
"Lalu kalau pilihannya Arlene dan Alexa. Siapa yang kau pilih?"
Dean terdiam, dirinya begitu mencintai Alexa sementara selama 2 bulan ini Arlene lah yang menemaninya. Bahkan dia membelanya di depan Miranda. Mereka berdua sangat berbeda jauh, Arlene sangat sederhana dengan Alexa yang glamor.
Miranda mendengus, lalu dia bangkit dari duduknya.
"Kau lihat Dean? Kau saja tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat. Pakai kepalamu dan instingmu Dean. Pilihan ini saja kau tidak tahu! Bagaimana dengan persaingan bisnismu."
"itu jelas suatu hal yang berbeda Nek!"
"Kalau begitu pakai hatimu!" sentak Miranda.
Dean kembali diam, saat logika dan hatinya tidak sejalan. Jika boleh, mungkin saja dia akan memilih keduanya. Tapi jelas itu tidaklah mungkin.
"Tunggu apa lagi Dean!"
"Aku ... Mencintai Alexa Nek."
"Jadi kau memilihnya di bandingkan dua wanita itu?"
"Ya!" tegasnya kali ini,
Bagaimanapun juga tidak akan ada yang menggantikan Alexa, semua yang dilakukannya saat ini demi gadisnya itu.
"Baiklah kalau begitu! Kali ini Nenek menyerah, Nenek akan batalkan pernikahanmu dengan Selene. Tapi kau juga harus mengakhiri permainan bodohmu dengan Arlene."
Dean bangkit dan berjalan menghampiri Miranda yang berdiri menghadap ke arah jendela."Apa Nenek serius?"
"Dengan satu catatan, posisimu saat ini akan digantikan Orang lain. Nenek akan memindahkanmu ke perusahaan yang sedang kita rintis di selatan."
Dean tersentak. "Tapi Nek? Bukankah disana masih belum berjalan sempurna?"
"Ya ... Tugasmu lah yang akan membangunnya, buktikan kalau pemberontakanmu ini membuat Nenek tidak menyesal mengambil keputusan ini."
***
Dean berjalan menuju kamar, mempersiapkan diri untuk bicara pada Arlene tentang keputusannya bahwa Miranda berhasil diyakinkan, pernikahannya dengan Selena pun akan dibatalkan.
Suasana Mansion sudah sangat sepi, Dean menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai 2, perlahan namun pasti, akhirnya Dean tiba didepan pintu kamar.
Pria berlesung pipi itu pun teelihat mengambil nafasnya dalam sebelum akhirnya membuka pintu kamar. Terlihat Arlene tengah duduk di sofa single dengan membaca buku miliknya.
"Kau sudah kembali?" Arlene menutup buku lalu menyimpannya di atas meja.
__ADS_1
"Ya ...!"
Wanita itu tampak tersenyum, membuat hati Dean getir melihatnya. "Kita harus bicara Arlene."
Arlene mengangguk, dia yang hendak bangkit dari duduknya pun kembali terduduk. "Bicaralah."
"Begini ..."
Jujur Dean tidak mampu memulai pembicaraan, bagaimana dia mengatakan semua pada Arlene. Padahal dia yang selalu meyakinkan Arlene agar selalu percaya.
"Rencana sudah berubah! Semua yang aku rencanakan selama ini sudah gagal total." Dean akhirnya mulai bicara.
"Lalu?"
"Lalu aku pun sudah bicara pada Nenek mengenai hal ini, aku mengatakan semuanya!"
"Termasuk sandiwara kita?"
Dean menggelengkan kepalanya dengan lirih. "Nenek bahkan sudah tahu sebelum aku menceritakan semuanya."
"Benarkah?"
"Ya Arlene, saat kau bicara dengannya di taman belakang pun Nenek sudah tahu kalau kau hanya pura pura istri." tukas Dean yang kembali menghela nafas.
"Apa Nenek sangat marah? Apa dia mengusirmu. Mencoretmu di daftar ahli waris keluarga?" Arlene panik dengan wajah yang khawatir.
"Wah ... Akhirnya. Selamat Dean!" ujar Arlene dengan perasaan yang tidak karuan.
Kenapa aku memberinya selamat, ini kan akan jadi hal yang mengecewakan untukku! Dia tidak jadi menikah dengan Selena tapi mungkin dia juga akan menyuruhku pergi, tapi apakah Dean benar benar memiliki perasaan seperti yang dia bilang padaku. Jika ya ... Maka dia kan tetap menyuruhku tinggal. Ah ... Arlene jangan dulu menyimpan harapan terlalu besar. Kau bisa terjatuh dan kau akan merasakan sakitnya yang luar biasa. Kau harus siap apapun itu." batin Arlene.
"Jadi kau akan pergi ke selatan?"
Dean mengangguk, "Ya aku akan bersiap-siap untuk pergi ke selatan dan untuk itu ....!" Dean kembali mengambil nafas walau tidak terlalu panjang. "Mungkin aku akan mengakhiri kontrak kerjasama Kita!"
Deg
"Tapi kau tenang saja Arlene, aku akan tetap membayarmu penuh dan itu akan sangat cukup untuk hidupmu satu tahun ke depan, kau juga tidak usah khawatir karena aku akan mencarikanmu tempat tinggal yang layak untuk Alleyah." sambung Dean.
Dan ternyata dugaan Arlene memang benar, ia memang menaruh harapan terlalu tinggi, bahkan menyangka jika perasaan Dean itu memang nyata untuknya.
"Maaf kan aku, Arlene!"
"Maaf? Kenapa kau mengatakan Maaf, ini bukan salah mu Dean." Tukas Arlene, "Kau berhak memutuskan kerja sama ini kapanpun kau mau, terlebih jika tujuanmu sudah tercapai!" pungkasnya lagi.
__ADS_1
Arlene memang kecewa, namun dia juga tetap menahan agar rasa kesewanya tidak menjadi air mata. "Terima kasih Dean,"
Dean mengangguk, namun tidak dengan Arlene yang merasa tidak karuan.
"Aku Mohon maaf untuk semua yang pernah aku lakukan padamu, aku mungkin terbawa suasana dan entahlah ... aku pun tidak mengerti Arlene!"
"Ya aku mengerti, tidak usah meminta maaf." ucap Arlene dengan tersenyum menutupi kekecewaannya. "Kalau begitu kapan aku pergi dari sini?" lanjutnya lagi.
"Mungkin besok."
"Hah -besok, apa tidak terlalu cepat ... ah tidak ...tidak aku hanya terkaget," Arlene bangkit dari duduknya. "Baiklah aku akan bersiap-siap berkemas malam ini!"
"Aku akan mengantarkanmu!"
"Oke!"
Mereka berdua dalam keadaan sama-sama kikuk, entah apa yang mereka rasakan saat ini. Arlene membuka lemari, mengambil tas besar miliknya dan tas yang digunakan untuk perlengkapan Alleyah. Sementara Dean kembali mendesahh, mengambil nafas panjang dan membiarkan Arlene berkemas kemas.
"Dean, aku boleh membawa barang-barang ini?" tanyanya dengan menunjukan pakaian pakaian yang dia beli saat bersama Zoya.
"Yaa tentu saja. Itu milikmu!"
"Terima kasih! Apa aku juga boleh membawa ranjang untuk Alleyah?"
"Ya tentu saja, aku sudah memberikannya padamu. Aku membelinya khusus untuk Alleyah!"
Bicara soal Alleyah, bagaimana jika Alleyah yang selama ini menganggap Dean ayahnya sendiri nyatanya harus pergi, mimpi mimpi indah telah usai, harapan demi harapan sudah terlanjur pupus. Saatnya Arlene kembali ke pada kenyataan yang sebenarnya.
"Ya baiklah terima kasih!"
"Kau juga bisa membawa semua yang ku ingin bawa dari kamar ini."
"Apa menurutmu aku ingin bawa lemari, ranjang, sofa, meja? Maaf Dean, aku tidak serakah, aku hanya akan membawa ini saja." ujarnya dengan menunjukan wajah pemuh senyuman namun kedua manik coklatnya tidak bisa berbohong.
"Wah ternyata Tasku tidak cukup!" kelakar Arlene
"Kau boleh membawa koperku!"
"Tidak Dean, nanti aku harus mengembalikannya lagi!" "Tidak perlu kau kembalikan. Anggap saja itu kenang kenangan dari ku." Pungkas Dean.
Arlene bergeming, dia diam dan hanya bisa menggigit bibir dalamnya.
" Ya terima kasih, aku akan menerima kenang kenangan ini dengan hati yang senang." cicit Arlene.
__ADS_1
Ternyata perasaanmu tidak nyata Dean. Aku menyesal karena telah terlena dengan kata-katamu dulu, harapanku. Ah ....kau bodoh sekali dari awal Arlene. Kau bodoh. Batin Arlene kembali.
"Maafkan aku Arlene!"