Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.97


__ADS_3

Sepulang Dean, Arlene masih duduk termangu. Memikirkan langkah selanjutnya yang akan dia ambil perihal hubungannya dengan Robin. Pria yang biasanya lemah lembut itu kini berubah, dan jujur Arlene masih shock dan tidak percaya.


Brak!


Brak!


Arlene yang tengah melamun itu tersentak kaget saat mendengar suara keras dari arah luar, dia segera masuk ke dalam kamar dan memasukkan beberapa helai pakaiannya dan juga Alleyah. Trauma akan kejadian serupa yang hampir membuatnya celaka, dan dia tidak ingin mengalaminya lagi. Itu sebabnya dia memilih untuk segera pergi dari sana.


Dia pun menggendong Alleyah yang tengah tertidur, dan keluar melewati pintu belakang tanpa memeriksa apapun lagi.


Arlene segera tanjap gas, melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah pemberian Robin. Dia mengarah ke sebuah hotel dan memastikan tidak ada yang mengikutinya. Padahal dia sendiri tidak tahu bunyi keras apa tadi.


Tanpa sengaja justru Arlene melihat seorang wanita berambut panjang yang mirip dengan Alexa masuk ke dalam sebuah kamar hotel, dia yakin jika wanita itu benar benar Alexa mengingat dress yang di kenakannya sama persis saat jumpa dengannya di sebuah acara kantor.


"Apa benar itu Alexa?!" gumamnya saat berjalan ke arah kamar yang disewanya sampai besok pagi.


Tapi Arlene tidak ingin ambil pusing dengan hal itu, dia tidak terlalu memikirkan tujuan Alexa ada di sana karena fikirannya saat ini hanya ingin aman saja.


Drett


Drett

__ADS_1


Ponselnya berdering tepat saat Arlene membuka pintu kamar, dia langsung membaringkan Alleyah di kasur barulah mengambil ponselnya.


"Dean?"


'Kau dimana? Aku khawatir padamu, kau pergi dari rumah bukan?'


'Kau tahu ...?'


'Ya ... Aku tahu! Sekarang katakan dimana kau berada?'


'Aku ... Aku ...,'


'Ya ... Aku tahu, aku di hotel xx.'


'Oke ... Aku akan ke sana.'


Dean yang merasa tidak tenang saat meninggalkan rumah Arlene memilih kembali, namun dia tidak menemukan Arlene dan juga putrinya di sana, dan kekhwatirannya pun semakin bertambah saja.


Saat itu juga Dean menyusul Arlene ke hotel xx, dan langsung menuju kamar yang di tempatinya.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Dean beberapa kali mengetuk pintu kamar bernomor 200 itu hingga akhirnya terbuka. Arlene yang melihatnya datang langsung berhambur memeluknya.


"Aku takut sekali Dean!"


"It's ok ... Sekarang aku sudah ada disini untuk menjagamu." ujar Dean dengan mengelus pundaknya lembut.


"Tadi ... Aku pergi tanpa memeriksa suara keras apa itu, aku takut kalau ada orang yang akan membuatku celaka lagi!" ucapnya dengan terus memeluk Dean.


"Ya ... Kau sudah melakukan hal yang benar, aku juga khawatir padamu dan juga Alleyah, kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Robin jika dia marah dan nekat."


Masih tidak percaya Robin akan nekat, Arlene mengurai pelukannya. Situasi ini benar benar berat untuknya, mencintai Dean tapi juga memikirkan Robin yang selama ini menolongnya.


"Entahlah Dean, saat ini aku tidak bisa berfikir! Aku akan kembali ke kota xx, aku rasa jika aku tetap di sini akan semakin sulit kedepannya. Pekerjaanku selama ini, kehidupanku ... Semua itu berkat Robin, dan aku tidak tahu harus melakukan apa." terang Arlene yang menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Kau tenang saja, untuk masalah itu biar aku yang mengurusnya. Kau juga bisa bekerja di kantor ku, hm?"


Arlene terdiam menatap pria yang dia cintai di depannya, segala keraguan dan ketakutan yang dia rasakan saat ini benar benar membuat fikirannya kosong.


"Aku hanya ingin hidup dengan tenang Dean, aku tidak ingin Nenek Miranda berfikir aku memanfaatkan mu lagi!"

__ADS_1


__ADS_2