Pura Pura Istri

Pura Pura Istri
Bab.76


__ADS_3

"Robin ... Aku!"


Arlene menarik dirinya sedikit ke belakang, hingga Robin sadar dan juga memundurkan kepalanya.


"Maaf Ley, aku tidak sadar melakukannya."


Leyka alias Arlene menganguk lirih, tapi dengan cepat dia kembali membenahi posisi duduknya yang sejak tadi mulai tidak nyaman. Ciuman singkat itu tidak membuat hatinya hangat, apalagi berdebar.


Berbeda dengan Robin yang memang sudah jatuh cinta pada Arlene sejak lama.


Robin melanjutkan mobilnya kembali, kali ini dia melaju dengan kecepatan tinggi.


Mereka berdua kembali ke rumah yang ditempati Arlene.


"Arlene ... Kalau kau tidak sungguh sungguh ingin melakukannya, jangan lakukan. Aku takut kau akan menyesal karena jika kau sudah menjadi istriku, maka aku tidak akan pernah bisa melepaskan mu lagi. Fikirkanlah sebelum memutuskan, sekalipun bagimu pernikahan ini hanya sekedar pelarian belaka, tapi tidak untukku. Ini sangatlah berarti bagiku Ley, kau tahu kan bagaimana aku menjaga perasaanku selama ini padamu?" Ujarnya dengan tegas.


Membuat Arlene terdiam dan mencerna setiap kata yang diucapkan Robin untuknya.


Tapi hal itu lebih baik, sekalipun dia tdak pernah percaya apa yang namanya cinta tumbuh karena terbiasa. Itu tidak berlaku baginya.


Pernikahan yang dia harapkan bahagia pun tidak pernah terjadi. Yang ada, dia hanya dapatkan siksaan dan makian dari pria yang dia fikir mencintainya saja.


Baginya cinta itu datang tanpa diminta, dia datang begitu saja sekalipun kita tidak menginginkannya, buktinya saja dia memiliki rasa pada Dean yang tidak pernah dia kenal, perasaan yang tumbuh sendiri tanpa kita sirami atau bahkan berikan pupuk yang akan membuatnya tumbuh dengan subur.


"Ley .. You ok?" tanya Robin dengan lembut.


Arlene terperanjat kaget karena sentuhan tangan Dean pada lengannya "Ah ... Iya, aku tidak apa apa,"


"Mungkin kau hanya perlu waktu untuk berfikir saja Ley!"


"Mungkin Robin, fikiranku tidak karuan, maafkan aku."


Robin menggelengkan kepalanya. "Sudah berapa kali kau meminta maaf hari ini padaku Ley, sudahlah, fikirkan apa saja yang aku ucapkan, kalau kau mau berubah fikiran, cepat kabari aku ... Jujur aku tidak suka menunggu hal terburuk sekalipun, mengerti Ley?" ujar Robin dengan mengelus kembali kepala Arlene, lalu mengelus kepala Alleyah yang kini sudah terlelap di pangkuan sang ibu.


Mobil akhirnya tiba di pekarangan rumah yang ditempati Arlene, Robin mematikan mesin mobil lalu keluar dari dalam mobill. Pria itu berjalan ke arah sebaliknya untuk membukakan pintu mobil.


Dimana Arlene sedikit kesulitan keluar karena posisi tidur Alleyah.

__ADS_1


"Berikan putrimu padaku. Aku akan mengantarkannya ke kamar." ujarnya segera mengambil Alleyah yang tengah tertidur pulas.


Melihat Robin seperhatian itu pada putrinya membuat Arlene terdiam dengan menatap pria tinggi yang kini masuk kedalam rumah. Namun hatinya tetaplah tidak merasa tenang, justru sebaliknya. Dia merasa gundah dan resah.


"Ley ..." serunya dari ambang pintu, "Kau masih ingin terus melamun? Ayo masuk, cuaca saat dingin, kau bisa sakit!" ujarnya memanggil.


Seperhatian itu Robin terhadapnya tetap saja tidak memuat hatinya bergetar, tapi Robin adalah kandidat calon suami yang terbaik menurutnya, Dean tidak akan mengganggunya lagi jika tahu mereka menikah.


"Ya ... Aku akan masuk." cicitnya pelan seraya bergegas masuk.


Entah kapan Robin menyiapkan susu hangat untuknya, yang jelas kini pria itu menyodorkan satu gelas susu coklat.


"Minumlah selagi hangat, aku mencampurnya dengan sedikit bubuk ginger agar membuat tubuhmu hangat Ley."


Arlene menerima gelas dari tangannya. "Robin ... Kau tidak perlu melakukan semua ini. Aku ..."


Ucapan Arlene terhenti saat robin menempelkan jari telunjuknya tepat dibibirnya.


"jangan katakan apapun, jika kau menarik ucapanmu soal pernikahan ini, aku akan tetap memperjuangkanmu sampai kau sadar jika aku memang pantas menjadi pria yang bisa kau andalkan!" ujar Robin dengan sungguh sungguh, kedua matanya bahkan berbinar saat mengatakan hal sedalam itu.


"Tidak peduli seberapa kali kau akan kecewa, hati ku tetap inginkan kau yang jadi pendampingku, bukan yang lain Ley!"


"Aku ... Aku menerima lamaranmu Robin!"


Robin yang berdiri di hadapannya terperanjat kaget, dengan bibir yang mulai mengulas sedikit demi sedikit hingga akhirnya mengembang sempurna.


"Maksudmu? Kau ... Kita menikah?" ujarnya tergagap.


Wajah Arlene tersipu malu, dengan semburat kemerahan yang tampak jelas terlihat di wajahnya disertai anggukan kecil.


"Ya ... Aku harus terus berjalan ke depan bukan? Aku pantas bahagia bukan?"


Robin tentu saja mengangguk kemudian dia merengkuh bahu Arlene dan menariknya dalam pelukannya.


"Tentu saja ... Tentu saja Arlene, kau pasti akan bahagian, aku akan membahagiakan dirimu pasti."


***

__ADS_1


Sementara Dean kini uring uringan tidak jelas di dalam kamar di apartemennya. Dirinya terus merasa memikirkan Arlene, juga tatapan Alleyah yang datar seolah tidak mengenalnya lagi.


Botol botol wine sudah tampak kosong di atas meja, entah seberapa banyak dia menghabiskan wine. Yang jelas dia sangat mabuk dan juga meracau kemana mana.


"Arlene ... Aku tidak tahu kenapa seberat ini kehilanganmu. Padahal aku tidak begitu mencintaimu juga. Ah ... Aku mencintaimu Arlene, sangat mencintaimu." ujarnya.


Dean meracau kemana mana, sampai Alexa datang dan melihatnya sendiri.


"Dean apa yang terjadi? Kau tidak pernah mabuk seperti ini sebelumnya. Kau ini kenapa?"


Dean menoleh padanya, lalu dia terkekeh melihat kekasih sekaligus calon istrinya itu.


"Alexa sayang, kenapa kau ada di sini, bukankah kau sibuk dan sulit bertemu denganku karena kau terus bekerja? Sampai kau tidak memiliki waktu bersama calon suami mu ini? Ah ... Calon suami macam apa aku ini. Maaf Alexa, aku sudah mengkhianatimu dengan menyukai wanita lain, wanita yang selama ini ada tapi aku tidak melihatnya, wanita yang tiba tiba muncul dan mencuri hati calon suamimu ini." Racau Dean yang menghempaskan tubuhnya yang tidak berdaya ke arah sofa.


Alexa terperangah mendengarnya apa yang dikatakan Dean, dia melangkahkan kaki ke arahnya dan mengguncangkan kedua bahunya.


"Apa yang kau katakan Dean? Siapa yang kau maksudkan? Kau berkhianat dibelakangku?"


Dean menggelengkan kepalanya, "Dia bukan siapa siapa, dia juga bukan tifeku tapi dia berhasil membuatku jadi begini, dia ... Di..." Dean meraup wajahnya dengan kasar, lalu menatap wajah Alexa dengan kedua mata merah dan sayu miliknya.


"Alexa kita lebih baik berpisah sementara waktu saja, aku tidak sanggup hidup seperti ini." ujarnya kemudian bangkit dan berjalan ke arah kamar dengan sempoyongan.


Alexa mengejarnya dengan masuk ke dalam kamar dan melihat Dean membantingkn tubuhnya ke atas ranjang berukuran besar.


"Apa maksudmu dengan kita berpisah Dean, bagaimana dengan rencana pernikahan kita?"


"Batalkan saja, aku akan mengganti kerugianmu, katakan saja nominalnya berapa?"


"Dean ... Kau?"


"Maaf Alexa, aku pusing dan aku mau tidur! Tutup kembali pintu saat kau keluar."


"Dean!! Kau tidak bisa begini." Alexa melemparkan bantal tepat ke arahnya, dia juga memukul punggung Dean dengan brutal. "Kau tidak bisa seenaknya saja begini Dean!"


Sampai Dean hilang kesabaran dan bangkit kembali.


"Kenapa aku tidak bisa Alexa? Kau saja tidak memberikan kepastian tentang rencana pernikahan kita, lalu aku harus terus menunggu mu. Sampai kapan? Aku lelah dengan semua ini Alexa aku bodoh dan aku bersalah padamu, jadi lebih baik kau tinggalkan aku ini. Aku pegecut dan aku juga pecundang." ujarnya terus meracau,

__ADS_1


"Dean. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, kau apa imi benar benar kau?"


__ADS_2