Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab. 86


__ADS_3

Arelene mengerjapkan kedua matanya saat suara Dean begitu lembut, membuat hatinya berdebar debar tidak karuan terlebih melihat senyuman pria yang selama ini sering membuatnya kecewa namun tidak mampu menghilangkan rasa yang masih ada sejak dulu terhadapnya.


Arlene kau bodoh jika masih tergoda dengan bujuk rayunya, jangan biarkan dia terus menguasai fikiranmu dan membuatmu kecewa nantinya. Batin Arlene mengingatkannya lagi.


Namun melihat Dean yang telaten terhadap Alleyah pun mampu kembali meluluhkannya, Alleyah yang lebih banyak diam saat bersama Robin berbeda dengan saat dia bersama pria ysng di panggilnya papa sejak dulu.


Memory itu mungkin terus melekat karena Alleyah percaya jika Dean benar benar papanya. Usia 3 tahun yang bahkan tidak mengerti apa apa selain bermain di dunia anak anak namun Alleyah tidak. Dia banyak sudah mengalami kesulitan sejak dalam kandungan, bahkan hidup menderita dan terlantung lantung selama dalam pelarian, Arlene juga membawanya bekerja saat usianya masih beberapa bulan.


Wanita berambut ikal itu merasa pelupuk matanya menghangat saat melihat Alleyah tertawa dan bahagia saat bermain, dia berlarian dengan lincah dan juga ceria. Tidak pernah dia melihat putrinya sebahagia ini, dan dengan mata kepalanya sendiri Arlene melihat kedua manusia itu berguling guling di arena tampolin dengan terus tertawa.


Fenomena yang tidak pernah terjadi sekalipun Dean bukan ayah kandungnya yang seharusnya bertanggung jawab terhadapnya.


Diam diam Arlene mengambil ponsel miliknya dan mengambil foto mereka berdua, namun kilatan kamera flash membuat Dean menoleh ke arah nya dengan tersenyum tipis. Pria itu terlihat berbisik pada Alleyah dan Alleyah mengangguk lalu lembali bermain sementara Dean berjalan menghampiri Arlene.


"Kau mengambil foto sembarangan, dan itu melanggar hukum negara kita jika aku tidak berkenan." ujarnya dengan merebut ponsel miliknya dengan paksa.


"Hei?" ujar Arlene. "Kau fikir merebut barang privasi orang lain juga tidak melanggar hukum negara kita? Kau bisa membayar denda jika aku melaporkanmu pada petugas polisi Dean!" sentaknya marah berusaha mengambil kembali ponsel miliknya namun tidak bisa.


"Terserah ..." ujar Dean tanpa dosa dengan membidikkan kamera ponselnya ke arah wajahnya sendiri, di sampingnya Arlene yang tengah mengerutu namun dia justru malah tersenyum lalu mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.

__ADS_1


"Aku beri kesempatan untukmu menyimpan foto paling tampan ku itu, agar kau leluasa memandangnya jika kau merindukan aku." ujarnya dengan kembali melangkah menyusul Alleyah sementara Arlene mendengus kesal saat melihat hasil foto di ponselnya dengan Dean yang tersenyum manis. "Dia percaya diri sekali, apa dia tidak permah merasa bersalah karena selama ini berlaku buruk. Bahkan saat masih tinggal di mansion yang seperti neraka itu." gumamnya dengan kesal.


Ting


Notifikasi pesan singkat muncul di ponselnya, Arlene mengernyit saat membuka pesan dari Dean itu, "Dasar gila, kenapa dia mengirimiku pesan dari sana!"


...Maafkan aku Arlene ... Mulai saat ini aku akan memperlakukanmu dan Alleyah dengan baik, aku tidak akan lagi mengecewakan mu dan akan membuatmu kembali percaya padaku!...


Arlene terbeliak saat membaca pesan singkat dari Dean itu, seolah pria itu bisa membaca fikirannya terlebih yang baru saja dia fikirkan. Dia menoleh pada Dean yang juga tengah menatap dirinya dari arah yang cukup jauh, terlihat Dean menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. lalu jatuh terungkal saat Alleyah dengan sengaja berguling ke arahnya.


Pria itu tersentak kaget namun juga tertawa bersama putrinya, tanpa terasa bibir Arlene yaang melihat nya pun terulas sempurna.


Setelah berada di dalam ruang tampolin, mereka kini pindah ke tempat permainan yang lain yang tidak kalah seru. Kali ni Alleyah hanya bisa bermain sendiri tanpa di dampingi. Alhasil Dean dan Arlene hanya bisa melihatnya dari kursi yang tidak jauh dari sana, yang sengaja di peruntukan untuk para orang tua ataupun sanak saudara yang mengantarkannya.


Dan Arlene kini hanya diam, merasa sedikit canggung saat Dean duduk disampingnya dengan terus tersenyum melihat ke arah Alleyah.


"Sekian lama ku tidak bisa bertemu Alleyah, sekarang dia sudah besar dan luar biasa, kau mendidiknya dengan baik Arlene. Aku bangga padamu."


"Biasa saja, itu sudah tugas ku sebagai ibu sekaligus sebagai ayah baginya." ujarnya datar.

__ADS_1


"Jika kau ijinkan, beri aku kesempatan sekali lagi untuk bisa menjadi seorang ayah yang sebenarnya bagi Alleyah. Enta kenapa naluri ku sebagai seorang ayah muncul begitu saja saat aku bertemu dengannya, aku masih ingat suara kecilnya saat badai malam itu Arlene, aku ingat betul bagaimana dia memanggilku papa dengan kedua bola mata yang bulat bercahaya."


"Sudahlah Dean , kenapa kau terus mengingatkan ku pada kejadian masa lalu yang sudah tidak ada artinya lagi bagiku. Aku menganggap itu hanya kebetulan belaka, jika seseorang yang berada di sampingku bukan kau, pasti Alleyah akan mengatakan hal yang sama. Itu hanya kebetulan saja Dean." ungkap Arlene yang masih berusaha mempertahankan dirinya sendiri agar tidak hanyut dalam gelombang yang dia pun sudah tahu akan berakhir seperti apa.


"Tidak Arlene, tidak ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk pertemuanku dengan Alleyah. Ini sudah takdir yang mempertemukan kita, aku percaya itu." tukas Dean dengan menoleh ke arah Arlene dan menatap wajahnya dengan lekat. "Seperti kita yang kembali bertemu dengan cara yang tiba tiba di kota ini, padahal aku mencarimu kemana mana dan tidak pernah menemukan petunjuk apapun tentangmu, sampai kau datang ke kantorku, padahal saat itu aku pergi hanya untuk mencari mu dengan bertanya pada seseorang. Lalu kau juga datang di pesta Robin dan juga gaun itu. Kau fikir ini kebetulan, ini takdir Arlene ... Takdir. Kau percaya itu?"


"Tidak!"


Dean terperangah mendengarnya dengan kedua mata yang membola menatapnya. "Kenapa kau tidak percaya jika kita di takdirkan bertemu lagi untuk bersama?"


"Karena aku sudah tahu kau ada di sini Dean!" ujarnya datar. "Aku tahu seluruhnya tentangmu, aku juga tahu perusahaan yang tengah kau tangani, aku tahu dimana kau tinggal dan aku tahu masalah apa yang sedang kau hadapi." ujarnya dengan membalas tatapan Dean dengan tajam.


Keduanya kini saling menatap, dengan sejuta pertanyaan ynag kini muncul di kepala Dean. "Kau tahu semuanya sejak awal tapi kau membiarkan aku menderita karena mencarimu Arlene?" lirihnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Ya ... Itu benar sekali! Aku tahu kau mencariku dan aku yang merencanakan gaun itu, aku merekayasanya agar Alexa menginginkan gaun itu, aku juga yang sengaja memajang gaun itu di tempat yang paling bisa dilihat agar Alexa tertarik, aku merencakanan semua ini Dean?"


"Untuk apa Arlene ... Kau sengaja melakukannya agar aku merasa semakin bersalah padamu?"


Arlene menggelengkan kepalanya. "Tidak ... Bukan itu."

__ADS_1


"Lalu untuk apa. Apa tujuan mu Arlene?"


__ADS_2