Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.96


__ADS_3

"Aku ingin pulang! Tolong antar aku pulang."


Arlene terus berjalan keluar dengan menitikkan air matanya, rasanya masih tidak percaya pria baik dan penolong itu berkata kasar terhadapnya.


"Ini memang salahku, harusnya aku tidak datang kemari bersama Dean, harusnya aku tidak kembali padanya, harusnya aku...." gumamnya seorang diri.


Dean mengejarnya, begitu juga dengan Zoya, gadis itu menoleh lebih dulu ke arah belakang dimana Robin berdiri dengan wajah penuh amarah.


Mereka akhirnya masuk kedalam mobil, Dean langsung menanjap pedal gas dan segera melaju pergi dari sana,


"Mama ... You ok?" tanya Arlene yang berada di pangkuannya.


Dean menoleh ke arah spion kaca, begitu juga Zoya yang berada di kursi depan. Arlene mengangguk dengan senyuman getir yang dia perlihatkan pada putrinya.


"Apa uncle Robin jahat?"

__ADS_1


'No ... uncle tidak jahat sayang."


"Lalu kenapa Mama sedih? Uncle Robin jahat karena memukul Papa. Aku benci Uncle Robin." ujarnya lagi.


Arlene terdiam, dia tidak ingin mengajarkan kebencian pada putri semata wayangnya tersebut, sekalipun dia sendiri baru tahu ucapan Robin sangatlah jahat. Apa mungkin selama ini dia tidak tulus menolongnya, dia juga tidak tulus mncintainya, tapi dia juga masih merasa bersalah karena tidak memegang prinsipnya dengan kuat jika dia telah memilih pria itu dari pada Dean.


Dean masih terdiam, dia tidak ingin membuat suasana semakin kacau terlebih ada fikiran anak kecil yang harus dia jaga. Dan selama perjalanan mereka semua terdiam sampai akhirnya mereka tiba di rumah Arlene, rumah pemberian Robin yang dia tinggali selama berada di kota ini.


Arlene menghela nafas, tidak pantas rasanya jika masih terus tinggal di rumah pemberian Robin untuknya, begitu juga dengan pekerjaannya di kantor Robin.


"Zoya ... Tolong bawa Alleyah masuk, aku ingin bicara dengan Arlene." ucap Dean pada Zoya.


Mereka berjalan bersampingan, sampai berada di sebuah taman yang tidak jauh dari sana.


"Dean ... Aku minta maaf atas perlakuan Robin padamu." ujarnya dengan menatap luka di pelipisnya yan kini tertutup plester luka..

__ADS_1


"Aku tidak apa apa Arlene ... Aku yang harusnya minta maaf padamu, aku yang menyebabkan semua kekacauan ini dan membuatmu bingung. Maafkan aku!"


sahut Dean dengan menarik tangan Arlene dan menggenggamnya.


Arlene menggelengkan kepalanya. "Aku yang salah dalam hal ini, aku yang mempermainkannya, dan aku juga yang membuatnya marah, aku yang salah!" Arlene menundukkan kepala sedih.


"Hey ... Kau tidak salah, kau hanya baru tahu saja jika Robin memang seperti itu, Jangan salahkan dirimu, aku yang akan bicara padanya nanti." ujarnya dengan menangkup wajah wanita berusia 24 tahun itu dengan lembut dan menengadahkannya hingga dia dapat melihat air bening itu turun secara perlahan dari manik coklatnya. "Jangan menangis lagi, aku akan bicara pada Robin nanti dan memperbaiki semuanya."


"Apa yang akan kau kaatakan padanya Dean, aku sendiri yang mengacaukan semuanya Dean, bukan kau!Tapi aku yang menghancurkan semuanya." lirihnya dengan mulai terisak isak.


"Maafkan aku Arlene ... Aku yang akan bertanggung jawab, kau dengar itu. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya, cepat atau lambat semuanya memang akan terjadi, bukankah lebih cepat lebih baik. TInggal aku yang akan bicara pada Alexa."


"Aku tidak bis membayangkannya Dean, apakah kita tidak seharusnya menyakiti mereka?"


Dean menggelengkan kepalanya, "Justru itu aku tidak ingin terus hidup dalam kebohongan Arlene, aku mencintaimu, dan aku ingin hidup denganmu,"

__ADS_1


Tangisan Arlene semakin menjadi jadi setelah mendengarnya, dan Dean teus meyakinkannya. Sampai akhirnya Arlene mengangguk lirih dan berhambur memeluk Dean.


"Jangan menangis lagi, aku tidak akan membiarkanmu dalam kesulitan, apapun itu.aku akan tetap memilihmu."


__ADS_2