Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.57


__ADS_3

Zoya menghentakkan kedua kakinya dan segera keluar dari kamar kakaknya dengan bibirnya tersungut, merasa tidak habis fikir dengan sikap kakaknya yang mempermainkan wanita terlebih mempermainkan perasaan wanita yang dia cintai lepas dari dengan siapa wanita itu. Apakah Arlene ataukah Alexa yang berhubungan dengannya selama ini.


"Aku heran. Kalau kak Dean punya pacar, kenapa dia tidak langsung membawanya pulang, malah membawa kakak ipar yang polos dan juga Alleyah yang tidak tahu apa apa." gumam zoya seraya berjalan ke arah lift untuk menuju kamarnya.


"Itu karena kakak kesayanganmu itu terlalu banyak tingkah, membohongi kita semua dan sekarang kena batunya, nenek menyuruhnya untuk pergi ke wilayah utara dan mengurus perusahan yang mangkrak disana, kau tahu itu artinya apa? Dia harus memperbaiki semuanya mulai dari sana. Dan kau tahu, bukan hanya wanita tidak jelas itu yang jadi korban, tapi kita semua, dan juga Selena." ujar Sorra yang ternyata mendengar ucapannnya sejak tadi.


Zoya menatapnya tajam, dia memang tidak pernah suka pada Selena yang digadang gadang akan di menjadi calon istri Dean dan memang berharap pertunangan mereka batal.


"Aku bersyukur itu tidak terjadi, karena kalau itu terjadi semua pasti kekecewaan kita semua lebih parah dari ini!"


Sorra berdecih, "Kau tahu apa, kau ini masih kecil tidak akan mengerti apa apa."


"Kau salah kak, aku tahu dan aku bukan anak kecil yang tidak tahu apa apa, kak Sorra akan bersyukur nanti karena pernikahan kak Dean dan si wanita iblis itu batal, kalau tidak, kak Sorra akan menyesal nanti." tukas Zoya dengan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Kakak perempuannya yang selalu sentimen padanya dan juga pada Dean.

__ADS_1


Melihat Zoya masuk ke dalam lift menuju kamarnya dilantai paling atas, Sorra mendengus kesal namun juga tetap berdiri ditempatnya, tidak mengikuti seperti yang di lakukannya terhadap Dean.


"Dasar bocah tengil!"


Sementara itu Arlene tengah resah, dia tidak bisa memejamkan kedua matanya, padahal jam sudah menunjukan jam tengah malam dan posisinya sudah terbaring di atas ranjang milik Dean yang berukuran besar dan juga hangat. Bayangan ciuman mereka berdua yang tidak juga pergi sedikitpun sekalipun Arlene berusaha memejamkan mata, namun wajah Dean dan sentuhan lembutnya terus membuatnya resah. Kebodohan dirinya untuk kesekian kali membiarkan Dean melakukan hal sesuka hatinya. Terlebih, lagi lagi dia tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya.


Kehadiran Baron yang membuatnya serba salah dan ketakutannya selama ini terhadap pria kejam yang suka menyiksanya dan memperlakukannya bak seekor binatang, dan dipastikan dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkan tujuannya.


"Tidak .... Tidak, aku harus bersyukur karena Dean datang tepat waktu, dan dia menyelamatkan ku dari Baron, coba kalau tidak ada Dean, aku sudah pasti akan jauh menderita lagi dibandingkan dulu karena Baron tidak akan mungkin melepaskanku lagi." cicitnya dengan menggelengkan kepalanya berulang kali,


Arlene menghela nafas, satu satunya jalan adalah tinggal di apartemen itu dan mendapat penjagaan dari supir Dean agar tetap aman sampai situasi membaik, itu artinya dia akan terus berhubungan dengan Dean yang sempat memberinya janji namun tidak bisa dia tepati janjinya sendiri, helaan panjang kembali terdengar lirih, berharap situasi ini segera berakhir dan dia bisa pergi sejauh mungkin tanpa gangguan Baron maupun harus kembali berkaitan dengan Dean.


"Sabar Alleyah, mama janji akan membuatmu keluar dari situasi ini dan kita akan hidup bahagia layaknya orang lain tanpa adanya ketakutan sama sekali," gumamnya dengan mengelus rambut hitam milik Alleyah yang lembut.

__ADS_1


"Aku harus segera memcari tempat untuk pergi dari sini setelah semuanya membaik, tanpa mereka yang hanya bisa menyakiti kita, bersabarlah sedikit lagi Arlene, kau pasti bisa." ujarnya dengan berusaha menyemangati dirinya sendiri."


Tok


Tok


Arlene terperanjat saat mendengar suara ketukan di pintu, dia bangkit namun hanya menatap ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka takut takut ada yang masuk dan melakukan sesuatu padanya, wanita berusia 24 tahun itu pun turun dan langsung menutup pintu kamar dan langsung menguncinya.


"Arlene ... Buka Arlene, aku merindukanmu! Kembalilah padaku."


Baron menggedor gedor pintu unit apartemen dalam ke adaan mabuk berat, sementara supir pribadi keluarga Mcdermott terkapar dilantai dengan kepalanya yang berdarah.


Teriakan Baron semakin keras, memutar mutar knop pintu dengan kasar dan sesekali menendangnya.

__ADS_1


"Arlene buka pintunya, aku tahu kau di dalam sendirian dan kesepian. Biarkan aku datang dan menghangatkanmu!"


__ADS_2