
"Salah ... Sangat salah, kau hanya membuat mata anak anak tercemar!"
Dean terkekeh, seraya melirik kearah kumpulan anak anak. "Mereka tidak melihat kita sayang, mereka asyik bermain."
"Ya tetap saja," Arlene tersipu malu memutar bola matanya.
"Mau pergi ke suatu tempat selagi menunggu Alleyah pulang?" Dean menggenggam tangannya, membawanya masuk kedalam mobil, Arlene mengernyit.
"Mau kemana?"
Dean hanya tersenyum, menutup pintu mobil setelah Arlene masuk, dia pun bergegas masuk ke pintu kemudi.
"Dean? Kita mau kemana?"
"Kau akan tahu nanti, sekarang kau duduk dengan tenang dan lihat saja, kalau perlu kau tidur saja."
"Apa tempatnya jauh, kita tidak bisa pergi jauh jauh Dean, Alleyah pasti akan mencari kita nanti."
Dean menoleh dengan terkekeh kecil, "Tidak sayang, kita tidak akan meninggalkan putri kita, kita akan selalu bersamanya sampai kapan pun."
Arlene tersenyum mendengarnya, "Janji?"
Den mengangguk kecil, wajah tampannya berseri begitu meyakinkan. "Janjiiii sayang ..."
Keduanya larut dalam tawa yang membahana, dengan tangan yang saling menggenggam erat. Hingga keduanya tiba di sebuah tempat yang tidak begitu jauh.
"Ini tempatnya? Aku baru tahu kalau ada tempat sebagus ini di sini."
"Tentu saja, kau sibuk bekerja sayang, tidak ada waktu untuk pergi sesuka hatimu kan?"
"Kau meledekku?"
"Tidak!" Dean terkekeh,
"Iya ... Kau meledeku, apa karena aku menganggur sekarang?"
Dean masih terus terkekeh,
"Iya kau meledekku karena aku pengangguran Tuan Dean!" Arlene mencebikkan bibirnya.
Dean menangkup wajahnya dengan lembut, senyum dibibirnya kembali mengembang dan tatapannya sangat dalam, lalu mengecup sekilas bibirnya. Namun Arlene segera mendorongnya menjauh.
"Kau senang?"
"Ya ... Aku senang kau tidak bekerja sayang, aku senang kau memilih jadi pengangguran. Kau cukup habiskan waktumu dengan Alleyah dan aku akan menjamin hidupmu selamanya." ucapnya dengan mendaratkan kecupan dikening Arlene.
__ADS_1
Hampir saja Dean berhasil membuatnya menangis, namun dia masih menahannya, tidak menyangka ada seorang pria yang benar benar menginginkannya dan juga putrinya bahagia setelah banyaknya liku liku kehidupan berat yang dia lalui seorang diri.
"Kau ingin menangis? Menangislah di bahuku." Dean menepuk bahunya.
"Ish ... Kau ini, siapa yang ingin menangis, aku hanya tidak bisa berkata kata saja."
***
"Apa aku ini jadi pengganggu di hubungan kalian? Sampai kalian pergi dan tidak ajak aku, meninggalkanku di sini bersama Miss Rona?"
Itulah kata kata protes yang pertama kali di dengar saat keduanya kembali tiba di sekolah, Alleyah sudah berdiri dengan tas kecil yang tersampir di bahunya. Tangan kecilnya menggenggam tangan Miss Rona dengan wajah cemberut, guru yang katanya besty dirinya.
"Alleyah tidak boleh seperti itu pada Mama dan Papa ya."
Setahu mereka, Dean dan Arlene adalah kedua orang tua Alleyah, sebab surat surat yang di gunakan untuk mendaftar adalah surat yang dahulu Dean pakai untuk keterangan pernikahannya yang ternyata asli.
"Mereka jahat Miss Rona, mereka gak ajak aku pergi karena mereka gak mau di ganggu!"
Dean berjongkok menghadapnya, mensejajarkan tingginya dengan Alleyah. "Mana mungkin kami menganggapmu pengganggu sayang, kami hanya terlambat sedikit saja."
"Papa Dean bohong, buktinya Papa Dean cuma ngajak Mama, aku gak di ajak!"
Arlene menggeleng heran, putri kecilnya itu memang cerdas dan terkadang lebih dewasa dibandingkan usianya.
Alleyah mendengus kesal pada Dean, lalu berhambur ke arah sang ibu dengan melewati Dean yang masih berjongkok di depannya.
Sepanjang perjalanan Alleyah masih terus marah, berulang kali Dean meminta maaf karena terlambat menjemputnya, namun tidak membuatnya luluh. Bakat alami seorang wanita yang tidak pernah mau mengalah dan selalu benar itu memang terlihat sedari kecil. Sementara Arlene yang duduk di kursi belakang pun hanya cekikikan melihat keduanya.
"Apa Papa Dean hanya sayang sama Mama saja? Kenapa tidak menunggu aku pulang dan pergi bersama, aku tidak akan mngganggu keharmonisan kalian berdua."
"Astaga Leyah ... ucapanmu terlihat seperti anak belasan tahun saja!" cicit Arlene di belakang.
"Sttthhh ... Dia sangat posesif dan pencemburu." sela Dean,
"Tidak ... Aku tidak cemburu!" Kedua manik kecil Alleyah menyalang pada pria yang dia anggap papa kandungnya. "Apa itu cemburu Mama?" katanya lagi dengan menoleh ke arah belakang,
Arlene mengedik geli, bisa bisanya bocah kecil itu membuatnya heran.
"Cemburu itu tidak memperbolehkan Papa dan Mama pergi berdua, terus marah padahal Papa sudah meminta maaf berulang kali, Papa janji tidak akan terlambat lagi."
Alleyah mendengus, masalahnya dia bukan marah karena mereka berdua terlambat menjemputnya, tapi karena mereka tidak mengajaknya pergi.
"Dan Papa juga janji akan selalu ajak kamu ya Leyha, sudah marahnya!" lanjut Dean seraya berhenti di sebuah pusat permainan, sesuatu yang bisa membuat Alleyah lupa akan kemarahanya, "Sebagai gantinya Papa ajak kamu bermain dan Mama hanya menunggu kita seperti biasa ya."
Senyum Alleyah kini mulai merekah, kedua matanya terus beredar saat mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam sana. Benar benar lupa jika dia sedang marah marah.
__ADS_1
"Kau memang pintar membujuk!" bisik Arlene dengan mengecup pipi Dean, "Terima kasih!"
Dean mengangguk, mencubit gemas hidung Arlene, "Aku harus mendapatkan hati dua wanita dan bersikap adil sebab mereka berdua sangat pencemburu!"
"Ish ..."
"Aw ... Sakit sayang," pekiknya saat Arlene mencubit lengannya.
Tiba tiba Alleyah menarik tangan Dean, dan menjauhkannya dari sang ibu, "Hari ini Papa milik Leyah, Mama tidak boleh dekat dekat, Mama lihat aja di sana!" dengusnya dengan menunjuk sebuah kursi kosong.
Dean terkekeh mengangguk, sementara Arlene mendengus pelan, "ish ... kalian ini jahat sekali"
Arlene benar benar bahagia melihat kedekatan mereka berdua, bagaimana sikap Dean yang benar benar menyayangi putrinya lebih dari siapapun dan bagaimana sayangnya Alleyah padanya, bahkan ia tidak mau Dean dekat dekat dengan wanita di sana, dia selalu menarik tangan Dean jika berpapasan dengan para ibu ibu yang tengah menunggui anaknya bermain.
Tidak ada kebahagiaan yang melebihinya, Arlene menghapus matanya yang sedikit basah.
***
"Aku akan segera mengurus pernikahan kita Arlene ... Aku paling benci saat harus pulang seperti ini!" Ucap Dean dengan menggendong Arlleyah yang tertidur dan menunggu Arlene membuka pintu rumah.
"Kau bisa menginap di sini kalau kau mau!" Arlene masuk lebih dulu untuk segera membuka pintu kamar Alleyah.
"Apa aku boleh?"
"Tentu ... Supaya Alleyah bisa kau antar kesekolah besok pagi,"
"Hey ... Kau fikir aku supirmu Nyonya?" teriak Dean dari kamar Alleyah dan langsung keluar dari sana setelah menidurkannya
Tawa Arlene tertahan karena Dean langsung merengkuh pinggangnya, mengecup pipinya dari belakang hingga Arlene berjingkat kaget.
"Aku ingin tidur dan bagus di tempat yang sama denganmu setiap hari, fikiranku kacau karena terus memikirkanmu sepanjang malam."
"Dean ...!" Arlene tertawa geli. "Ya baiklah, kau bisa tidur di sofa."
"Kenapa tidak dikamar, kau tega melihatku tersiksa tidur di sofa yang keras?" Sekali tarikan saja Dean menarik pinggang Arlene hingga menghadap ke arahnya. "Hm ... Kau tega padaku, pada pinggangku?"
Arlene mengalungkan tangan pada leher Dean, tersenyum dengan rona merah di pipinya.
"Malam ini saja!"
"Benarkah? Kau serius ...?"
Arlene mengangguk kecil serta mengangguk.
"Hanya malam ini!"
__ADS_1