria baik dan menghargaiku."
"Sudahlah Dean, untuk apa lagi kau bicara yang tidak ada gunanya sama sekali, kau harus tahu. Alasanku pergi malam itu bukan karena kau, aku pergi karena aku ingin pergi, hubungan kerja sama kita sudah berakhir semenjak kau memutuskannya bukan, kau yang berkuasa sebagai pihak pertama dalam surat perjanjian itu bukan?" terang Arlene yang terus membahas kontrak kerja sama yang sempat terjalin di antara mereka saat mereka berpura pura menikah.
"Tapi nyatanya aku berat melepaskanmu!"
Langkah Arlene terhenti, dia menghela nafas dan menatap ke arah Dean dengan tajam. "Kenapa kau selalu berbuat semaumu seperti ini Dean. Kenapa kau membuat semua orang bingung denganmu. Kau sudah memilih dan harusnya tidak ada penyesalan sedikitpun atas semua pilihanmu."
Setelah mengatakannya, Arlene kembali berjalan ke arah tempat minuman dan memilih beberapa minuman ringan untuknya dan juga untuk Robin.
"Aku minta maaf soal dress itu, aku tidak tahu jika dress itu milikmu, aku akan menggantinya dengan dress yang lebih bagus dari pada itu." ujar Dean yang bingung sendiri harus membahas topik apa dengannya sementara dia masih ingin bicara lebih lama.
"Are you seriuse Dean?"
"Ya .. Aku serius bahkan amat serius.
__ADS_1
"Kau gila, apa kau tidak tahu kau sedang berusaha menggoda seorang wanita disaat kau sudah berencana menikah bukan Dean, kau sudah memilih jadi tetaplah pada pilihanmu." ujar Arlee yang langsung berjalan ke arah kasir dan membayar semua belanjaannya.
Sementara Dean kikuk sendiri, apa yang dikatakan Arlene memang benar, tapi kenapa keraguan itu terus datang dan pergi membuat dirinya sendiri bingung.
Dean seperti orang yang sangat bodoh, bahkan dia masih tidak tahu jika pilihannya selama ini benar ataukah salah, tapi dia juga ingin memiliki Arlene tapi tidak juga meninggalkan Alexa. Pria berlesung pipi itu bahkan meraup wajahnya dengan kasar saat melihat Arlene yang keluar dari mini market dan meninggalkannya.
"Kau sangat bodoh Dean! Bagaimana bisa kau memilih Alexa tapi kau terus mengejarku" gumam Arlene saat melangkahkan kakinya menuju ke arah kursi dimana Robin duduk menjaga Alleyah.
Robin melihat wajah Arlene yang di tekuknya, dia juga melihat seorang pria yang berjalan di belakangnya.
"Apa dia mengganggumu lagi?"
Arlene terkesiap, dari mana Robin tahu. Dia lantas mengelengkan kepalanya. "Aku tidak apa apa! Apa maksudmu?"
"Kau yakin tidak ada yang mengganggumu?"
"Ya ...."
"Arlene ... Bisakah aku bertemu dengan Alleyah?" cetus Dean yang sudah berdiri di belakangnya.
Wanita yang kini mengganti warna rambutnya pun tersentak kaget, dia tidak tahu sejak kapan pria itu ada di belakangnya, pantas saja Robin mengatakan hal tadi. Dengan cepat dia langsung membalikkan tubuh kearahnya.
"Ayolah Dean ... Kau ini tidak dewasa sekali, untuk apa kau menemui putriku. Kau ini bukan ayahnya dan kau tidak perlu bersikap seperti seolah olah kau ini ayahnya!"
"Arlene aku ..."
Robin berdiri dengan cepat disamping Arlene.
"Kau masih tidak paham juga Dean? Apa otakmu sudah tidak bekerja dengan baik, kau tidak mengerti dengan apa yang dia katakan? Kalian hanya berpura pura menikah dan sekarang semua sudah berakhir, tidak kah kau sadar juga Dean?"
__ADS_1