Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.22


__ADS_3

Asisten Pribadi Miranda mengangguk, lantas dia keluar dari kamar pribadi milik majikannya seraya merogoh ponsel dari dalam saku celananya dan mulai menghubungi seseorang, setelah selesai, dia berjalan ke arah belakang mansion dimana para pekerja berkumpul.


Sementara Dean masuk kedalam kamar, tepat saat Alleyah menangis dan mencari ibunya. Dean tidak ingin peduli sebenarnya, karena Alleyah hanya pendukung rencananya saja. Kehadirannya hanya memperkuat status pernikahan sandiwara yang dia buat sendiri.


"Diamlah Alleyah ... aku ingin tidur!"


"Papapapa ....!" serunya dengan tangisan yang semakin kencang. "Papaapaapa!!"


Alleyah mengangkat kedua tangannya ke arah  Dean, layaknya seorang anak yang ingin di gendong. Namun Dean malah merebahkan diri diatas kasur berukuran besar itu.


Tangisan Alleyah tidak berhenti sama sekali, justru bertambah kencang dan membuat Dean menutup kepalanya dengan menggunakan bantal.


"Berisik sekali ini anak!"


"Papaaapa...."


Dean melempar bantal ke samping, lalu bangkit dari posisinya terlentang menjadi duduk.


"Astaga anak ini!" gumamnya lalu turun dari ranjang dan mendekati boks bayi dimana Alleyah menangis.


"Kamu jangan membuatku bertambah kesal ya, hari ini darahku sudah naik, dan kau jangan malah menambah! Hanya bisa menangis saja hidupmu itu! Sudah diam ... bisa diam tidak!"


Alih alih membuatnya berhenti justru Alleyah semakin tersedu dengan berdiri diatas boks.


"Apa kau ingin turun! Turunlah!" ujarnya dengan menggendong Alleyah dan membawanya turun.


Namun balita yang masih menangis itu menghentak hentakkan kakinya ke lantai dan semakin menangis.


"Arlene kemana lagi! Sudah dari tadi tapi dia belum juga kembali." gerutu Dean dengan akhirnya terpaksa menggendong balita itu.


Alleyah menyembunyikan kepalanya di leher Dean dengan kedua tangan yang melingkari lehernya, suara tangisannya mulai mereda dan menisakan isak kecil saja.


"Kau panas sekali!" Dean meraba kulit tangan serta kaki Alleyah yang panas. Lalu menengadahkan kepalanya. Dia menempelkan punggung tangannya ke dahi Alleyah.


"Benar benar panas, apa kau terus menangis karena demam? Sepertinya iya." pertanyaan yang dia jawab sendiri.

__ADS_1


Tubuh Alleyah semakin panas, dia kembali menangis dengan terus menunjuk ke arah pintu. "Mamama!"


"Iya nanti Mamamu akan kesini yaa! Tunggu!" Ujar Dean dengan menepuk nepuk punggung Alleyah, merasa brsalah karena sudah memarahinya tanpa sebab, padahal anak balita itu tidak tahu apa apa.


Tak lama pintu terbuka, Arlene yang baru saja masuk sontak kaget saat Alleyah yang terus menangis tanpa henti.


Arlene mengambil putrinya dari gendongan Dean, "Kenapa dia Dean?"


"Aku tidak tahu, dia menangis terus tidak mau berhenti. Dan badannya panas sekali." terang Dean.


"Astaga Nak, badanmu panas sekali! Dia pasti tidak nyaman sampai terus menangis." ujar Arlene dengan menepuk nepuk punggung Alleyah. "Sayang anak mama! Jangan nangis terus yaa."


Gadis kecil berusia dua tahun itu mendekap ibunya dan tidak berhenti menangis. Hingga membuat Arlene panik.


"Dean ... apakah ada obat untuk balita?"


Dean menggelengkan kepalnya, "Kau fikir di mansion ini ada anak kecil? Disini yang kecil hanya Zoya saja."


"Aku hanya bertanya, kau ini kenapa?" Arlene mendengus karena jawaban Dean yang seenaknya saja."Kau bisa menjawabnya tidak ada saja."


Sampai tengah malam Alleyah terus menangis, Arlene sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih tipis agar putrinya itu tidak kepanasan, namun Alleyah masih terus menangis.


"Ini sudah tengah malam, dan mereka pasti sudah tidur! Lebih baik suruh dia tidur, besok pagi juga akan turun panasnya."


Arlene berdecak, dia tidak mungkin mencari obat dan meninggalkan Alleyah yang terus menangis dengan sikap Dean seperti itu. Hingga dia memutuskan untuk keluar mencari obat dengan membawa Alleyah.


Wanita berambut coklat itu menuruni tangga, sambil menepuk nepuk punggung Alleyah agar mau berhenti menangis agar tidak membuat penghuni mansion itu terganggu. Entah lupa ata masih belum tahu jika setiap kamar di mansoion pasti kedap suara.


"Sayang ... cup cup! Jangan nangis lagi yaa! Nanti badanmu semakin panas Alleyah sayang."


"Mama ... Mamama!"


"Iya ini Mama nak!  Cup yaa jangan nangis lagi ya!"


Arlene harus melewati ruang tamu, untuk bisa masuk ke dapur utama. Atau kemanapun yang pasti dia mencari kotak obat. Ruangan yang sudah hampir gelap semua yang hanya diterangi lampu lampu kecil menyulitkan pandangannya. Dan tentu saja membuat Alleyah takut.

__ADS_1


"Mamama .... Maaam!"


"Enggak sayang! Jangan takut kan ada mama!"


Arlene berhasil sampai di dapur, namun tidak menemukan kotak obat, juga para pelayan yang tidak terlihat satu pun. Karena tidak menemukannya, dia hanya mengambil air hangat saja untuk mengompres Alleyah.


Arlene sedikit kesulitan saat mencari benda yang bisa di pakai untuk tempat air hangat, setelah beberapa saat mencarinya, akhirnya dia menemukan tempat yang bisa dia pakai. Tidak sadar jika dikamar mandinya saja ada air panas.


Setelah mengambil air hangat dia kembali menaiki tangga dan kembali ke kamar.  Bertepatan dengan Sorra yang baru saja dari kamarnya.


Sorra bedecak kesal saat mendengar tangisannya, persis seperti yang dilakukan adik laki lakinya yang marah pada Alleyah yang terus menangis.


"Astaga ... Kau tidak bisa menghentikan tangisannya! Itu sangat menggangguku Arlene!"


"Maaf Sorra ... putriku sepertinya demam!"


"Terserah! Kau fikir aku peduli. Diam kan dia, kau ingin membangunkan semua orang yang sudah beristirahat di mansion ini?" ujarnya dengan kesal, terlihat dari kilatan di matanya yang menyoroti Arlene. "Dasar anak kampungan." ujarnya lagi dengan kembali masuk ke kamar dengan membanting pintu.


Arlene menggelengkan kepalanya, semenjak dia tinggal di mansion mewah ini, dia sudah biasa jika semua orang memperlakukannya dengan tidak baik, ucapan semua orang yang menyebutkan kampungan sudah menjadi hal biasa dan Arlene tidak pernah menggubrisnya, namun kali ini ucapan itu juga tersemat pada putrinya, putri yang tidak tahu apa apa itu harus mengalami apa yang dia alami.


"Sayangnya Mama!" gumamnya dengan terus memeluk tubuh mungil yang semakin kelelahan karena terus menangis.


Setibanya di kamar, Arlene segera membaringkan tubuh mungil itu disofa, dia tidak mungkin menbaringkannya kembali di dalam boks bayi, sementara Dean sudah menguasai ranjang dengan tubuhnya.


Arlene mengkompres tubuh Alleyah dengan air hangat, namun tidak juga membuat Alleyah berhenti menangis. Dean yang hampir tidur dengan pulas itu kembali terbangun.


"Astaga ... Arlene! Bisakah kau hentikan tangisannya? Aku jadi tidak bisa tidur."


"Tolonglah mengerti Dean, anakku sedang sakit. Badannya sangat panas. Ini sangat panas! Kita harus ke dokter!"


Dean membalikkan tubuhnya menjadi membelakangi mereka berdua, mencoba kembali tidur dan tidak menggubris keinginan Arlene.


"Dean? Aku mohon ... Antar aku ke rumah sakit."


Dean masih terdiam pura pura tidak mendeangarnya.

__ADS_1


Pria berlesung pipi itu berdecak kesal lalu bangkit kembali dari ranjang.mencoba menempelkan kembali punggung tangannya pada dahi Alleyah, namun tidak mengatakan apa apa.


"Dean please! Kita bawa Alleyah ke dokter!


__ADS_2