
Rayi, pria yang selama 6 bulan ini menjadi teman sekaligus sekretarisnya sudah faham betul kebiasaan Dean yang sejak kedatangannya sampai hari ini selalu minta waktu untuk sendiri, entah dia melamun, atau hanya bermain ponsel saja, bahkan tidak jarang dia hanya berdiam diri saja tapa melakukan apa apa.
Dan hal itu dilakukan setiap hari, apalagi setelah mendapat telefon dari seseorang dan wajahnya terlihat kecewa setelahnya.
"Setidaknya kau bisa berbagi dengan ku, sejak kedatanganmu di kantor ini aku tidak pernah sekalipun mengerti denganmu, kau sangat tertutup, dan apa yang kau lamunkan setiap hari selama enam bulan ini Dean, kurasa kau perlu berbagi dengan orang lain. Siapa tahu ada seseorang yang bisa membantumu." ujar Rayi dengan sungguh sungguh, dia prihatin dengan keadaan bosnya yang terlihat terpaksa datang karena suruhan neneknya, dan perusahaan belum mengalami perubahan yang signifikan selama enam bulan ini, keadaan yang sama bahkan masalah yang lebih banyak dari sebelumnya.
Dean menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak akan ada yang bisa membantu, bahkan polisi saja tidak bisa menemukannya, apalagi kau Rayi! Sekarang lebih baik kau undur meeting dua jam kedepan, ada sesuatu yang harus aku urus terlebih dulu."
"Ayolah. Bukankah sudah aku bilang perwakilan dari perusahaan pengembang sudah datang, dan dia sudah ada di ruang meeting sejak 15 menit yang lalu. Bukan kah aku juga bilang kau jangan banyak melamun sampai kau hilang konsentrasi begini, ayolah Dean ... Lamunan mu itu tidak akan mengubah sesuatu. Kalau kau ingin semua sesuai harapanmu bergeraklah. Walau aku tidak tahu apa yang kau lamunkan itu, tapi aku tahu satu hal ... Ini soal hati, benar begitu. Kau fikir semua akan berubah hanya karena melamun saja tanpa ada pergerakan?"
Dean terkesiap, Dia bangkit dari kursi kekuasaannya dan langsung meenghampiri Rayi.
"Kau benar Rayi, aku tidak bisa merubah apapun hanya karena aku melamun dan tidak bergerak, jadi aku putuskan kali ini aku akan bergerak dan mencarinya kembali seorang dri, sekarang kau bisa kan tangani meeting ini sendirian, aku akan pergi dan mungkin akan butuh beberapa hari. Ya " ujarnya dengan menepuk kedua pipi Rayi dengan tersenyum bak mendapat wangsit dari langit.
"Dasar gila, aku bukan menyuruhmu pergi saat ini, disaat beberapa menit lagi kita harus meeting. Dean ... Hei Dean?" teriak Rayi dengan terus mengejar Dean yang berlalu keluar dengan cepat.
Dean hanya melambaikaan tangan ke arah belakang dengan terus berjalan tanpa menghiraukan Rayi yang kesal karena harus meeting seorang diri.
"Pak ... semua orang sudah menunggu di ruang meeting!" seru asisten yang kerap membantu mempesiapkan meeting.
"Celaka, bagaimana bisa Dean meninggalkan ku saat sepert ini."
"Pak?"
__ADS_1
"Ya aku tahu, tahan 10 menit saja, aku akan segera kesana." ujarnya dengan melenggang masuk ke dalam ruangan milik Dean.
Rayi mengambil flash dish yang berisi poin poin penting yang berkaitan dengan perusahaan dan meeting bersama pengembang yang sudah di susun oleh Dean, dia pun mulai menyalakan komputer milik Dean.
Pria itu mengenyit saat melihat wallpaper yang diterapkan di komputer itu, sedetik kemudian dia berdecak.
"Apa wanita ini yang membuatnya melamun seharian, kasihan seklai kau ini Dean." ujarnya dengan terus melihat foto seorang wanita yang tengah menggendong anak kecil di pangkuannya, senyumnya sangat manis, kedua matanya berbinar dengan wajah yang sangat cantik.
"Apa ini anak dan istrimu? Apa kalian sedang long distance relationship dan membuat mu tidak karuan sepanjang hari sejak berada disini karena harus berjauhan dengan keluargamu? Miris sekali." gumamnya kemudian memasangkan flash dish tersebut.
Setelah mempelajari sebentar poin poin yang di inginkan oleh Dean, akhirnya Rayi keluar dari ruangan Dean dan langsung menuju ruangan meeting, didampingi asisten Dean yang juga kerap ditinggalkan tanpa sebab, mereka langsung masuk kedalam ruangan meeting.
"Maaf sedikit terlambat!" ujar Rayi pada seorang wanita yang kini bangkit dari duduknya dan menyambutnya dengan sambutan hangat.
"Selamat pagi ... Aku Leyka ...!" ujarnya dengan mengulurkan tangan ke arah Rayi.
"Ya ... just call me Leyka" ujarnya dengan menjabat tangan Rayi dengan erat.
Rayi terkesiap, wajah wanita yang tersenyum di depannya itu sangat manis dan juga cantik. Namun dia merasa tidak asing dan seolah pernah melihatnya sebelumnya.
"Apa kita pernah bertemu?"
"Sepertinya tidak ... Sebab aku baru datang dari luar negeri, dan aku baru mendarat tadi malam, mana mungkin kita bertemu, atau mungkin kita bertemu dalam mimpi?" ujar Leyka dengan tertawa kecil.
__ADS_1
Tapi Rayii diam saja, dia merasa yakin pernah melihatnya tapi dia tidak ingat pernah melihatnya dimana.
"Bisa kita mulai meeting kita sekarang?"
ujarnya lagi membuyarkan lamunan Rayi tentang dimana dia melihat wanita cantik yang menyenangkan ini.
"Maaf sebelumnya, seharusnya kita meeting bersama CEO kita, tapi karena satu dan dua hal yang membuat beliau tidak dapat hadir saat ini. " terang Rayi.
Leyka terkekeh, "Aku suka kejujuranmu Pak, tidak heran jika hampir semua perusaahan yang mengalami vailit. itu bisa di lihat dari kinerja seorang CEO nya sendiri."
Tegas, lugas dan menusuk. Itulah kata kata yang dikeluarkan Leyka pada Rayi yang membuat pria itu tidak berkutik dan menumpat Dean dalam hati. Harusnya Dean bisa menghadapi situasi ini, bukannya pergi tanpa tanggung jawabnya.
Bodoh, ini seperti buah simalakama, aku yang mengaatakan jika dia harus bergerak, tapi kini dia membuatku dalam kesulitan. Batin Rayi.
"Jadi apakah meeting ini akan dilanjutkan atau berhenti sampai disini saja karena pimpinanmu tidak profersional dalam bekerja?"
Rayi terkesiap,"Tidak ... Tidak, kita bisa melanjutkannya. Aku sudah memiliki poin poin penting yang di inginkan beliau untuk di sampaikan pada anda sebagai perwakilan dari pengembang." ujar Rayi dengan cepat, tidak ingin kehilangan moment penting ini.
"Tapi maaf .. Aku tidak suka bekerja sama dengan seseorang yang tidak profesioanl sebenarnya, terlebih yang menyepelekan waktu percuma, dan maaf sekali lagi jika aku bukan hanya perwakilan pengembang saja, tapi sekaligus aku pemilik perusahaan." ujar Leyka dengan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke arah proyektor yang dalam sekejap saja sudah menyala.
Rayi yang melihatnya tentu saja terpesona, cantik, percaya diri, berkarisma dan tegas. Wanita idaman di zaman sekarang, tidak menye menye seperti kebanyakan wanita ynag dia kenal yang kebanyakan manja dan ingin di ratukan.
Dean ... Seperti nya kali ini kau rugi besar karena tidak ada di ruangan meeting, dia sangat mempesona. Dan aku yakin pernah melihatnya. Tapi dimana. Batin Rayi berbicara lagi, tetap merasa yakin jika dia pernah melihatnya.
__ADS_1
Dengan terus memperhatikan Leyka yang menjelaskan semua poin poin penting dan juga misi visi perusahaan yang menurut Rayi sangatlah bagus.
"Sepertinya aku tidak salah lagi, aku pernah melihatmu!"