
Dean bergegas keluar dari kantor, dengan Arlene yang terus mengikutinya. Kecelakaan yang di alami Alexa tepat di depan gedung kantor, dan ambulance dan beberapa pihak medis sudah membawanya ke rumah sakit.
Dean merasa bersalah, walau bagaimanapun Alexa pernah berada di dalam hatinya sekian lama, dan dia tidak ingin hal buruk terjadi padanya apapun itu.
"Dean, kita pergi ke rumah sakit untuk melihatnya. Hm?" Arlene menarik lengannya.
"Tidk perlu, kita kembali ke atas saja. Aku yakin Alexa sudah ditangani dengan baik."
"Tidak ada salahnya melihat keadaannya kan? Kau tahu dia tidak punya siapa siapa di sini? Dia pasti kesulitan sendirian."
Dean terdiam sejenak, memang benar, Alexa idup sebatang kara. Tanpa keluarga dan juga sanak saudara. Dulu dia mungkin hanya mengandalkannya saja dalam urusan apapun, tapi kini semua sudah berubah dan Aexa harus menerima kenyataan.
"Ayo ... Kita lihat dia ke rumah sakit!" Arlene manariknya lagi, membawanya ke mobil. Walau tidak bisa dia pungkiri jika hatinya merasa sakit, melihat kekhawatiran di wajah Dean. Tapi walau bagaimanapun, Arlene tidak ingin bersikap egois.
"Lebih baik kita kembali saja sayang, aku tidak ingin membuatmu...."
Dengan cepat Arlene menggelengkan kepalanya, "Tidak Dean, memangnya aku akan kenapa? Kita kesana untuk melihatnya, aku yakin dia membutuhkan bantuan, setidaknya kau masih peduli padanya hanya sebagai teman biasa kan?"
Dean menggenggam tangan Arlene lalu mengangguk, mengecup jemarinya dua kali. "Iya sayang, perasaanku sudah berubah. Kau tahu itu!"
"Aku tahu, untuk itu ... Pergilah melihatnya, aku percaya padamu Dean."
__ADS_1
"Terima kasih!"
Setelah bicara dengan Dean, Arlene lantas turun dari mobil, dia tidak ikut bersamanya walau ingin, namun hatinya menolak, tidak ingn melihat Alexa lagi.
"Pergilah, aku akan menunggumu di rumah."
"Tapi ... Aku ....?"
Arlene tersenyum lirih kemudian mengangguk, menutup pintu mobil lalu melambaikan tangan ke arahnya.
***
Dean tiba di rumah sakit, dengan langkah cepat dia berjalan ke arah informasi lalu bertanya korban kecelakaan yang bernama Alexa, dan suster yang berdiri di belakang meja menunjukan sebuah ruangan padanya.
Tanp beberapa orang tengah menangani Alexa, beberapa diantaranya hilir mudik dengan berbagai alat alat medis. Satu orang suster menyadari kehadiran Dean, dia pun menghampirinya.
"Maaf ... Anda keluarga korban?"
"Alexa tidak punya keluarga, dan saya siap jadi walinya. Bagaimna keadaan Alexa?"
"Kebetulan kami membutuhkan tanda tangan wali pasien. Untuk segera melakukan operasi, Nona Alexa mengalami luka yang cukup serius dan kemungkinan geger otak, tapi janin yang yang dikandungnya berhasil selamat. Mari Tuan, ada data yang harus di isi."
__ADS_1
Suster sudah melangkah jauh, namun tubuh Dean terasa membeku karena keterangan suster barusan. Alexa tengah hamil.
Dengan kaki yang hampir tidak berpijak, Dean mengikuti suster dan menerima berkas yang harus dia tanda tangani, fikirannya kali ini kalut dan juga bingung setelah mengetahui kehamilan Alexa.
"Maaf Sus ... Kalau boleh tahu, berapa usia kandungan Alexa saat ini?" tanyanya dengan penasaran,
"Dari hasil pemeriksaan, usia kandungannya sudah masuk di 6 minggu Tuan."
Tangan Dean bergetar, tanda tangan yang tengah dia bubuhkan di dalam berkas terhenti begitu saja. Enam minggu, itu artinya dia tengah hamil sebelum pertengkaran mereka dan juga perpisahan yang dia putuskan.
***
Dean menatap Alexa yang tengah berbaring lemah dari balik kaca, dengan kepala penuh perban dan di keliingi berbagai mesin yang terus berbunyi.
Pria itu menghela nafas panjang, bagaimana mungkin Alexa hamil.
Bunyi telefon mengagetkannya, Dean menjauh untuk menerima telepon yang ternyata dari Arlene itu.
Namun Dean tidak langsung menjawabnya, dia hanya melihat layar putih bertuliskan nama kekasihnya itu seraya menelan ludah, entah apa yang harus dia katakan padanya.
Dia terus menatapnya sampai akhirnya dering ponsel berhenti dengan sendirinya. Seakan belum siap memberi tahu Arlene tentang kondisi Alexa.
__ADS_1
"Maafkan aku Arlene,"